Pilih Halaman

Kawal Peradaban Bali: Mayjen TNI (Purn) Sang Nyoman Suwisma Serukan Sinergi di Seminar Nasional, Diwarnai Kejutan HUT ke-77

Kawal Peradaban Bali: Mayjen TNI (Purn) Sang Nyoman Suwisma Serukan Sinergi di Seminar Nasional, Diwarnai Kejutan HUT ke-77

DENPASAR, SUARA PUSKOR HINDUNESIA — Upaya menjaga warisan luhur peradaban Bali di tengah arus modernisasi membutuhkan sinergi yang kokoh dari seluruh elemen masyarakat. Pesan tegas ini disampaikan oleh Sesepuh Umat Hindu Nusantara, Mayjen TNI (Purn.) Sang Nyoman Suwisma, S.I.P., saat didapuk menjadi pembicara utama (Keynote Speaker) dalam perhelatan Seminar Nasional bertajuk “Menjaga Warisan Peradaban Bali”, Minggu (10/5/2026).

Dalam pemaparannya yang komprehensif dan bernas, tokoh militer berprestasi yang pernah menjabat sebagai Pangdam VI/Tanjungpura ini menegaskan posisi strategis Pulau Dewata. Beliau menjabarkan visi Bali sebagai “Benteng Spiritual”, di mana keberadaan pura-pura di seluruh penjuru wilayah berfungsi krusial dalam menjaga kesejahteraan dan keharmonisan masyarakat (Moksartham Jagadhita Ya Ca Iti Dharma).

Mengutip pandangan Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno, Jenderal bintang dua lulusan Akmil 1971 ini kembali mengingatkan hadirin, “Untuk memahami Agama Hindu jangan ke India, tetapi datanglah ke Bali.” Kutipan ini menjadi refleksi kebanggaan sekaligus pengingat akan beratnya tanggung jawab umat Hindu di Nusantara dalam merawat warisan leluhur.

Adaptasi Digital Berlandaskan Nilai Luhur

Lebih lanjut, mantan Ketua PHDI Pusat (2014-2019) ini menyoroti dinamika ilmu pengetahuan dan teknologi yang kian masif. Alih-alih menolak kemajuan zaman, beliau mendorong umat untuk memanfaatkan era digital demi sektor yang produktif dan membawa kemaslahatan.

Namun, untuk membentengi masyarakat dari ekses negatif digitalisasi, diperlukan penguatan fundamental terhadap nilai-nilai dasar Hindu. Beliau menekankan kembali pentingnya mengaplikasikan ajaran Tri Kaya Parisudha, Tri Hita Karana, dan Catur Guru dalam kehidupan sehari-hari.

Mayjen TNI (Purn.) Sang Nyoman Suwisma bersama Sekaa Tari Puskor dan Romo Kasmadi
Mayjen TNI (Purn.) Sang Nyoman Suwisma bersama Sekaa Tari Puskor dan Romo Kasmadi

Dalam kacamata strategisnya, pelestarian peradaban tidak bisa berjalan secara sporadis. Diperlukan sinergi tiga pilar utama: Pemerintah yang aktif membuat regulasi dan pengawasan, Lembaga Pendidikan yang terus mengevaluasi kurikulum pembentukan karakter generasi muda, serta Lembaga Pengawas yang tegas dalam melakukan tindakan preventif maupun represif terhadap pelanggaran adat dan budaya.

Kejutan Haru di Usia ke-77

Suasana seminar yang penuh semangat dan gagasan intelektual tersebut seketika berubah menjadi momen yang penuh kehangatan di sela-sela jeda acara. Tepat pada hari ini, 10 Mei 2026, Mayjen TNI (Purn.) Sang Nyoman Suwisma genap berusia 77 tahun.

Segenap pengurus dan panitia dari Puskor Hindunesia telah menyiapkan kejutan khusus sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur atas dedikasi beliau. Sebuah video apresiasi ditayangkan di layar utama, mengiringi prosesi pemotongan kue dan tiup lilin yang disambut tepuk tangan riuh dan doa dari seluruh peserta seminar.

(Insert Video: Momen Tiup Lilin Mayjen TNI (Purn) Sang Nyoman Suwisma di Seminar Nasional)

Momen ini menjadi wujud nyata penghormatan keluarga besar gerakan kerelawanan Hindu ini kepada sosok sesepuh yang tak pernah lelah mengayomi umat.

“Terima kasih Jendral atas segala dukungan untuk kami,” ucap Ketua Umum Dekornas Puskor Hindunesia pada kesempatan tersebut dengan penuh haru, mewakili seluruh relawan dan umat yang merasakan dampak positif dari kepemimpinan dan arahan beliau selama ini.

Perayaan sederhana namun penuh makna ini menjadi penutup yang indah, membuktikan bahwa perjuangan menjaga peradaban Bali bukan sekadar konsep di atas kertas, melainkan wujud rasa pesemetonan (persaudaraan) dan bakti yang tulus antar lintas generasi umat Hindu Nusantara.

Special Thanks to : Relawan Dharma Tim Publikasi & Dokumentasi serta Ketut Arianto untuk foto-fotonya

FAQ (Frequently Asked Questions)

Apa gagasan utama Mayjen TNI (Purn) Sang Nyoman Suwisma dalam Seminar Nasional ini? Beliau menekankan pentingnya menjadikan Bali sebagai “Benteng Spiritual” dan mendorong masyarakat Hindu untuk beradaptasi dengan teknologi modern tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur seperti Tri Kaya Parisudha, Tri Hita Karana, dan Catur Guru. Beliau juga menyerukan sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan lembaga pengawas.

Kapan dan di mana Mayjen TNI (Purn) Sang Nyoman Suwisma lahir? Beliau lahir di Desa Taman Bali, Kabupaten Bangli, Bali, pada tanggal 10 Mei 1949. Pada momen seminar tanggal 10 Mei 2026 ini, beliau genap berusia 77 tahun.

Apa kaitan beliau dengan Puskor Hindunesia? Mayjen TNI (Purn) Sang Nyoman Suwisma dihormati sebagai Sesepuh Umat Hindu Nusantara yang senantiasa memberikan arahan, dukungan, dan pengayoman terhadap berbagai gerakan keumatan, termasuk langkah-langkah perjuangan relawan Puskor Hindunesia.

Apakah beliau menolak kemajuan teknologi dan modernisasi di Bali? Tidak. Dalam presentasinya, beliau justru mendorong pemanfaatan era digital untuk kegiatan yang produktif. Namun, beliau mensyaratkan adanya regulasi yang kuat serta pembentengan moral masyarakat melalui pendidikan karakter berbasis ajaran Hindu agar tidak tergerus dampak negatifnya.

GERBANG NUSANTARA merupakan singkatan dari Gerakan Bangga, Bangkit, Bangun Hindu Dharma Nusantara.
Translate »

Pin It on Pinterest

Share This