Menggagas Buku “Bunga Rampai Hindu Nusantara”: Upaya Puskor Hindunesia Merawat Memori dan Kebhinekaan Dharma
Media Suara Hindunesia — Diskusi virtual Hindunesia Zoom – Seri Hindu Nusantara yang membedah keunikan Hindu Bongso Wetan (Hindu Madura) di Gresik pada Sabtu (12/9/2026) tidak sekadar menjadi ajang nostalgia budaya. Forum ini melahirkan sebuah cetak biru strategis bagi masa depan pendidikan dan literasi umat: peluncuran gagasan penyusunan buku monumental bertajuk Bunga Rampai Hindu Nusantara.
Ketua Umum Dekornas Puskor Hindunesia, Dr. (H.C.) Ida Bagus K. Susena, S.Kom., menegaskan bahwa wacana penerbitan buku ini adalah respons langsung terhadap urgensi pendidikan generasi muda Hindu yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.
Buku ini diproyeksikan menjadi kompilasi ensiklopedis yang mendokumentasikan kekayaan sejarah, kearifan lokal, filosofi, dan tata laku keagamaan (seperti Hindu Bongso Wetan di Gresik, Hindu Tengger di Bromo, hingga Hindu Alukta di Toraja).
Mendobrak Kesenjangan Kurikulum Pendidikan Agama
Selama berdekade, narasi pendidikan agama Hindu di sekolah-sekolah formal kerap menghadapi kendala standarisasi yang cenderung berpusat pada satu kebudayaan mayoritas (Bali-sentris). Hal ini memunculkan ironi di mana anak-anak didik Hindu di kawasan Jawa, Kalimantan, atau Sulawesi seringkali tidak mengenali warisan peninggalan leluhurnya sendiri.
Menurut penuturan Ida Bagus K. Susena, penyusunan Bunga Rampai Hindu Nusantara ini ditujukan untuk memformulasikan bahan ajar komprehensif bagi anak didik dan siswa Hindu di seluruh Indonesia. Dengan demikian, generasi penerus tidak hanya diajak untuk mengenal jati diri lokalnya, tetapi juga diperkenalkan pada keragaman saudara se-Dharmanya di wilayah lain. Hal ini mengundang antusiasme besar dari peserta diskusi, di mana kesepakatan muncul agar bahan ajar ini segera direalisasikan demi kebangkitan kebanggaan pemuda Hindu.

Literasi Sebagai Benteng Sradha Menghadapi Era Modern
Dalam forum diskusi yang sama, terungkap curahan hati para tokoh lokal seperti Kusno (Ketua PHDI Gresik), yang mengakui beratnya tantangan membina mental generasi muda di tengah himpitan budaya pop dan infiltrasi misionaris asing. Di sinilah buku kompilasi ini menemukan fungsi terpentingnya: sebagai literatur penangkal dan benteng sradha.
Ketika ajaran, sejarah, dan nilai-nilai luhur seperti penggunaan cok bakal, tumpeng sewelas, atau toleransi akar rumput di Bongso Wetan dicatat secara akademis dan sistematis, tradisi tersebut tidak akan mudah luntur. Pendokumentasian yang kuat akan mencegah kearifan keagamaan Hindu direduksi menjadi sekadar “adat kebiasaan” tanpa ruh ketuhanan.
Merajut Persaudaraan Lewat “Vasudhaiva Kutumbakam”
Gagasan penulisan buku ini juga merupakan manifestasi nyata dari filosofi Vasudhaiva Kutumbakam (seluruh dunia adalah satu keluarga). Dengan saling membaca dan mempelajari akar tradisi satu sama lain, umat Hindu di Nusantara dapat merubuhkan sekat-sekat etnosentrisme. Pemahaman literatur ini akan memupuk sikap akomodatif dan adaptif antarumat, memperkuat solidaritas komunal, dan memastikan bahwa keragaman adalah kekuatan utama—bukan pemicu perpecahan—dalam tubuh Hindu Nusantara.
Proyek Bunga Rampai Hindu Nusantara adalah panggilan sejarah. Keberhasilannya kelak akan menjadi warisan intelektual paling berharga yang diwariskan oleh generasi hari ini untuk kejayaan Hindu Indonesia di masa depan.
FAQ – Pertanyaan Umum
Buku “Bunga Rampai Hindu Nusantara” adalah proyek literasi yang digagas oleh Puskor Hindunesia untuk mengkompilasi, mendokumentasikan, dan menyusun sejarah serta kearifan lokal komunitas Hindu di seluruh Indonesia ke dalam sebuah karya literatur utuh.
Buku ini sangat penting untuk diformulasikan sebagai bahan ajar dan sumber pengetahuan bagi siswa Hindu di sekolah-sekolah formal. Tujuannya agar anak-anak Hindu tidak kehilangan identitas lokalnya dan teredukasi mengenai keberagaman saudara se-Dharma di seluruh pelosok negeri, guna mencegah krisis identitas akibat kurikulum yang selama ini kurang representatif.
Gagasan ini secara langsung didorong dan dikawal oleh Ketua Umum Dekornas Puskor Hindunesia, Dr. (H.C.) Ida Bagus K. Susena, S.Kom., sebagai tindak lanjut dari temuan dan diskusi komprehensif dalam program virtual rutin Hindunesia Zoom – Seri Hindu Nusantara.
Dengan mendokumentasikan tradisi ke dalam literatur formal, ajaran leluhur yang selama ini hanya bertahan secara lisan dapat diselamatkan dari ancaman kepunahan, serta mencegah ritual sakral Hindu direduksi atau diklaim oleh pihak luar hanya sebagai acara kebudayaan (adat) semata tanpa makna spiritual.













