Pilih Halaman

Sekapur Sirih Pembimas Hindu Jatim: Mengupas Kemajemukan dan Keunikan Tradisi Hindu Tengger

Sekapur Sirih Pembimas Hindu Jatim: Mengupas Kemajemukan dan Keunikan Tradisi Hindu Tengger

Surabaya, Media Suara Hindunesia – Kekayaan tradisi Hindu di Nusantara seolah tak pernah habis untuk digali. Dalam perhelatan diskusi virtual Hindunesia Zoom – Seri Hindu Nusantara yang digagas oleh Puskor Hindunesia bertajuk “Mengenal Hindu Tengger”, wawasan umat se-Dharma dibuka melalui pemaparan yang sangat komprehensif oleh Bapak Budiono, S.Ag., selaku Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur.

Sebagai figur yang mengayomi ratusan ribu umat Hindu di wilayah timur Pulau Jawa, Bapak Budiono memberikan “sekapur sirih” yang bukan sekadar kata sambutan, melainkan sebuah peta jalan (blueprint) mengenai sosiologis, geografis, dan kekayaan spiritual umat Hindu, khususnya masyarakat Tengger.

Kemajemukan Umat Hindu di Jawa Timur

Mengawali paparannya, Bapak Budiono memperkenalkan potret kebhinekaan Hindu di Jawa Timur yang luar biasa. Beliau menyebutkan bahwa dari 38 kabupaten/kota yang ada, populasi umat Hindu mencapai angka yang cukup fantastis, yakni sekitar 392.890 jiwa.

Kekuatan spiritual ini ditopang oleh keberadaan 526 Pura yang tersebar dari ujung Banyuwangi hingga Pacitan. Menariknya, umat Hindu di Jawa Timur sangatlah majemuk. “Umat kita di sini tidak hanya terdiri dari suku Jawa, tetapi juga merangkul saudara-saudara dari suku Bali, Tionghoa, Batak, hingga Madura,” papar beliau, menegaskan betapa Jawa Timur adalah miniatur toleransi Nusantara.

Pembimas Hindu Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Timur ketika menyampaikan Sekapur Sirih Sambutannya
Pembimas Hindu Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Timur ketika menyampaikan Sekapur Sirih Sambutannya

Karakteristik Egaliter dan Geografis Suku Tengger

Beranjak ke topik utama, Bapak Budiono membedah kehidupan komunitas Hindu Tengger yang mendiami kawasan lereng Gunung Bromo dan Semeru. Secara administratif, wilayah adat mereka membentang melintasi empat kabupaten: Malang, Lumajang, Probolinggo, dan Pasuruan (mencakup kawasan eksotis seperti Tosari, Sukapura, Ngadas, dan Ranupani).

Beliau menyoroti satu nilai kearifan lokal yang paling menonjol dari masyarakat Tengger, yaitu struktur sosial mereka yang egaliter. Masyarakat Tengger sama sekali tidak mengenal sistem kasta (wangsa). Keharmonisan dibangun murni dari rasa saling menghormati, terutama kepada yang lebih tua.

“Cara mereka memanggil satu sama lain sangat unik dan kental kekeluargaan. Misalnya, untuk menyapa seseorang yang sudah berkeluarga, mereka biasanya menggunakan nama anak pertamanya,” jelas Bapak Budiono. Selain itu, bahasa yang mereka gunakan masih mempertahankan dialek Jawa Kuno yang lugas, tanpa tingkatan bahasa (undak-usuk) yang kaku.

Adaptasi Ekonomi Tanpa Meninggalkan Tradisi

Bapak Budiono juga memuji kemampuan adaptasi Suku Tengger di era modern. Dengan kontur tanah berbukit, masyarakat Tengger mahir bertani dengan sistem terasering. Namun, seiring meroketnya popularitas Bromo sebagai destinasi wisata dunia, umat Hindu Tengger kini juga berdaya di sektor pariwisata. Mereka mengelola homestay, rumah makan, hingga menyewakan jeep dan kuda.

Meski ekonomi berkembang pesat, spiritualitas tidak pernah ditinggalkan. Setiap rumah warga Tengger senantiasa dilengkapi dengan tempat pemujaan seperti Pura, Sanggar Pamujan, atau Padmasari di bagian depan rumahnya.

Dualitas Kepemimpinan dan Beratnya Ujian Dukun Pandita

Dalam tatanan desa, Bapak Budiono menjelaskan adanya dualitas kepemimpinan yang harmonis. Urusan pemerintahan desa dan adat dipimpin oleh seorang “Petinggi” (Kepala Desa yang dipilih langsung oleh rakyat). Sementara itu, urusan keagamaan dan ritual murni dipegang oleh “Dukun Pandita”.

Satu fakta mengejutkan yang diungkapkan oleh Pembimas Hindu Jatim ini adalah beratnya syarat untuk menjadi seorang Dukun Pandita.

“Seorang calon Dukun Pandita harus melewati Ujian Mulunen pada malam upacara Yadnya Kasada di Pura Luhur Poten Bromo. Dalam ujian sakral tersebut, calon harus merapalkan mantra-mantra suci tanpa boleh terputus, salah, atau lupa sedikitpun. Jika gagal, maka ia batal dikukuhkan menjadi Dukun Pandita,” terang beliau, menggambarkan tingginya standar spiritualitas yang dijaga ketat oleh Suku Tengger.

Sebagai penutup sekapur sirihnya, Bapak Budiono menjabarkan siklus ritual adat yang lestari hingga hari ini, mulai dari Hari Raya Karo (perayaan terbesar suku Tengger), upacara Kapal, Kawulu, Kasongo, hingga puncak Yadnya Kasada—sebuah ritual melarung hasil bumi ke kawah Gunung Bromo sebagai wujud syukur (Krta Wara) kepada Sang Hyang Widhi Wasa dan leluhur.

Pemaparan sekapur sirih dari Bapak Budiono, S.Ag. tidak hanya membuka mata audiens, tetapi juga menegaskan pentingnya menjaga keutuhan dan kemurnian Hindu Nusantara. Mari kita terus mendukung pergerakan umat dan merawat warisan leluhur di tanah air.

FAQ – Pertanyaan Umum

Siapakah Bapak Budiono, S.Ag.?

Bapak Budiono, S.Ag. adalah tokoh birokrat dan pelayan umat yang saat ini menjabat sebagai Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Hindu pada Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur. Beliau aktif mengayomi umat Hindu yang sangat majemuk di wilayah Jawa Timur.

Di mana saja persebaran Suku Tengger berada?

Masyarakat Hindu Tengger mendiami kawasan lereng Gunung Bromo dan Semeru, yang secara administratif tersebar di empat kabupaten di Jawa Timur, yaitu Kabupaten Malang, Lumajang, Probolinggo, dan Pasuruan (seperti wilayah Tosari, Sukapura, Ngadas, dan Ranupani).

Apa itu “Ujian Mulunen” dalam tradisi Hindu Tengger?

Ujian Mulunen adalah ujian kelayakan yang sangat berat bagi calon Dukun Pandita (pemimpin ritual keagamaan Tengger). Ujian ini dilakukan saat upacara Yadnya Kasada di Pura Luhur Poten, di mana calon diwajibkan merapalkan mantra suci tanpa terputus, tanpa salah, dan tanpa lupa sedikitpun. Jika gagal, ia batal menjadi Dukun Pandita.

Apa keunikan struktur sosial masyarakat Tengger?

Masyarakat Tengger memiliki struktur sosial yang sangat egaliter dan kekeluargaan. Mereka tidak mengenal sistem kasta (wangsa) dan tidak memiliki tingkatan bahasa (undak-usuk) yang kaku dalam penggunaan bahasa Jawa Kuno dialek lokal mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SEKRETARIAT DEWAN NASIONAL
Jl. Kertanegara Gg. Indrapura No.2
Ubung Kaja, Kecamatan Denpasar Utara,
Kota Denpasar, Bali
Indonesia 80116
Phone : +62 817 975 3936
E-mail : puskor.hindunesia@gmail.com
Website : https://hindunesia.id
Translate »