Pilih Halaman

Kisah Jero Kubayan Bayad: Dari Titik Nadir Menuju Jalan Pengabdian

Kisah Jero Kubayan Bayad: Dari Titik Nadir Menuju Jalan Pengabdian

Sebuah Catatan Inspiratif untuk Membangkitkan Semangat Relawan Dharma Puskor Hindunesia

Payangan 26 Mei 2026 – Di balik setiap senyum bijaksana dan ketegasan sikap seorang tokoh, selalu ada rekam jejak perjuangan yang tidak mudah ditebak. Hal inilah yang tergambar dari sosok Jero Kubayan Bayad. Bagi jajaran Relawan Dharma Puskor Hindunesia, nama beliau mungkin dikenal sebagai salah satu tokoh tangguh yang begitu vokal memperjuangkan nasib petani dan kelestarian sistem Subak di Bali. Namun, siapa sangka bahwa kejayaan dan ketenangan jiwa yang ia miliki hari ini ditempa melalui perjalanan hidup yang penuh dengan darah, air mata, kelaparan, dan keterpurukan yang amat dalam.

Kisah hidup Jero Kubayan Bayad bukanlah dongeng kesuksesan yang instan. Ini adalah epik nyata tentang seorang manusia Bali yang pernah hancur berkeping-keping, lalu merakit kembali dirinya untuk menjadi pilar yang bermanfaat bagi umat. Sebuah refleksi yang sangat berharga bagi setiap insan Relawan Dharma.

Tertempa Kemiskinan dan Mandiri Sejak Dini

Lahir pada era 1970-an dalam keluarga sederhana dengan tiga bersaudara yang rentang usianya berdekatan, masa kecil Jero Kubayan Bayad diwarnai dengan keterbatasan. Saat itu, untuk bisa mengenyam pendidikan dasar saja adalah sebuah kemewahan. Sang ayah kesulitan membiayai sekolah mereka bertiga sekaligus. Dalam situasi terjepit, Jero Kubayan kecil harus memohon, merayu, hingga meminjam barang demi bisa bersekolah.

Namun, keterbatasan itu tidak mematikan semangatnya. Sembari bersekolah, ia sudah memutar otak untuk mencari nafkah sendiri dengan berdagang gabah di kawasan Sigaran. Kegigihannya berbuah manis; di usianya yang masih sangat muda, dari hasil keringatnya sendiri, ia berhasil membeli sepeda motor kebanggaan pada masa itu, sebuah Honda C70. Ia membuktikan bahwa kemandirian bisa dibangun sejak dini tanpa harus bergantung pada orang tua.

Jatuh ke Titik Nadir: Utang, Kuburan, dan Jalanan

Ujian hidup yang sebenarnya datang ketika ia mulai berkeluarga di usia muda. Tergiur oleh bisnis barang antik—seperti Merah Delima dan Besi Kuning—ia memberanikan diri meminjam uang dalam jumlah fantastis. Sayang, bisnis itu gagal total dan meninggalkannya dengan jeratan utang ratusan juta rupiah (sebuah nilai yang sangat besar pada zamannya).

Di sinilah masa tergelap dalam hidupnya dimulai. Demi mencari jalan melunasi utang dan menghindari tekanan, ia terpaksa meninggalkan istrinya yang sedang hamil tua dengan hanya berbekal baju celana di badan. Ia luntang-lantung di jalanan menggunakan sepeda motor pinjaman, menyusuri Singaraja, Kuta, hingga menyeberang ke Jawa.

Dalam pelariannya, ia pernah tidur beralaskan tanah di Kuburan Cina Banyu Asri, Buleleng. Menahan sengatan panas, gigitan nyamuk, dan kelaparan, ia bertahan hidup dari belas kasihan orang tua tak dikenal yang memberinya sepiring nasi. Ia hidup di jalanan selama lebih dari setahun, bahkan pernah menjadi penjaga malam di Pelabuhan hingga mengalami kecelakaan parah yang meremukkan giginya. Ketakutan akan hutang membuatnya bersembunyi selama berbulan-bulan, dikucilkan layaknya orang buangan di desanya sendiri.

Jero Kubayan Bayad - Ketua Umum DR Ida Bagus K Susena dan Bendahara Umum Ir Putu Siarta SH
Jero Kubayan Bayad – Ketua Umum DR Ida Bagus K Susena dan Bendahara Umum Ir Putu Siarta SH

Ujian Harta, Kehancuran, dan Titik Balik Spiritual

Namun, roda nasib kembali berputar. Berbekal keberanian dan kecerdasan jalanannya, ia mulai belajar mengurus sertifikat tanah ke kantor-kantor pemerintahan di Badung hingga ke tingkat Provinsi. Keuletannya berbuah hasil. Pada tahun 1989, ia berhasil menjadi perantara (makelar) pembebasan lahan seluas 3 hektar di Pemamoran. Dari transaksi itu, ia meraup untung ratusan juta, hingga akhirnya berhasil memegang uang miliaran rupiah. Ia sukses besar.

Sayangnya, layaknya ujian duniawi, harta yang datang begitu cepat membawa godaan yang lebih kejam dari kemiskinan. “Uang itu godaannya tinggi sekali. Asal sudah pegang uang tapi tidak bisa mengelola, pasti akan hilang,” kenangnya. Kesuksesan finansial membuatnya terlena oleh kehidupan malam dan perjudian. Puncaknya, dalam keadaan frustrasi dan kehancuran batin, ia dengan sengaja menabrakkan mobil mewahnya, sebuah Jeep Cherokee tahun 1993, hingga hancur lebur.

Ia kehilangan segalanya untuk kedua kalinya. Namun, dari titik terendah itulah, kesadaran spiritualnya bangkit. Kepindahannya ke Tabanan dan keterlibatannya secara intens di Pura Puseh menjadi titik balik di mana ia menemukan kembali arah hidupnya (dharma). Ia menyadari bahwa kekayaan sejati bukanlah angka di rekening, melainkan seberapa besar sisa hidup kita bisa berguna untuk orang banyak.

Inspirasi Nyata bagi Relawan Dharma Puskor Hindunesia

Kini, Jero Kubayan Bayad telah bertransformasi. Ia mengelola 5 hektar sawah di Negara, Jembrana, dan menjadi inisiator pilot project sistem pertanian organik dan pelestarian Subak di Buleleng. Ia mengorbankan waktu dan tenaganya bukan lagi untuk mengejar harta, melainkan untuk memperjuangkan kesejahteraan petani Bali agar tidak kehilangan identitas agrarisnya.

Bagi jajaran Relawan Dharma Puskor Hindunesia, kisah hidup Jero Kubayan Bayad adalah sebuah “Buku Saku Kehidupan” yang mengajarkan beberapa nilai fundamental:

  1. Pantang Menyerah pada Keadaan (Dhirya): Relawan Dharma akan selalu berhadapan dengan masalah umat yang kompleks. Kisah Jero yang mampu bertahan hidup di kuburan hingga kembali bangkit, mengajarkan bahwa tidak ada jalan buntu bagi mereka yang mau berusaha.
  2. Kemandirian (Swa-Bina): Perjuangannya membeli motor dari berjualan gabah saat masih sekolah menegaskan bahwa pergerakan umat harus didasari oleh mental mandiri, bukan mental peminta-minta.
  3. Mawas Diri terhadap Godaan Duniawi: Pengalaman Jero jatuh karena godaan harta menjadi pengingat keras bagi para relawan dan pengurus organisasi. Bahwa jabatan, ketenaran, dan akses dana dalam organisasi sosial tidak boleh membuat kita buta dan melenceng dari tujuan suci kemanusiaan.
  4. Pengabdian sebagai Penebusan (Seva): Kesalahan masa lalu bukanlah akhir. Saat ini, dedikasi Jero untuk menghidupkan kembali pertanian Bali dan mendampingi para pekaseh (kelian subak) adalah wujud nyata dari bakti (Seva). Relawan Dharma diajak untuk turun langsung, tangan kotor oleh lumpur, demi mengangkat harkat martabat umat di tingkat paling bawah.

Sosok Jero Kubayan Bayad mengingatkan kita semua: bahwa emas yang paling murni adalah yang telah dibakar berkali-kali di dalam tungku penderitaan. Kisahnya adalah cambuk semangat bagi Puskor Hindunesia untuk terus bergerak, mengabdi tanpa henti, dan menjaga nyala api peradaban Bali.

Siapa sosok Jero Kubayan Bayad dan apa perannya saat ini?

Jero Kubayan Bayad adalah seorang tokoh tangguh di Bali yang sangat vokal memperjuangkan kesejahteraan petani dan kelestarian sistem pengairan Subak. Saat ini, beliau mengelola lahan sawah luas dan menjadi inisiator pilot project sistem pertanian organik guna mengangkat kembali harkat pekaseh (kelian subak) di Bali.

Bagaimana sejarah perjuangan masa lalu Jero Kubayan Bayad?

Beliau menapaki jalan hidup yang sangat keras. Lahir dalam kemiskinan, beliau pernah berdagang gabah sejak sekolah, terjerat utang ratusan juta akibat bisnis, hingga menjadi gelandangan yang tidur di kuburan. Ia pernah mencapai kesuksesan besar, namun hancur kembali karena godaan harta, sebelum akhirnya menemukan jalan spiritual (dharma).

Mengapa kisah hidup beliau sangat penting bagi Relawan Dharma Puskor Hindunesia?

Kisah Jero Kubayan Bayad ibarat “Buku Saku Kehidupan” yang mengajarkan empat nilai fundamental bagi pergerakan umat: sikap pantang menyerah (Dhirya), kemandirian dari bawah (Swa-Bina), mawas diri terhadap godaan harta atau jabatan, serta pengabdian tulus sebagai bentuk bakti (Seva) kepada kemanusiaan.

Apa pesan utama dari transformasi hidup Jero Kubayan Bayad untuk generasi muda Hindu?

Pesan utamanya adalah bahwa kesalahan dan kehancuran di masa lalu bukanlah sebuah akhir. Kebangkitan sejati terjadi ketika kita melepaskan ego duniawi dan menggunakan sisa hidup, tenaga, serta sumber daya yang kita miliki untuk membantu orang banyak—dalam hal ini, turun langsung ke lumpur demi menyelamatkan identitas agraris Bali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mari mengenal lebih dalam tentang Hindu Kaharingan, agama asli masyarakat Dayak yang penuh dengan nilai spiritual, kearifan lokal dan harmoni dengan alam semesta bersama Drs Walter S Penyang.
Translate »

Pin It on Pinterest

Share This