Kakanwil Kemenag Bali Paparkan Solusi Krisis Demografi di Seminar Nasional Peradaban Bali
DENPASAR, SUARA PUSKOR HINDUNESIA – Upaya menjaga benteng peradaban dan dresta Bali tengah menghadapi ujian yang sangat kompleks. Menyadari hal tersebut, Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama Provinsi Bali, Dr. I Gusti Made Sunartha, S.Ag., M.Si., memaparkan strategi fundamental dalam “Seminar Nasional – Menjaga Warisan Peradaban Bali” yang diselenggarakan pada hari Minggu (10/5/2026).
Tampil sebagai narasumber utama setelah paparan pembuka dari tokoh masyarakat Mayjen TNI (Purn) Sang Nyoman Suwisma, Dr. I Gusti Made Sunartha S.Ag., M.Si. menitikberatkan pembahasannya pada tema “Strategi Pendidikan Agama dan Keagamaan Membangun Peradaban Modernisasi sebagai Transformasi Pelestari Adat, Agama Hindu, Seni, dan Dresta Bali.”
Di hadapan para peserta seminar, beliau membuka presentasinya dengan membedah realitas pahit terkait ketahanan ruang dan demografi umat Hindu di Bali. Berdasarkan data yang dipaparkannya, persentase umat Hindu di Bali mengalami tren penurunan dari 86,91% pada tahun 2022, menjadi di kisaran 85,12% hingga 86,53% pada tahun 2024. Penyusutan demografi ini diperparah dengan masifnya alih fungsi lahan yang mencapai hampir 1.000 hektar per tahun dan hilangnya puluhan subak, yang notabene merupakan wadah praktik budaya agraris Bali.
“Laku agama di Bali itu sangat khas karena ajaran Weda diimplementasikan dengan sangat adaptif terhadap budaya lokal melalui konsep Desa Kala Patra. Namun, tantangan modernisasi saat ini berpotensi mendestruksi tata nilai tersebut jika tidak disaring dengan baik,” tegas Dr. I Gusti Made Sunartha.

Mengutip teori sosiologi Max Weber, mantan Direktur Urusan Agama Hindu Ditjen Bimas Hindu ini menjelaskan bahwa setiap tindakan masyarakat harus memiliki makna subjektif dan rasional. Umat Hindu di Bali tidak bisa lagi hanya sekadar ikut-ikutan (gugon tuwon) dalam beragama. Beliau juga menyoroti pergeseran estetika tempat suci masa kini yang mulai meninggalkan arsitektur bata merah tradisional beralih ke material instan, sebagai salah satu indikator hilangnya sentuhan filosofi dresta lokal.
Sebagai jalan keluar yang konkret dan terukur, Dr. I Gusti Made Sunartha menggagas transformasi total melalui ekosistem pendidikan yang terbagi dalam dua pilar utama:
1. Pendidikan Widyalaya (Pendidikan Umum Berciri Khas Hindu) Pendidikan ini bertujuan mencetak SDM yang cerdas secara intelektual untuk bersaing di era modern, namun tetap memiliki karakter Hindu yang kuat. Komposisi kurikulumnya dirancang berimbang, yakni 60% Pendidikan Umum (berdasarkan Kurikulum Diknas) dan 40% Pendidikan Agama (mencakup Tattwa, Etika, Susila, dan Sejarah).
2. Pendidikan Pasraman (Pendidikan Keagamaan Hindu) Ini adalah garda terdepan untuk mencetak SDM ahli agama dan penjaga gawang adat. Dr. I Gusti Made Sunartha mendorong agar Pasraman dikelola secara profesional dalam sistem boarding school (asrama). Formulasi kurikulumnya dibalik, yaitu 60% Pendidikan dan Keterampilan Agama (praktik Panca Sradha, kerangka adat, seni, dan budaya Bali) serta 40% Pendidikan Umum.

Di akhir pemaparannya, Dr. I Gusti Made Sunartha menekankan bahwa gagasan besar ini menuntut sinergi pembiayaan lintas sektor. Diperlukan kolaborasi erat antara Kementerian Agama, Pemerintah Daerah Bali, Yayasan, Badan Usaha, hingga masyarakat Adat untuk membangun infrastruktur pendidikan keumatan yang kokoh guna memastikan peradaban Hindu Nusantara, khususnya Dresta Bali, tetap tegak berdiri.
Special Thanks to : Relawan Dharma Tim Publikasi & Dokumentasi, Romo Kasmadi serta Ketut Arianto untuk foto-fotonya.
FAQ (Frequently Asked Questions)
Apa fokus utama pemaparan Kakanwil Kemenag Bali dalam Seminar Nasional tersebut? Fokus utama pemaparan Dr. I Gusti Made Sunartha adalah strategi membentengi peradaban, adat, dan dresta Bali dari dampak negatif modernisasi dan krisis demografi melalui transformasi sistem pendidikan Hindu yang terstruktur (Widyalaya dan Pasraman).
Apa perbedaan konsep pendidikan Widyalaya dan Pasraman yang digagas oleh Kemenag? Widyalaya berfokus pada pendidikan umum dengan kekhasan agama Hindu (komposisi 60% kurikulum umum, 40% agama) untuk mencetak SDM unggul. Sedangkan Pasraman adalah pendidikan keagamaan (60% pendidikan/keterampilan agama dan budaya Bali, 40% umum) untuk mencetak ahli agama. Beliau juga mendorong konsep boarding school untuk Pasraman.
Bagaimana kondisi demografi umat Hindu di Bali menurut data yang dipaparkan? Terdapat tren penurunan persentase umat Hindu di Bali. Data tahun 2022 mencatat persentase umat sebesar 86,91%, yang kemudian mengalami penurunan ke kisaran 85,12% – 86,53% pada data tahun 2024. Hal ini menjadi peringatan penting bagi ketahanan kultural masyarakat Bali.
Mengapa alih fungsi lahan dan subak dikaitkan dengan pelestarian peradaban Bali? Sistem tata ruang dan subak di Bali bukan sekadar sistem irigasi, melainkan fondasi bagi ekosistem adat dan budaya agraris yang mempraktikkan filosofi Tri Hita Karana. Hilangnya subak berarti hilangnya ruang dan wadah tradisi tersebut dipraktikkan.










