Kolaborasi Sakral: Sekaa Tari Kawitan Dharma Nusantara dan SGI Sekar Puri Ngayah di Pura Samuan Tiga
Suara Hindunesia (Blahbatuh) – Pura Samuan Tiga yang berlokasi di Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, kembali menjadi saksi hidup lestarinya semangat kebersamaan dan pengabdian umat Hindu Bali. Di pura bersejarah ini, terjalin sebuah kolaborasi ngayah sakral antara Sekaa Tari Kawitan Dharma Nusantara dan SGI Sekar Puri Geria Petak Gianyar yang mempersembahkan tarian suci sebagai wujud bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Pura Samuan Tiga, yang pada masa lampau dikenal sebagai Pura Gunung Goak, memiliki posisi sentral dalam sejarah spiritual Nusantara. Di tempat inilah tokoh agung Mpu Kuturan memimpin pertemuan monumental sembilan sekte besar di Bali. Melalui dialog yang khidmat, perbedaan praktik pemujaan berhasil disatukan menjadi sebuah sistem keagamaan yang harmonis. Pertemuan agung tersebut juga melahirkan konsep Pura Kahyangan Tiga (Pura Desa, Pura Puseh, dan Pura Dalem) yang berlandaskan ajaran Tri Murti dan menjadi fondasi religius desa adat di Bali hingga saat ini. Kata “Samuan” sendiri bermakna pertemuan, menjadi pengingat abadi akan pentingnya persatuan.

Semangat penyatuan itulah yang terus dihidupkan melalui tradisi ngayah—sebuah pengabdian tulus tanpa pamrih. Dalam persembahannya, kolaborasi kedua sanggar seni ini menampilkan tiga tari sakral, yakni Tari Rejang Taksu Buana, Tari Rejang Kesari, dan Tari Rejang Renteng. Melalui gerakan yang sederhana namun sarat keanggunan, tarian ini mencerminkan ketulusan jiwa para pragina (penari) dalam memuja para dewata.
Kegiatan pelestarian budaya dan agama ini menuai apresiasi luas. Pemimpin SGI Sekar Geria Petak Gianyar, Agung Geriya, menyatakan bahwa kolaborasi seni tari dan tabuh dalam rangkaian upacara di Pura Samuan Tiga ini merupakan wujud nyata pelestarian warisan leluhur. “Semangat kebersamaan seperti ini mencerminkan nilai persatuan yang sejak dahulu telah diwariskan oleh para leluhur Bali,” tuturnya.

Apresiasi senada juga datang dari Ketua Dekorda Denpasar Puskor Hindunesia, Kasmadi, yang mengungkapkan rasa bangganya melihat keterlibatan generasi penerus. “Partisipasi aktif dalam kegiatan adat dan keagamaan tidak hanya memperkuat identitas budaya, tetapi juga membangun karakter yang berlandaskan nilai spiritual yang luhur,” ujarnya.
Dari sisi pakem dan nilai kesenian, Pelatih Tari Ni Wayan R Lindawati menegaskan bahwa Tari Rejang memiliki kedalaman filosofis yang jauh melebihi seni pertunjukan biasa. “Ini adalah media pembelajaran spiritual bagi para penari. Sangat penting bagi kita untuk menjaga pakem dan kesakralan tari agar nilai-nilai di dalamnya tidak luntur,” tegas Lindawati.
Sementara itu, Wakil Ketua ST Kawitan Dharma Nusantara, Anak Agung Putu Alit Indrawati, memandang kesempatan ngayah di pura bersejarah ini sebagai sebuah kehormatan sekaligus tanggung jawab besar bagi generasi muda. Ia berharap kolaborasi serupa dapat terus berlanjut sebagai wujud bakti dan upaya mempererat rasa persaudaraan antar-umat sedharma.

Pura Samuan Tiga telah membuktikan bahwa ia bukan sekadar situs peninggalan masa lalu, melainkan denyut nadi spiritualitas yang terus hidup. Dari musyawarah Mpu Kuturan di masa lampau hingga kolaborasi ngayah tarian sakral di masa kini, pura ini senantiasa memancarkan pesan bahwa persatuan dan kebersamaan adalah fondasi utama tegaknya dharmaning agama dan dharmaning negara di Bali. (Dekorda Denpasar; Romo Kasmadi untuk Suara Hindunesia).
Link Facebook Post : https://www.facebook.com/share/r/17VmQqgqCN/
FAQ (Frequently Asked Questions)
Apa nilai sejarah yang paling penting dari Pura Samuan Tiga? Pura Samuan Tiga adalah lokasi bersejarah di mana Mpu Kuturan memimpin pertemuan untuk menyatukan sembilan sekte berbeda di Bali. Musyawarah ini melahirkan harmoni keagamaan dan mencetuskan konsep Pura Kahyangan Tiga (Puseh, Desa, Dalem) yang digunakan di seluruh desa pakraman di Bali hingga saat ini.
Siapa saja yang terlibat dalam kolaborasi ngayah tari dalam acara ini? Kegiatan ngayah menari ini merupakan kolaborasi erat antara Sekaa Tari Kawitan Dharma Nusantara dan SGI Sekar Puri Geria Petak Gianyar.
Tarian apa saja yang dipersembahkan dalam kegiatan ngayah tersebut? Ada tiga jenis tarian persembahan suci yang dibawakan, yaitu Tari Rejang Taksu Buana, Tari Rejang Kesari, dan Tari Rejang Renteng.
Mengapa tradisi ngayah tari Rejang dianggap penting bagi generasi muda Hindu? Menurut para tokoh dan pelatih tari, ngayah tari Rejang bukan sekadar seni pertunjukan, melainkan media pembelajaran spiritual yang berfungsi untuk menguatkan identitas budaya, menjaga kesakralan tradisi, dan membangun karakter generasi muda yang berlandaskan nilai-nilai agama.










