Puskor Hindunesia Hadiri Prosesi Nyenuk di Pura Dalem Balingkang Bersama Tjok Ibah
Kintamani, 13 Oktober 2025 – Upacara puncak Wali Krama Mepedudusan Agung, Mepadagingan, Melaspas, dan Ngenteg Linggih berlangsung dengan penuh kekhusyukan di Pura Kahyangan Jagat Dalem Balingkang, Desa Adat Pinggan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Rangkaian yadnya suci ini memasuki salah satu tahapan krusialnya, yakni prosesi Nyenuk, yang bertepatan dengan hari suci Sugihan Jawa pada Kamis, 13 November 2025.
Menambah khidmatnya acara, Puskor Hindunesia turut hadir dalam prosesi ini bersama Ketua Dewan Pembina Dekornas Puskor Hindunesia, Tjokorda Raka Kerthyasa, atau yang lebih akrab disapa Tjok Ibah.

Kekhusyukan Warga dalam Iring-iringan Suci
Pelaksanaan Nyenuk tahun ini menjadi tanggung jawab spiritual warga Desa Pinggan dan Desa Bebanuan sebagai pelaksana utama. Keterlibatan aktif dari dua desa ini merupakan tradisi turun-temurun yang terus dipegang teguh sebagai bentuk kewajiban adat dan spiritual kepada leluhur.
Rangkaian prosesi dimulai dari titik kumpul di Pura Balai Agung Desa Pinggan. Para warga bersama para peserta iring-iringan membawa ragam sesaji sebagai wujud persembahan suci, berjalan kaki dengan tertib dan khidmat menuju Pura Jagat Dalem Balingkang. Hal ini mencerminkan tingginya tingkat kedisiplinan dan rasa bakti masyarakat setempat terhadap warisan adat mereka.

Makna Filosofis Warna Busana dan Perlengkapan Adat
Salah satu pemandangan yang paling khas dan sarat makna dalam prosesi Nyenuk kali ini adalah penggunaan busana adat yang didominasi oleh tiga warna utama: putih, kuning, dan hitam.
- Simbolisme Warna: Pembagian kelompok berdasarkan tiga warna busana ini bukanlah kebetulan, melainkan memiliki makna simbolis yang merepresentasikan arah mata angin serta Panca Dewata, melambangkan keberadaan kekuatan suci di berbagai penjuru alam semesta.
- Perlengkapan Tradisional: Warga juga tampak membawa palabungkah dan palegantung. Atribut-atribut ini berfungsi sebagai simbol penyucian serta penyelarasan antara unsur sekala (dunia nyata/fisik) dan niskala (dunia tak kasat mata/spiritual).
Penggunaan warna dan atribut ini menjadi bukti kuat bahwa Desa Adat Pinggan secara konsisten mempertahankan keaslian tradisi sebagaimana yang diwariskan oleh para tetua adat mereka dari generasi ke generasi.

Pesan dan Harapan dari Bendesa Adat Pinggan
Bendesa Adat Pinggan, Jro Guru Made Buda, mengungkapkan bahwa upacara Nyenuk ini adalah representasi dari rasa syukur masyarakat atas lancarnya rangkaian karya besar yang tengah dilangsungkan.
“Prosesi ini menjadi momentum bagi warga untuk memohon keselamatan, kerahayuan, serta kelancaran seluruh rangkaian yadnya. Ini juga merupakan wujud penghormatan bakti kita kepada para leluhur yang senantiasa menuntun dan melindungi,” tutur Jro Guru Made Buda.

Beliau juga menambahkan bahwa rangkaian prosesi Nyenuk di Pura Dalem Balingkang ini akan terus berlangsung hingga tanggal 16 November 2025. Selama periode yadnya tersebut, seluruh masyarakat diimbau untuk terus menjaga kesucian kawasan adat dan berpartisipasi aktif. Komitmen ini diharapkan dapat terus menjaga keharmonisan antara manusia, alam, dan nilai-nilai spiritual yang dianut oleh masyarakat Hindu di Nusantara. (NAS-SUN)
FAQ – Pertanyaan Yang Sering Ditanyakan
Upacara Nyenuk adalah salah satu prosesi penting dalam rangkaian karya besar (seperti Wali Krama, Ngenteg Linggih, dan Mepedudusan Agung) yang melambangkan ungkapan rasa syukur, penyucian, serta penghormatan kepada para leluhur agar seluruh rangkaian yadnya berjalan lancar.
Prosesi ini dilaksanakan mulai hari Kamis, 13 November 2025 (bertepatan dengan Sugihan Jawa) hingga 16 November 2025, bertempat di Pura Kahyangan Jagat Dalem Balingkang, Desa Adat Pinggan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli.
Prosesi ini dihadiri oleh masyarakat Desa Pinggan dan Desa Bebanuan, Ida Sulinggih sane muput upakara, Bendesa Adat Pinggan (Jro Guru Made Buda), jajaran Puskor Hindunesia, serta Ketua Dewan Pembina Dekornas Puskor Hindunesia, Tjokorda Raka Kerthyasa (Tjok Ibah).













