Gubernur Bali Apresiasi Peran Puskor Hindunesia, Buka Resmi Seminar Nasional “Menjaga Warisan Peradaban Bali”
DENPASAR, Suara Puskor Hindunesia – Rangkaian peringatan Hari Jadi ke-23 Pusat Koordinasi Hindu Indonesia (Puskor Hindunesia) ditandai dengan penyelenggaraan Seminar Nasional bertajuk “Menjaga Warisan Peradaban Bali”. Acara yang mempertemukan para tokoh agama, cendekiawan, pemangku adat, dan sukarelawan ini dibuka secara resmi oleh Gubernur Bali yang pada kesempatan ini diwakili oleh Kepala Kesbangpol Provinsi Bali, Bapak Gede Suralaga, S.IP., M.Si.
Dalam sambutan tertulis yang dibacakan oleh Bapak Gede Suralaga, Gubernur Bali menyampaikan rasa ayubagya dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada keluarga besar Puskor Hindunesia. Perjalanan 23 tahun lembaga ini dinilai sebagai sebuah pengabdian panjang dalam menjaga api peradaban dan identitas kehinduan di tengah gempuran ideologi global.
“Lembaga ini lahir dari kerinduan akan adanya koordinasi yang kuat di antara umat untuk memastikan bahwa identitas kehinduan dan kebalian kita tetap tegak,” papar Bapak Gede Suralaga saat membacakan sambutan tersebut.
Sinergi dengan Visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali
Pemerintah Provinsi Bali menilai bahwa tema yang diusung dalam seminar ini memiliki resonansi yang kuat dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali. Visi ini berakar pada kearifan lokal Sad Kerthi yang bertujuan untuk menjaga kesucian dan keharmonisan alam Bali beserta isinya.
Gubernur menyoroti bagaimana seminar ini secara langsung menopang pilar-pilar kesejahteraan, seperti Atma Kerthi (mencerdaskan jiwa umat), Jana Kerthi (melahirkan manusia Bali yang tangguh secara batin dan budaya), serta bermuara pada Jagat Kerthi demi mewujudkan Bali yang harmonis untuk anak cucu ribuan tahun ke depan.
Tantangan Merawat Taksu di Era Digital
Lebih lanjut, sambutan tersebut memberikan penekanan kritis terhadap kondisi kebudayaan Bali saat ini. Menjaga warisan peradaban dinilai bukan lagi sekadar pertanyaan akademik, melainkan urusan hidup dan mati bagi wajah Bali di masa depan.
Pemerintah secara jujur mengakui adanya godaan modernitas tanpa filter, di mana seni dan budaya kerap kali hanya disesuaikan dengan selera pasar wisata, sementara nilai-nilai Tattwa terpinggirkan oleh layar gawai.
“Yang paling mengkhawatirkan adalah kecenderungan untuk memandang budaya Bali semata sebagai komoditas ekonomi yang dijual, bukan sebagai taksu yang dihidupi,” tegasnya. Budaya Bali diingatkan kembali sebagai sebuah cara hidup yang menyatukan manusia, alam, dan Tuhan dalam sebuah harmoni.

Pemukulan Gong sebagai Simbolis Pembukaan
Di akhir sambutannya, Gubernur Bali berharap agar rumusan hasil dari seminar ini tidak hanya menjadi wacana, tetapi menjadi dokumen hidup yang berdampak konkret dan dapat menjadi masukan bagi arah kebijakan Pemerintah Provinsi Bali ke depan.
Prosesi pembukaan Seminar Nasional ini kemudian disahkan secara simbolis melalui pemukulan Gong. Bapak Gede Suralaga, mewakili Gubernur Bali, didampingi oleh Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Puskor Hindunesia, Ketua Panitia Seminar, Pembina, dan jajaran elit pengurus lainnya di atas panggung. Acara ini juga dirangkaikan dengan penyerahan bantuan secara langsung dari Gubernur Bali kepada Panitia Seminar Nasional Puskor Hindunesia.
Link Berita Kesbangpol Provinsi Bali : https://kesbangpol.baliprov.go.id/mewakili-gubernur-bali-kaban-kesbangpol-buka-seminar-nasional-puskor-hindunesia-ke-23-di-denpasar/
Special Thanks to : Relawan Dharma Tim Publikasi & Dokumentasi serta Ketut Arianto untuk foto-fotonya
FAQ (Frequently Asked Questions)
Apa tema Seminar Nasional Puskor Hindunesia tahun ini? Tema yang diusung dalam Seminar Nasional ini adalah “Menjaga Warisan Peradaban Bali”, yang bertujuan untuk merespons tantangan globalisasi dan digitalisasi terhadap nilai-nilai adat, budaya, dan spiritualitas di Bali.
Siapa yang membuka Seminar Nasional Puskor Hindunesia ke-23? Acara dibuka secara resmi oleh Gubernur Bali, yang diwakili oleh Kepala Kesbangpol Provinsi Bali, Bapak Gede Suralaga, S.IP., M.Si.
Bagaimana pandangan Pemerintah Provinsi Bali terhadap tema seminar ini? Pemerintah memandang tema tersebut sangat relevan dan sejalan dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali. Seminar ini dinilai sebagai langkah nyata dalam mengamalkan nilai Atma Kerthi, Jana Kerthi, dan Jagat Kerthi untuk menjaga taksu Bali dari ancaman komodifikasi budaya.
Apa pesan utama dari Gubernur Bali untuk peserta seminar? Gubernur berpesan agar kebudayaan Bali tidak sekadar dijadikan komoditas ekonomi atau daya tarik pariwisata semata, melainkan harus dipertahankan sebagai cara hidup (way of life) yang harmonis. Beliau juga berharap hasil rumusan seminar dapat menjadi masukan konkret bagi kebijakan pemerintah daerah ke depannya.










