Pilih Halaman

Mengenal Lebih Dalam Hindu Tengger: Jejak Sejarah, Esensi Yadnya, dan Harmoni Alam Bersama Bambang Suprapto

Mengenal Lebih Dalam Hindu Tengger: Jejak Sejarah, Esensi Yadnya, dan Harmoni Alam Bersama Bambang Suprapto

BALI — Kekayaan tradisi dan spiritualitas Hindu Nusantara kembali menjadi sorotan utama dalam ruang virtual malam ini. Melalui program diskusi eksklusif Hindunesia Zoom – Seri Hindu Nusantara, ratusan umat dari berbagai penjuru tanah air berkumpul untuk menyelami kearifan lokal masyarakat lereng Bromo dengan tajuk “Mengenal Hindu Tengger”.

Menghadirkan tokoh sentral pelestari adat, Bapak Bambang Suprapto, yang menjabat sebagai Ketua PHDI Kabupaten Probolinggo sekaligus Sekretaris Umum (Sekum) Paruman Dukun Pandita Kawasan Tengger, diskusi ini membuka mata umat tentang betapa teguhnya masyarakat Tengger dalam menjaga warisan leluhur di tengah arus modernisasi.

Berikut adalah intisari dari liputan mendalam pemaparan beliau yang berhasil dirangkum oleh redaksi Suara Hindunesia.

Sejarah Pengukuhan Identitas Spiritual

Satu hal yang menarik dari masyarakat Tengger adalah perjalanan historis mereka dalam menentukan identitas keagamaan secara administratif. Bapak Bambang menjelaskan bahwa pada masa lalu, sebelum tahun 1965, masyarakat Tengger sempat mengaku sebagai penganut agama Buddha. Namun, karena tidak mengenal kitab suci, tidak mengetahui sebutan Siddharta Gautama, dan tidak memahami tata cara ibadahnya, status tersebut tidak mendapat pengakuan dari pemerintah.

Barulah pasca tahun 1965, para tokoh Tengger akhirnya menentukan secara tegas bahwa status keagamaan orang Tengger adalah agama Hindu. Pengukuhan ini bukan sekadar klaim sepihak, melainkan didukung oleh penelitian ilmiah mendalam dari para akademisi Institut Hindu Dharma Denpasar. Penelitian tersebut mengkaji berbagai aspek krusial, di antaranya:

  • Mantra Dukun Pandita: Terbukti memiliki nilai-nilai yang mengagungkan entitas Dewa-Dewi suci layaknya kitab suci Hindu.
  • Alat Ritual: Penggunaan sarana seperti Prasen, Prapen, dan Sampet yang lekat dengan laku spiritual Hindu.
  • Sarana dan Tata Cara Upacara: Baik yang bersifat individual maupun komunal.
Bambang Suprapto menjadi Narasumber Hindunesia Zoom Mengenal Hindu Tengger
Bambang Suprapto menjadi Narasumber Hindunesia Zoom Mengenal Hindu Tengger

Otoritas Adat dan Kepemimpinan Umat

Dalam menjaga ekosistem spiritual dan adat istiadat, masyarakat Tengger memiliki struktur kepemimpinan yang sangat kuat dan dihormati. Bapak Bambang Suprapto sendiri tergabung dalam Paruman Dukun Pandita, sebuah lembaga sakral yang mewadahi para pewaris aktif tradisi di kawasan tersebut.

Lembaga inilah yang memiliki kewenangan mutlak dalam mengangkat dan memberhentikan seorang Dukun Pandita, sekaligus merumuskan peraturan-peraturan adat. Secara demografis dan wilayah pengabdian, kepemimpinan adat ini secara aktif mengayomi umat di 41 desa di kawasan Tengger, yang kehidupan adatnya dilayani oleh 47 Dukun Gedhe.

Filosofi Bromo: Erupsi Bukanlah Bencana

Sikap masyarakat Tengger terhadap alam semesta memberikan pelajaran spiritual yang luar biasa, khususnya terkait Gunung Bromo yang menjadi pusat orientasi kosmis mereka. Meskipun tinggal di kawasan rawan bencana dan sewaktu-waktu gunung bisa erupsi, umat Hindu Tengger tidak pernah memiliki rasa was-was.

Bapak Bambang menuturkan falsafah di balik ketenangan tersebut. Bagi umat Tengger, erupsi Bromo bukanlah sebuah bencana yang harus ditakuti, melainkan sebuah pertanda bahwa Leluhur sedang membangun. Keyakinan inilah yang menjadi fondasi bagi mereka untuk terus melangsungkan upacara-upacara ritual penting tanpa henti, seperti Yadnya Kasada, Karo, Unan-unan, Pujan-pujan, Liliwet, hingga Megeng / Pati Geni.

Meluruskan Makna Kasada dan Nyadran

Di era pariwisata modern, banyak ritual sakral yang perlahan tereduksi maknanya menjadi sebatas tontonan. Bapak Bambang Suprapto dengan konsisten terus menyuarakan esensi sejati di balik ritual besar seperti Yadnya Kasada dan Nyadran.

Beliau menegaskan bahwa ritual tersebut bukan sekadar atraksi budaya atau daya tarik wisata belaka. Ritual itu adalah wujud yadnya (pengorbanan suci) yang nyata untuk menjaga keharmonisan tripartit: keseimbangan antara manusia dengan Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi Wasa), manusia dengan alam semesta, dan manusia dengan sesama umat.

Presentasi Bambang Suprapto Mengenal Hindu Di Tengger
Presentasi Bambang Suprapto Mengenal Hindu Di Tengger

Materi yang dibawakan oleh Bapak Bambang Suprapto menyadarkan kita bahwa keberagaman Hindu di Nusantara adalah sebuah keniscayaan yang harus dirawat bersama. Hindu Tengger, dengan kesederhanaan, kejujuran, dan keteguhan iman mereka, adalah permata spiritual yang memberikan warna indah bagi Ibu Pertiwi.

Mari terus mendukung dan memperkuat narasi-narasi lokal Nusantara agar Hindu Indonesia terus mengakar pada tradisinya, sekaligus mekar menghadapi tantangan zaman. Bangga, Bangkit, Bangun! Jaya Hindunesia!

FAQ – Pertanyaan Umum

Siapa Bapak Bambang Suprapto dalam komunitas Hindu Tengger?

Bapak Bambang Suprapto adalah seorang tokoh penting pelestari adat yang menjabat sebagai Ketua PHDI Kabupaten Probolinggo. Selain itu, beliau juga mengemban amanah sebagai Sekretaris Umum (Sekum) Paruman Dukun Pandita Kawasan Tengger.

Apa peran dari lembaga Paruman Dukun Pandita?

Paruman Dukun Pandita adalah lembaga adat dan spiritual bergengsi yang mewadahi para dukun pandita se-Kawasan Tengger sebagai pewaris aktif tradisi. Lembaga ini memiliki otoritas sakral, termasuk kewenangan untuk mengangkat dan memberhentikan seorang dukun pandita serta membuat peraturan-peraturan adat.

Bagaimana awal mula penetapan agama Hindu bagi Suku Tengger?

Sebelum tahun 1965, masyarakat Tengger sempat mengaku beragama Buddha, namun tidak diakui pemerintah karena tidak mengenal kitab sucinya maupun tata cara ibadahnya. Pasca 1965, setelah didukung oleh hasil penelitian ilmiah dari Dosen Institut Hindu Dharma Denpasar terkait mantra dan alat ritual dukun pandita, para tokoh Tengger akhirnya menentukan status keagamaan mereka sebagai agama Hindu.

Mengapa masyarakat Hindu Tengger tidak merasa was-was saat Gunung Bromo erupsi?

Umat Hindu Tengger memiliki filosofi yang mendalam terhadap alam. Meskipun tinggal di kawasan rawan erupsi, mereka meyakini bahwa erupsi Bromo bukanlah sebuah bencana alam yang harus ditakuti, melainkan pertanda bahwa para leluhur sedang “membangun”.

Apa makna sebenarnya dari ritual Yadnya Kasada menurut ajaran Hindu Tengger?

Ritual seperti Yadnya Kasada dan Nyadran bukanlah sekadar atraksi budaya atau pariwisata semata. Ritual tersebut merupakan yadnya (pengorbanan suci) yang nyata dengan tujuan mulia untuk menjaga keharmonisan dan keseimbangan antara manusia dengan Tuhan, alam semesta, dan sesama umat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SEKRETARIAT DEWAN NASIONAL
Jl. Kertanegara Gg. Indrapura No.2
Ubung Kaja, Kecamatan Denpasar Utara,
Kota Denpasar, Bali
Indonesia 80116
Phone : +62 817 975 3936
E-mail : puskor.hindunesia@gmail.com
Website : https://hindunesia.id
Translate »