Sima Krama di KUBER Payangan: Jero Kubayan Bayad Tekankan Visi Sosial Murni dan Penyelamatan Pertanian Bali
PAYANGAN, ARTIKEL Flash Hindunesia — Kegiatan sima krama antara Panitia, Dekorwil Bali, dan tokoh masyarakat Jero Kubayan Bayad telah sukses diselenggarakan pada hari Selasa, 26 Mei 2026. Pertemuan yang berlangsung pada pukul 10.00 WITA ini bertempat di KUBER, Banjar Bayad, Payangan, dan menjadi ajang konsolidasi penting bagi pergerakan sosial kemasyarakatan di Bali.
Hadir sebagai pembicara utama dalam acara tersebut adalah Jero Kubayan Bayad dan Ketua Panitia, Nyoman Marhaendra. Keduanya menyoroti berbagai isu fundamental yang tengah dihadapi umat Hindu di Bali, mulai dari kemandirian ekonomi, krisis regenerasi petani, hingga evaluasi terhadap birokrasi pemerintah.
Fokus pada Aksi Nyata dan “Ajeg Bali”
Dalam sambutannya, Jero Kubayan Bayad menegaskan bahwa organisasi Pusat Koordinasi (Puskor) harus murni bergerak pada bidang sosial dan kemanusiaan. Beliau secara lugas mengingatkan agar pergerakan ini tidak dijadikan sebagai kendaraan politik praktis maupun ajang untuk mendongkrak bisnis dan kepentingan pribadi.
Menurut Jero Kubayan, tujuan utama dari kebersamaan ini adalah mewujudkan konsep “Ajeg Bali” yang sesungguhnya. Beliau menekankan bahwa persatuan umat, sekecil apa pun, sangat esensial agar pergerakan sosial ini bisa memberikan dampak yang nyata dan terlihat hingga ke tingkat nasional atau Nusantara.
“Nah contoh-contoh kita kembalikan kepada Tri Hita Karana, kita tujuannya kan untuk… mangde ke depankan lah lagi,” ungkap Jero Kubayan Bayad, mengajak umat untuk kembali menghidupkan ajaran leluhur. Beliau juga berharap agar program-program organisasi benar-benar menyentuh langsung ke masyarakat bawah yang tidak berdaya, bukan sekadar menjadi rencana formalitas di atas meja.

Menyoroti Pariwisata, Krisis Pangan, dan Parahyangan
Isu lain yang menjadi perhatian serius Jero Kubayan Bayad adalah tergerusnya sektor pertanian dan perkebunan akibat arus globalisasi serta dominasi sektor pariwisata. Beliau mengingatkan generasi muda bahwa kebutuhan fundamental manusia—seperti beras, sayur, dan daging—tidak bisa diabaikan atau digantikan sepenuhnya oleh kepemilikan uang semata.
Selain urusan pelemahan (lingkungan/pertanian), Jero Kubayan juga menyoroti bidang parahyangan yang mulai kekurangan perhatian. Beliau mencontohkan adanya sebuah Pura Pemaksan di wilayah pegunungan Klungkung yang kondisinya sangat memprihatinkan karena hanya diurus oleh sekitar 15 orang pengempon, di mana banyak warganya yang sudah merantau ke daerah lain. Hal ini menjadi panggilan bagi umat untuk bergotong royong memberdayakan tempat-tempat ibadah yang terbengkalai.

Dorongan Kemandirian dan Kritik Birokrasi
Menyambung arahan dari Jero Kubayan Bayad, Ketua Panitia Nyoman Marhaendra mengajak masyarakat untuk lebih proaktif dalam membangun kemandirian ekonomi. Salah satu langkah konkret yang ditawarkan adalah pemanfaatan lahan-lahan tidur, baik milik pribadi maupun pemerintah, yang selama ini belum tergarap maksimal.
Namun, Marhaendra juga menyampaikan kritik tajam terhadap lambatnya respons dari birokrasi pemerintah. Ia memaparkan pengalaman pahit saat masyarakat Singaraja mengajukan permintaan bibit kelapa melalui dinas tanaman pangan. Walaupun sudah memiliki surat resmi dan dijanjikan sejak bulan April hingga terlewat ke Januari, bibit tersebut justru dialihkan secara mendadak ke Karangasem untuk memenuhi agenda Gubernur.


Kekecewaan terhadap pemerintah tersebut tidak menyurutkan semangat. Nyoman Marhaendra justru mendorong masyarakat untuk bergerak mandiri dari hal-hal kecil.
“Di Bali nika yang paling banyak dibutuhkan apa? Kelapa, busung, biu,” tegas Marhaendra. Ia mengedukasi masyarakat bahwa menanam pohon pisang dan kelapa di tegalan tidak memerlukan perawatan yang terlalu rumit, namun pasti akan menghasilkan dan sangat krusial untuk memenuhi kebutuhan upacara sehari-hari di Bali.
Pertemuan sima krama ini ditutup dengan komitmen bersama untuk saling bahu-membahu. Jero Kubayan Bayad menyatakan kesiapannya untuk senantiasa memberikan dukungan dan dorongan moral demi kemajuan umat.

Fokus utamanya adalah membangun organisasi yang lebih kuat dan solid dengan mengedepankan pelayanan dan pengabdian kepada umat. Organisasi ini juga bertujuan merangkul semua potensi umat tanpa memandang latar belakang atau kepentingan politik.
Jaringan relawan yang loyal dan berdedikasi sangat krusial untuk menghadapi tantangan eksistensi umat Hindu di Bali, baik dari sisi sosial maupun politik. Hal ini ditekankan karena adanya kekhawatiran terkait representasi politik lokal yang mulai berkurang, seperti di Jembrana.
Puskor saat ini sedang memfasilitasi proses pemulangan (repatriasi) jenazah warga pekerja asal Bali yang meninggal karena sakit di Jepang. Ini merupakan kasus pemulangan jenazah ke-17 yang ditangani oleh Puskor.
Festival yang akan digelar pada 17-19 Juli ini bertujuan untuk menunjukkan identitas keragaman adat dan budaya Nusantara. Selain itu, festival ini juga menjadi ajang pemberdayaan ekonomi melalui pameran UMKM dan kuliner, serta menunjukkan kemandirian umat tanpa bergantung pada sponsor luar.













