Menggugat “Suksma Leluhur”: Jero Penyarikan Duuran Batur Bedah “Kamuflase Kerti” dan Keruntuhan Peradaban Air
DENPASAR – Peradaban Bali sedang berada di persimpangan jalan yang berbahaya. Dalam Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh Puskor Hindunesia kemarin, Jero Penyarikan Duuran Batur (I Ketut Eriadi Ariana), akademisi Sastra Jawa Kuno sekaligus Penyarikan Pura Ulun Danu Batur, menyampaikan orasi kebudayaan yang menggetarkan nurani. Beliau meluncurkan kritik tajam bertajuk “Suksma Leluhur!”—sebuah ungkapan satir untuk menggambarkan pengkhianatan generasi masa kini terhadap warisan luhur yang telah menjaga Bali selama berabad-abad.
Bali: Peradaban Air yang Terancam
Jero Duuran Batur menegaskan bahwa identitas Bali secara fundamental adalah peradaban air. Berdasarkan teks Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul, Bali dianugerahi Ighama Tirthāmrěta Śiwambhā, air suci yang menjadi nadi kehidupan dan spiritualitas. Namun, lanskap yang dibangun di atas pilar tata nilai, pengetahuan, dan ruang kebudayaan ini kini sedang dipreteli oleh kepentingan pragmatis.
“Kita sering berteriak menjaga Bali, namun yang terjadi adalah ‘Kamuflase Kerti’—sebuah pelestarian yang hanya tampak di permukaan, sementara esensinya sedang dihancurkan,” ungkap beliau di hadapan peserta seminar.

Ironi “Suksma Leluhur!”
Konsep “Suksma Leluhur!” diangkat sebagai cermin retak bagi masyarakat Bali. Jero Penyarikan Duuran Batur membedah tiga poin krusial yang menandai kehancuran identitas ini:
- Pewarisan Tata Nilai yang Patah: Ajaran ekologi dan teologi air dari para leluhur tidak lagi diwariskan secara utuh, melainkan hanya menjadi simbol tanpa makna.
- Privatisasi dan Alih Fungsi Ruang: Ruang-ruang suci dan agraris seperti hutan, danau, dan sawah yang dulu dijaga ketat, kini masif dialihfungsikan dan diprivatisasi demi komoditas pariwisata. Beliau menyoroti berbagai isu aktual, mulai dari pembabatan mangrove hingga wacana operasional kapal pesiar di Danau Batur yang suci.
- Krisis Kesetiakawanan Sosial: Fondasi solidaritas sosial masyarakat Bali kian terkikis, digantikan oleh fragmentasi dan ego sektoral yang merusak tatanan desa adat dan subak.

Refleksi Akhir: Menanti Titik Balik
Sebagai penutup yang menohok, beliau mengutip Kakawin Siwaratrikalpa yang melukiskan suasana kehancuran peradaban: sebuah kondisi di mana tempat suci terbengkalai, saluran irigasi kering, dan bunga-bunga kemuning berguguran dalam kesunyian yang duka.
“Suksma Leluhur!” bukan lagi sekadar ucapan terima kasih, melainkan sebuah tuntutan bagi generasi hari ini untuk berhenti menjadikan budaya sebagai komoditas dan mulai kembali pada pemuliaan alam yang nyata sebelum peradaban air ini benar-benar menjadi sejarah.
FAQ (Pertanyaan Yang Sering Ditanyakan_
Apa yang dimaksud dengan “Suksma Leluhur” menurut Jero Penyarikan Duuran Batur? “Suksma Leluhur” secara harafian adalah ucapan terima kasih kepada leluhur. Namun dalam konteks presentasi Jero Penyarikan Duuran Batur kali ini, “Suksma Leluhur” disini adalah ungkapan satir atau ironi untuk mengkritik generasi Bali saat ini yang menikmati warisan leluhur namun secara perlahan menghancurkannya melalui alih fungsi lahan dan pengikisan nilai spiritual.
Apa itu “Kamuflase Kerti”? Istilah yang digunakan untuk menggambarkan upaya pelestarian budaya yang hanya bersifat kosmetik atau permukaan (seperti festival), namun gagal melindungi substansi atau ruang hidup kebudayaan itu sendiri.
Mengapa peradaban Bali disebut sebagai peradaban air? Karena secara historis, teologis, dan arkeologis, kehidupan masyarakat Bali tumbuh dan diatur berdasarkan pengelolaan air (subak) dan penghormatan terhadap sumber-sumber air sebagai entitas suci.
Apa ancaman nyata yang disoroti dalam seminar ini? Ancaman meliputi privatisasi sumber daya alam, alih fungsi lahan sawah, polusi di kawasan suci (seperti isu kapal pesiar di Danau Batur), serta hilangnya solidaritas sosial di tingkat desa adat.










