Pilih Halaman

Manusia Sudah Ber-Tuhan, Tapi Kenapa Masih Bertingkah Seperti Kehilangan Tuhan?

Manusia Sudah Ber-Tuhan, Tapi Kenapa Masih Bertingkah Seperti Kehilangan Tuhan?

Artikel Renungan ini dipersembahkan oleh Relawan Dharma : I.B. Wikanda Permana Utama (Gus Awik)

Di zaman sekarang, manusia semakin rajin berbicara tentang Tuhan, tetapi semakin jarang menghadirkan sifat ketuhanan dalam hidupnya. Pura berdiri megah, mantra dan doa dikumandangkan setiap hari, simbol-simbol agama dipasang di mana-mana, namun kebencian tetap tumbuh, keserakahan makin dipelihara, dan manusia semakin mudah kehilangan rasa kemanusiaannya.

Ironisnya, manusia sering sibuk mencari Tuhan ke luar dirinya, padahal ajaran Weda justru mengajarkan bahwa sejak awal kehidupan, sifat ketuhanan itu sudah ditanamkan di dalam diri manusia. Bahkan sebelum manusia lahir ke dunia, hubungan antara manusia dan Tuhan sudah terjalin di dalam rahim ibu.

Hal ini dijelaskan dalam Rg Weda VIII.83.8: Pra brātṛtvam sudānavo’dha dvitā samānyā maturgarbham bharāmate. Yang berarti: “Oh Tuhan Yang Maha Pemurah, kita telah melahirkan kekerabatan yang lestari, dengan keselarasan, di dalam rahim ibu.”

Sloka ini memiliki makna yang sangat dalam. Manusia bukan makhluk yang lahir dalam keadaan kosong secara spiritual. Sejak berada di dalam kandungan, manusia telah berada dalam lingkaran kesadaran Ilahi. Ada hubungan sakral antara jiwa manusia dengan Tuhan. Karena itu, dalam pandangan Weda, hidup bukan sekadar proses biologis, tetapi perjalanan spiritual.

Namun sayangnya, setelah lahir dan tumbuh dewasa, manusia perlahan melupakan asal spiritualnya. Pendidikan modern mengajarkan manusia cara mencari uang, mengejar jabatan, membangun citra, dan memenangkan persaingan, tetapi sangat sedikit yang mengajarkan cara mengenal dirinya sendiri.

Manusia akhirnya menjadi makhluk yang aneh. Mulutnya memuja Tuhan, tetapi tindakannya sering mematikan sifat ketuhanan dalam dirinya sendiri. Ia marah tanpa kendali, membenci tanpa alasan, iri terhadap kebahagiaan orang lain, bahkan tega menjatuhkan sesamanya demi kepentingan pribadi. Lebih ironis lagi, semua itu kadang dilakukan sambil membawa nama agama.

Padahal Atharva Weda XI.8.13 menjelaskan: Sarvam samsicya devāḥ puruṣam āviśan Yang berarti: “Bila mereka telah selesai memadukan bakal manusia, Tuhan masuk ke dalamnya.”

Kalimat ini sangat kuat secara spiritual. Tubuh manusia hanyalah susunan unsur material, tetapi kehidupan sejati muncul karena adanya percikan Ilahi yang memasuki diri manusia. Dengan kata lain, manusia hidup karena ada unsur ketuhanan di dalam dirinya. Jika demikian, maka menghina manusia lain sejatinya sama dengan menghina ciptaan Tuhan. Menyakiti sesama berarti mengotori tempat bersemayamnya percikan Ilahi.

Tetapi dunia modern justru bergerak ke arah sebaliknya. Manusia kini lebih bangga terlihat religius daripada benar-benar memiliki kesadaran spiritual. Banyak orang sibuk memperlihatkan simbol agama, tetapi lupa menumbuhkan kasih sayang. Ada yang hafal kitab suci, tetapi mudah menghina orang lain. Ada yang rajin sembahyang, tetapi masih gemar menipu dan memfitnah. Seolah-olah agama hanya dijadikan pakaian luar, bukan cahaya batin.

Semoga Semua Putra Yang Lahir dari Kekekalan Mendengarkan Semua Yang Memiliki Sifat Surgawi
Semoga Semua Putra Yang Lahir dari Kekekalan Mendengarkan Semua Yang Memiliki Sifat Surgawi

Inilah yang mungkin menjadi salah satu penyakit terbesar manusia modern: terlalu banyak bicara tentang Tuhan, tetapi terlalu sedikit menghadirkan sifat Tuhan dalam dirinya.

Dalam Rg Weda X.13.1 disebutkan: Śņvantu viśve amṛtasya putrā ye dhāmāni divyāni tasthuḥ. Yang berarti: “Semoga semua putra yang lahir dari kekekalan mendengarkan, semua yang memiliki sifat surgawi.”

Weda menyebut manusia sebagai amrtasya putrāḥ — anak-anak keabadian. Sebuah sebutan yang sangat luhur. Artinya, manusia sejatinya bukan makhluk hina. Manusia memiliki unsur surgawi dalam dirinya. Manusia memiliki kemampuan untuk mencapai kebijaksanaan, cinta kasih, dan kesadaran spiritual.

Tetapi potensi luhur itu sering tertutup oleh ego. Ego membuat manusia merasa paling benar. Ego membuat manusia memandang rendah orang lain. Ego membuat manusia lebih sibuk menghakimi daripada memahami. Bahkan dalam kehidupan beragama, ego sering menyamar sebagai kesalehan. Orang merasa dirinya paling suci hanya karena ritualnya paling rajin. Merasa paling dekat dengan Tuhan hanya karena pakaiannya paling religius. Padahal bisa jadi hatinya penuh kebencian.

Dalam ajaran Weda, Tuhan tidak hanya dicari di pura, kitab, atau mantra. Tuhan juga dicari melalui perilaku hidup. Bagaimana mungkin seseorang mengaku mencintai Tuhan tetapi membenci sesama ciptaan-Nya? Bagaimana mungkin seseorang memohon kedamaian dalam doa, tetapi menjadi sumber luka bagi orang lain?

Kesadaran ketuhanan bukan hanya soal ritual, tetapi soal bagaimana manusia memperlakukan kehidupan. Orang yang benar-benar spiritual biasanya justru lebih lembut, tidak mudah menghakimi, dan mampu menghargai sesama. Karena ia sadar bahwa di dalam setiap manusia terdapat percikan Tuhan.

Konsep ini juga selaras dengan ajaran Tat Tvam Asi “Aku adalah engkau, engkau adalah aku.” Ketika menyakiti orang lain, sesungguhnya manusia sedang menyakiti dirinya sendiri. Ketika menolong sesama, sesungguhnya manusia sedang memuliakan sifat ketuhanan dalam dirinya.

Sayangnya, dunia modern lebih sering mengajarkan persaingan daripada persaudaraan. Manusia berlomba menjadi paling kaya, paling terkenal, paling berkuasa, tetapi lupa menjadi paling manusiawi. Padahal sehebat apa pun pencapaian duniawi, manusia tetap akan kembali menjadi debu. Jabatan tidak dibawa mati. Popularitas tidak ikut masuk ke alam berikutnya. Yang tersisa hanyalah kualitas karma dan kesadaran jiwa.

Karena itu, ajaran Weda sesungguhnya sangat relevan untuk zaman sekarang. Weda mengingatkan bahwa tujuan hidup manusia bukan hanya mencari kenikmatan dunia, tetapi menyadari kembali hakikat sucinya. Manusia sejatinya tidak sedang mencari Tuhan yang jauh di langit. Manusia sedang berusaha menemukan kembali cahaya Tuhan yang telah lama terkubur di dalam dirinya sendiri.

Dan mungkin…. “Masalah terbesar manusia hari ini bukan karena Tuhan menjauh dari manusia. Tetapi karena manusialah yang perlahan menjauh dari sifat ketuhanannya sendiri.”

FAQ (Frequently Asked Questions):

Apa hubungan antara manusia dan Tuhan menurut Rg Weda VIII.83.8? Menurut sloka tersebut, hubungan kekerabatan yang lestari dan selaras antara manusia dengan Tuhan sudah terjalin sejak manusia masih berada di dalam rahim ibu.

Mengapa manusia modern disebut kehilangan sifat ketuhanannya? Karena banyak manusia lebih fokus pada simbol agama dan ritual lahiriah, namun tetap memelihara kebencian, keserakahan, serta ego yang menghalangi munculnya kasih sayang sejati.

Apa makna sebutan “Amrtasya Putrah” dalam Weda?Amrtasya Putrah berarti “anak-anak keabadian”, yang menegaskan bahwa manusia memiliki unsur surgawi dan potensi luhur untuk mencapai kebijaksanaan serta cinta kasih.

Bagaimana konsep “Tat Tvam Asi” diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari? Konsep ini berarti “Aku adalah engkau, engkau adalah aku”, di mana menyakiti orang lain berarti menyakiti diri sendiri, dan menolong sesama berarti memuliakan Tuhan.

Apa masalah terbesar manusia modern menurut artikel ini? Masalah terbesarnya bukanlah Tuhan yang menjauh, melainkan manusia itu sendiri yang secara perlahan menjauh dari sifat-sifat ketuhanan yang ada di dalam dirinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

GERBANG NUSANTARA merupakan singkatan dari Gerakan Bangga, Bangkit, Bangun Hindu Dharma Nusantara.
Translate »

Pin It on Pinterest

Share This