Menyelamatkan Esensi Tri Hita Karana: Menggugat Eksploitasi Palemahan di Tengah Gemerlap Pembangunan
Ditulis oleh : Relawan Dharma – Gde Wibisana Singgih Wilasa
Kawasan yang sarat dengan dinamika pembangunan yang sangat masif, seperti yang kerap kita saksikan di bentang wilayah Bali Selatan, menjadi saksi bisu bagaimana wajah tanah Bali bersalin rupa. Di tengah deru laju ekonomi dan investasi properti, frasa Tri Hita Karana atau Trihita sering kali didengungkan dengan lantang. Konsep luhur ini kerap tertera gagah di atas kertas izin mendirikan bangunan, menghiasi brosur vila mewah, hingga menjadi jargon pemasaran untuk menarik simpati.
Namun, sebagai orang tua dan generasi muda Hindu yang mewarisi kearifan ini, kita perlu berhenti sejenak dan merenung secara kritis: Apakah jargon tersebut benar-benar sebuah manifestasi spiritual, atau sekadar tameng pembenaran atas eksploitasi lingkungan?
Ilusi Palemahan: Saat Alam Hanya Menjadi Objek Estetika
Dalam ajaran Tri Hita, pilar Palemahan menuntut kita untuk menjaga hubungan yang harmonis dengan alam semesta (Bhuana Agung). Sayangnya, esensi ini mulai tereduksi. Banyak pihak merasa sudah menunaikan kewajiban Palemahan hanya dengan menyisakan sepetak tanah untuk pot tanaman hias, atau membangun pelinggih kecil di sudut properti komersial yang menjulang tinggi, sementara limbah operasionalnya mencemari perairan dan menyumbat saluran irigasi lokal.
Palemahan bukanlah sekadar pelabelan “ramah lingkungan” demi estetika marketing. Trihita menuntut aksi nyata yang berkesinambungan. Ketika ekspansi bisnis justru meminggirkan ruang gerak masyarakat lokal dan merusak ekosistem asli, di sanalah nama Tri Hita Karana sedang dieksploitasi.
Landasan Susastra: Peringatan Keras dari Bhagavad Gita
Sebagai umat Hindunesia, kita memiliki rujukan sastra yang sangat tegas mengenai eksploitasi alam. Kitab Bhagavad Gita, Adhyaya III, Sloka 12 menyampaikan pesan yang menohok:
Iṣṭān bhogān hi vo devā, dāsyante yajña-bhāvitāḥ, tair dattān apradāyaibhyo, yo bhuṅkte stena eva saḥ.
Terjemahan: “Sesungguhnya para dewa (manifestasi kekuatan alam) yang dipelihara oleh Yadnya akan memberikan kepadamu kenikmatan yang kau inginkan. Ia yang menikmati pemberian ini tanpa mengembalikannya (menjaga kelestariannya), sesungguhnya adalah seorang pencuri.”
Sloka ini adalah ruh sejati dari Palemahan. Alam semesta telah memberikan segalanya untuk kita bisa hidup, berbisnis, dan membangun kesejahteraan. Mengambil keuntungan dari keindahan alam Bali, namun abai terhadap pengelolaan limbahnya, tidak memperhatikan sanitasi, dan merusak resapan air, menjadikan para pelakunya sebagai “pencuri” dalam kacamata dharma.

Menyelamatkan Esensi Tri Hita Karana Mulai dari Halaman Rumah
Tugas kita sebagai orang tua adalah meluruskan kembali makna ini agar tidak ditelan oleh pergeseran zaman. Pemahaman ini tidak perlu dimulai dengan melawan arus besar, tetapi bisa ditanamkan dari halaman rumah kita sendiri.
Saat kita berkendara bersama putra-putri kita melewati deretan baliho raksasa yang mengklaim konsep “Eco-Living” atau Tri Hita Karana, ajaklah mereka berpikir kritis. Lontarkan pertanyaan, “Menurutmu, apakah mereka benar-benar peduli pada tanah dan air di bawah bangunannya, atau kata itu hanya untuk jualan?”
Lebih dari sekadar berdiskusi, tunjukkan implementasinya melalui tindakan fisik di rumah. Misalnya, saat kita sedang turun tangan merenovasi rumah, melakukan perbaikan bangunan, atau menata pekarangan. Libatkan anak-anak untuk memastikan sisa material bangunan, seperti puing atau sisa cat, dikelola dengan benar agar tidak mencemari selokan di lingkungan banjar. Ajarkan mereka bahwa menjaga kelestarian lingkungan membutuhkan keringat dan tangan yang kotor, bukan sekadar janji manis di brosur.
Hanya dengan pemahaman yang utuh dan kritis seperti inilah, generasi penerus Hindunesia dapat menyelamatkan Tri Hita Karana dari sekadar huruf mati yang dieksploitasi oleh kemerlapnya industrialisasi.
Gambar ilustrasi di produksi dengan memanfaatkan Gemini AI.
FAQ Seputar Palemahan dan Tri Hita Karana
Banyak entitas bisnis dan pembangunan komersial menggunakan Tri Hita Karana semata-mata sebagai strategi marketing atau syarat administratif (gimmick), tanpa benar-benar menerapkan standar kelestarian lingkungan dan kepedulian sosial yang diamanatkan dalam filosofi tersebut.
Palemahan adalah kesadaran dan tindakan nyata untuk menjaga keharmonisan dengan alam dan lingkungan sekitar. Ini mencakup tanggung jawab terhadap tata ruang, pengelolaan limbah, pelestarian sumber air, dan menjaga keseimbangan ekosistem fisik (Bhuana Agung) di mana kita berpijak.
Susastra Hindu sangat menentang eksploitasi alam. Menurut Bhagavad Gita (Adhyaya III, Sloka 12), manusia yang terus-menerus mengambil hasil dan kenikmatan dari alam tanpa memberikan timbal balik (menjaga dan memeliharanya melalui Yadnya), dianggap sama dengan seorang pencuri.
Pendidikan dimulai dari rumah dengan mengajak anak berpikir kritis terhadap klaim-klaim komersial di luar sana. Selain itu, orang tua wajib memberikan contoh nyata implementasi Palemahan, seperti bertanggung jawab atas kebersihan lingkungan rumah tangga dan mengelola sisa material renovasi rumah agar tidak merusak ekosistem sekitarnya.













