Mengenal Hindu Kaharingan: Warisan Spiritual Masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah
Suara Hindunesia (Sabtu, 30 Maret 2026) Pada sore hari ini diadakan Hindunesia Zoom Bulan Mei 2026 yang mengambil tema : Mengenal Hindu Kaharingan dengan Narasumber Bapak Drs. Walter S. Penyang. Beliau adalah Ketua Ketua Majelis Hindu Kahariangan Kalimantan Tengah, dengan Miderator Wita Margareta, S.Pd (Sekretaris Dekorwil Kalimantan Puskor Hindunesia). Penyampaian dari Narasumber sangat menarik dan luar biasa. Dalam kegiatan Diskusi juga sangat luar biasa, para peserta banyak bertanya kepada Narasumber untuk lebih mengetahui Hindu Kaharingan di Kalteng, dan berbagai persamaan dengan Hindu du Bali dan Jawa serta berbagai tantangan saudara Hindu Kaharingan, sehingga acara Hindunesia Zoom selesainya pukul 21.45 Wita, lewat 45 menit dari jadwal yang ada.
Semua peserta bertahan dan menyimak Diskusi untuk saling menguatkan Hindu Nusantara. Seperti ada kerinduan bertemu saudara/keluarga yang lama tidak bertemu.
Hindu Kaharingan merupakan salah satu kepercayaan yang telah lama berkembang di kalangan masyarakat Dayak, terutama di wilayah Kalimantan Tengah. Kepercayaan ini lahir dari tradisi dan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun sejak masa lampau. Bagi masyarakat Dayak, Kaharingan tidak hanya dipahami sebagai agama, tetapi juga sebagai bagian penting dari identitas budaya mereka.
Istilah Kaharingan berasal dari bahasa Dayak yang memiliki makna kehidupan atau sumber kehidupan. Makna tersebut menggambarkan keyakinan bahwa seluruh makhluk hidup memiliki keterkaitan yang erat dan berasal dari satu kekuatan yang sama. Oleh karena itu, ajaran Kaharingan menekankan pentingnya menjaga keseimbangan dalam kehidupan.
Dalam sistem kepercayaannya, umat Kaharingan meyakini adanya Tuhan Yang Maha Esa yang disebut Ranying Hatalla Langit. Tuhan dipandang sebagai pencipta alam semesta sekaligus pengatur seluruh kehidupan. Kepercayaan ini menjadi dasar bagi berbagai praktik keagamaan yang dijalankan oleh masyarakat Dayak.
Selain beriman kepada Tuhan, penganut Kaharingan juga memberikan penghormatan yang besar kepada para leluhur. Mereka percaya bahwa roh leluhur tetap memiliki hubungan dengan keluarga yang masih hidup dan dapat memberikan perlindungan serta bimbingan. Karena itu, penghormatan terhadap leluhur menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan spiritual mereka.
Alam memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ajaran Kaharingan. Hutan, sungai, tanah, dan berbagai unsur alam lainnya dianggap memiliki nilai sakral yang harus dijaga keberadaannya. Pandangan ini mendorong masyarakat untuk hidup selaras dengan lingkungan dan menghindari tindakan yang dapat merusak keseimbangan alam.
Perjalanan sejarah Kaharingan mengalami perubahan ketika pemerintah Indonesia pada masa Orde Baru hanya mengakui beberapa agama tertentu. Untuk memperoleh pengakuan resmi dalam administrasi negara, Kaharingan kemudian bergabung ke dalam agama Hindu. Sejak saat itu, istilah Hindu Kaharingan mulai digunakan secara luas.
Walaupun telah berada di bawah naungan agama Hindu, masyarakat Kaharingan tetap mempertahankan berbagai tradisi dan ritual khas yang berasal dari budaya Dayak. Unsur-unsur lokal tersebut tetap menjadi bagian utama dalam pelaksanaan kehidupan beragama mereka. Hal ini menunjukkan bahwa identitas budaya Dayak tetap terjaga hingga saat ini.
Ajaran Hindu Kaharingan memiliki kitab suci yang dikenal dengan nama Panaturan. Kitab ini memuat berbagai ajaran mengenai kehidupan, nilai-nilai moral, serta kisah-kisah yang menjelaskan asal-usul alam semesta. Panaturan menjadi pedoman penting bagi umat dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.
Kegiatan peribadatan umat Hindu Kaharingan umumnya dilaksanakan di Balai Basarah. Tempat ini berfungsi sebagai pusat kegiatan keagamaan sekaligus ruang berkumpul bagi masyarakat. Selain digunakan untuk beribadah, Balai Basarah juga menjadi sarana pelestarian adat dan budaya Dayak.
Salah satu ritual yang paling terkenal dalam Hindu Kaharingan adalah upacara Tiwah. Ritual ini merupakan prosesi adat yang bertujuan mengantarkan roh orang yang telah meninggal menuju alam keabadian. Tiwah dianggap sebagai bentuk penghormatan terakhir yang sangat penting bagi keluarga dan masyarakat.
Pelaksanaan Tiwah biasanya melibatkan banyak pihak, mulai dari keluarga hingga anggota masyarakat lainnya. Prosesi ini sering kali berlangsung dalam waktu yang cukup lama dan diiringi berbagai kegiatan adat. Tarian tradisional, musik khas Dayak, serta persembahan ritual menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upacara tersebut.
Selain Tiwah, terdapat pula berbagai ritual lain yang berkaitan dengan tahapan kehidupan manusia. Upacara kelahiran, pernikahan, hingga kegiatan yang berhubungan dengan pertanian dilakukan berdasarkan aturan adat dan ajaran Kaharingan. Ritual-ritual tersebut memperlihatkan eratnya hubungan antara agama dan kehidupan sosial masyarakat Dayak.
Nilai-nilai moral yang diajarkan dalam Hindu Kaharingan mencakup sikap saling menghormati, kejujuran, kerja sama, dan tanggung jawab. Nilai-nilai tersebut menjadi landasan dalam membangun hubungan yang harmonis di dalam masyarakat. Dengan menerapkan ajaran tersebut, kehidupan bersama dapat berlangsung dengan damai dan tertib.
Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, masyarakat Hindu Kaharingan terus berupaya menjaga keberlangsungan tradisi mereka. Berbagai organisasi keagamaan dan lembaga pendidikan berperan dalam memperkenalkan ajaran Kaharingan kepada generasi muda. Langkah ini penting untuk memastikan warisan budaya dan spiritual tersebut tetap lestari.
Sebagai salah satu kekayaan budaya Indonesia, Hindu Kaharingan menunjukkan betapa beragamnya tradisi keagamaan yang dimiliki bangsa ini. Kepercayaan tersebut mencerminkan kearifan lokal masyarakat Dayak yang telah berkembang selama berabad-abad. Oleh sebab itu, keberadaan Hindu Kaharingan perlu dihargai dan dilestarikan sebagai bagian dari warisan budaya nasional. (NAS)
Liputan ini dapat anda lihat juga di Facebook Official Hindunesia : https://www.facebook.com/share/v/1CNavUdVGN/













