Pilih Halaman

Menjadi Ratu, Bukan Pembantu: Bagaimana Weda Mengangkat Derajat dan Kemuliaan Wanita

Menjadi Ratu, Bukan Pembantu: Bagaimana Weda Mengangkat Derajat dan Kemuliaan Wanita

Artikel Renungan ini dipersembahkan oleh Relawan Dharma : I.B. Wikanda Permana Utama (Gus Awik)
Imagery atau ilustrasi digenerate dengan menggunakan Gemini AI.

Lucunya dunia modern hari ini, banyak orang mengaku paling maju, paling beradab, paling menghormati perempuan. Tapi kenyataannya? Wanita dipuji saat cantik, dibuang saat menua. Dibilang “bidadari” ketika menyenangkan, lalu disebut “beban” saat mulai berani bicara. Ironis. Peradaban yang katanya modern justru kadang lebih primitif dibanding ajaran ribuan tahun lalu.

Dalam Weda, wanita tidak ditempatkan sebagai pelengkap penderita. la tidak dianggap sekadar penghias dapur atau mesin pelahir keturunan. Weda justru memuliakan wanita sebagai pusat rumah tangga, pembawa keberuntungan, bahkan seorang samrājñī “ratu.”

Dalam Rgveda X.85.26 disebutkan: “Pūṣā tveto nayatu hastagṛhyā, Aśvinā tvā pra vahatām rathena, Gṛhān gaccha gṛhapatnī yathāso, Vaśinī tvam vidatham a vadasi

Artinya: “Agar Püşan memegang tanganmu dan mengantarkan engkau, semoga kedua Aśvin membawa engkau dengan kereta mereka menuju rumahmu sehingga engkau menjadi penguasa rumah tangga; pengatur yang akan mengatur keluarga.”

Perhatikan kalimatnya baik-baik: gṛhapatnī “penguasa rumah tangga.” Bukan “pembantu rumah tangga”. Bukan “yang harus selalu nurut”. Bukan “yang tugasnya cuma masak dan diam”. Tetapi pengatur rumah. Penjaga keseimbangan keluarga. Aneh memang. Kitab kuno ribuan tahun lalu mampu memuliakan wanita sedemikian tinggi, sementara manusia modern yang tiap hari bicara kesetaraan malah sering memperlakukan wanita seperti barang diskonan: dicari saat menarik, dilupakan saat tak lagi menghibur ego.

Dalam Rgveda X.85.33 disebutkan: “Sumangalir iyam vadhūr Imām sameta paśyata Saubhagyam asyai dattvāya Yāstam viparetana

Artinya: “Yang membawa keberuntungan adalah pengantin wanita. Hai kalian semua, datanglah melihatnya; doakan agar ia berbahagia, sesudah itu pulanglah.”

Dari sini lahir kata mangala dan saubhagya, yang berkaitan dengan keberuntungan dan kebahagiaan dalam perkawinan. Jadi sejak dahulu wanita dipandang sebagai pembawa keberuntungan. Namun hari ini banyak lelaki ingin rumah tangga harmonis sambil tetap gemar merendahkan perempuan. Ingin istri setia, tapi dirinya masih sibuk mencari validasi di luar. Ingin dihormati sebagai kepala keluarga, tapi emosi saja masih kalah stabil dengan notifikasi media sosial. Lalu heran kenapa rumah tangga terasa dingin.

Padahal dalam Rgveda III.53.4 disebutkan dengan sangat sederhana: “Jayed astam” Artinya: “Sesungguhnya seorang istri adalah rumah.”

Istri Adalah Pengatur Rumahtangga Yang Menjaga Mertua Suami dan Anak-Anaknya Dikesehariannya
Istri Adalah Pengatur Rumahtangga Yang Menjaga Mertua Suami dan Anak-Anaknya Dikesehariannya

Bukan temboknya. Bukan gentengnya. Bukan sertifikat tanahnya. Rumah adalah wanita itu sendiri. Kalau wanitanya terluka, rumah kehilangan jiwa. Kalau wanitanya bahagia, rumah bahkan bisa terasa seperti surga meski sederhana.

Karena itu Weda memberi doa yang sangat agung kepada pengantin wanita.

Yang disertakan dalam Rgveda Χ.85.46: “Samrājñī śvaśure bhava, Samrājñī śvaśrvām bhava, Nanāndari samrājñī bhava, Samrājñī adhi devrsu

Artinya: “Jadilah ratu bagi mertua lakimu, ratu bagi mertua perempuanmu, ratu bagi ipar-ipar perempuanmu, dan ratu bagi ipar-ipar lakimu.”

Lihat betapa tingginya penghormatan itu. Wanita didoakan menjadi samrājñī “ratu.” Bukan budak keluarga. Bukan pelampiasan emosi. Bukan tempat lelaki merasa paling berkuasa. Betapa agungnya pandangan ini. Wanita tidak diminta tunduk dalam kehinaan, melainkan dimuliakan dalam kehormatan. Sebab wanita adalah sumber lahirnya generasi. Dari rahim wanita lahir para raja, para resi, para pejuang, bahkan mereka yang nantinya membanggakan dunia.

Laki-laki sering merasa dirinya kuat. Namun tanpa wanita, kekuatan itu liar tanpa arah. Wanita adalah penyeimbang, penghidup rasa, sekaligus penjaga peradaban. Karena itu, memuliakan wanita sejatinya bukan hanya soal sopan santun, tetapi menjaga keberlangsungan dharma dan kemanusiaan itu sendiri. Dan mungkin dunia hari ini terlalu sibuk mencari “wanita sempurna”, sampai lupa belajar menjadi laki-laki yang pantas menghormati wanita.

Mungkin itulah sebabnya banyak rumah tangga modern mudah runtuh. Karena orang sibuk mencari pasangan “sempurna”, tapi lupa belajar menghormati perempuan sebagaimana leluhur dahulu mengajarkannya. Kita hidup di zaman ketika sebagian orang lebih mudah mencium tangan bos demi jabatan daripada menghormati ibunya sendiri di rumah. Dan itu disebut kemajuan???

Padahal peradaban tidak diukur dari seberapa canggih teknologi manusia, melainkan dari bagaimana ia memperlakukan wanita.”

Frequently Asked Questions (FAQ)

Bagaimana pandangan Weda terhadap eksistensi wanita di dalam sebuah keluarga? Dalam Weda, wanita tidak sekadar dijadikan penghias dapur atau mesin keturunan pelengkap penderita. Wanita justru diposisikan sangat mulia sebagai pusat keseimbangan rumah tangga, sosok pembawa keberuntungan, dan seorang ratu atau samrājñī.

Apa istilah bagi seorang istri dalam Weda dan apa makna di baliknya? Berdasarkan Rgveda X.85.26, istri disebut sebagai gṛhapatnī yang berarti penguasa atau pengatur rumah tangga. Ia bertugas mengelola serta menjaga keseimbangan keluarga, bukan bertindak layaknya pembantu yang hanya bertugas diam dan memasak.

Mengapa artikel ini menyebutkan istri adalah “rumah” itu sendiri? Kitab Rgveda III.53.4 menyebutkan “Jayed astam” yang berarti sesungguhnya istri adalah rumah. Maknanya, jika wanita di dalam rumah tangga terluka, maka rumah akan kehilangan jiwanya, namun jika ia bahagia, rumah yang sederhana sekalipun akan terasa seperti surga.

Apa parameter kemajuan peradaban menurut artikel ini? Kemajuan sebuah peradaban tidak diukur melalui kecanggihan teknologi manusia di zaman modern. Peradaban yang sejati diukur dari bagaimana manusia, terkhusus laki-laki, mampu menghargai dan memperlakukan wanita secara terhormat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

GERBANG NUSANTARA merupakan singkatan dari Gerakan Bangga, Bangkit, Bangun Hindu Dharma Nusantara.
Translate »

Pin It on Pinterest

Share This