Pilih Halaman

Menelusuri Jejak Peradaban dan Spiritualitas Hindu Bongso Wetan: Dialektika Kritis dalam Hindunesia Zoom 2026

Menelusuri Jejak Peradaban dan Spiritualitas Hindu Bongso Wetan: Dialektika Kritis dalam Hindunesia Zoom 2026

GRESIK, Media Suara Hindunesia — Perhelatan virtual Hindunesia Zoom – Seri Hindu Nusantara yang diselenggarakan oleh Pusat Koordinasi Hindu Indonesia (Puskor Hindunesia) pada Sabtu malam (12/9/2026) melahirkan dialektika keilmuan yang sangat bernas. Membedah tema Mengenal Hindu Bongso Wetan (Hindu Madura): Tradisi, Spiritualitas, dan Kontribusi Hindu Madura untuk Indonesia”, sesi diskusi interaktif dalam webinar ini menjadi panggung pengungkapan data sejarah, praksis kerukunan, serta peta jalan pemberdayaan umat Hindu di Kabupaten Gresik, Jawa Timur.

Diskusi dipandu secara taktis oleh Riko Widiyanto, S.Pd. (Ketua DPK Peradah Indonesia Kabupaten Gresik) selaku moderator. Forum ini menampilkan narasumber utama Kusno (Ketua PHDI Kabupaten Gresik), didampingi kupasan historis dari I Gusti Putu Raka Arthama (Ketua PHDI Provinsi Jawa Timur), serta arahan filosofis Dr. (H.C.) Ida Bagus K. Susena, S.Kom. (Ketua Umum Dekornas Puskor Hindunesia). Partisipasi aktif lebih dari 140 peserta dari kalangan akademisi, rohaniwan, dan tokoh adat se-Nusantara memperkaya ruang dialog selama lebih dari tiga jam.

Berikut adalah ulasan mendalam perihal topik-topik strategis yang dibahas secara terpisah dalam sesi diskusi tersebut:

1. Karakteristik Teologis dan Praksis Toleransi Harmonis Hindu Madura

Karakteristik spesifik umat Hindu etnis Madura di Dusun Bongso Wetan mengemuka melalui pertanyaan yang diajukan oleh Ferdinandus Nanduq dan I Gede Suardika, serta tanggapan mengenai relasi sosial kemasyarakatan dari Anom Cok (Banjarmasin).

Menjawab hal tersebut, Kusno menjelaskan bahwa watak dasar etnis Madura yang tegas dan lugas mengalami sublimasi spiritual melalui pemahaman mendalam atas ajaran hukum Karmaphala dan Tat Twam Asi. Umat Hindu Bongso Wetan tidak menerapkan budaya kekerasan (seperti tradisi carok), melainkan mengedepankan kesadaran moral dan musyawarah mufakat dalam menyelesaikan setiap gesekan sosial.

Praksis toleransi diuji secara nyata ketika Hari Suci Nyepi berdekatan dengan ibadah Ramadan dan Idulfitri. Kusno memaparkan bahwa para tokoh adat Hindu dan takmir masjid setempat telah menyepakati protokol toleransi: pengeras suara takbir keliling dimatikan saat melintasi pemukiman Dusun Bongso Wetan. Sebaliknya, pemuda Muslim turut bergotong royong dalam proses pembuatan hingga pengarakan ogoh-ogoh pada malam Pengerupukan. Selain itu, tradisi membagikan makanan sesaji (prasadam) kepada tetangga Muslim seusai persembahyangan rutin tetap dirawat sebagai sarana mempererat persaudaraan di akar rumput.

2. Genealogi Sejarah, Transisi Pasca-1965, dan Ketahanan Sradha

Pertanyaan mengenai kronologi historis keberadaan komunitas Hindu di Bongso Wetan diangkat oleh Kadek Sumadiyase, yang kemudian dipertajam oleh Parji (Sanggar Seni Tengger) terkait dinamika misionaris dan pernikahan lintas keyakinan.

Kusno menegaskan bahwa cikal bakal komunitas ini berakar dari migrasi warga Madura ke daratan Gresik sekitar tahun 1910. Secara keyakinan, para leluhur awalnya mempraktikkan ajaran Budha Jawi Wisnu. Pasca-peristiwa politik 1965, menyusul regulasi pemerintah yang mewajibkan pencatatan pada agama resmi negara, para sesepuh desa—salah satunya dipelopori oleh keluarga orang tua Wongso Negoro—menetapkan status keagamaan mereka sebagai pemeluk agama Hindu murni pada tahun 1968.

Terkait tantangan misionaris, Kusno tidak menampik adanya upaya pergeseran keyakinan, baik melalui persuasi sosial maupun perkawinan. Komunitas Hindu Bongso Wetan mengantisipasi hal ini dengan memperkuat ketahanan keluarga dan pendidikan adat. Salah satu langkah mandiri yang monumental adalah pengadaan lahan pemakaman swadaya senilai Rp700 juta di samping makam leluhur desa (Mbah Buyut Marbung), serta perintisan perizinan analisis dampak lingkungan (Amdal) untuk pendirian fasilitas krematorium modern di perbatasan Gresik-Surabaya.

Berikut adalah rekaman lengkap dari Hindunesia Zoom – Mengenal Hindu Bongso Wetan (Hindu Madura).

3. Tinjauan Arkeologis Candi, Petirtaan Punden, dan Relasi Majapahit-Madura

Peserta diskusi asal Bengkulu yang bermukim di Trowulan, Bobi Sandi, menanyakan keterkaitan struktural candi di Gresik dengan peninggalan Majapahit (seperti Candi Brahu) serta korelasi historis Raden Wijaya dengan para penguasa Madura.

Merespons pertanyaan ini, Kusno meluruskan bahwa secara arkeologis, Kabupaten Gresik tidak memiliki struktur candi berbahan bata merah layaknya kawasan Trowulan. Peninggalan leluhur di Gresik lebih banyak termanifestasikan dalam bentuk punden berundak dan sumur kuno (petirtaan) yang hingga kini difungsikan sebagai lokasi upacara Melasti dan Sedekah Bumi.

Penjelasan ini diperkuat oleh Ketua PHDI Jatim, I Gusti Putu Raka Arthama, yang memaparkan catatan sejarah awal berdirinya Kemaharajaan Majapahit. Beliau menggarisbawahi peran krusial Adipati Songennep (Sumenep) Arya Wiraraja, tokoh asal Madura yang memberikan perlindungan politik dan strategi bagi Raden Wijaya saat menghadapi Jayakatwang dari Kediri. Raka Arthama juga merekomendasikan penelusuran situs spiritual Jawa Timur lainnya, seperti ratusan candi di lereng Gunung Pawitra (Penanggungan) dan Petirtaan Jolotundo, sembari menyebutkan riset mutakhir komunitas Hindu yang mengidentifikasi sumur kuno untuk panglukatan di kawasan Pukulilo, Bangkalan, Madura.

4. Mengurai Benang Merah Klan Pinatih Bali, Nyi Ageng Pinatih, dan Arya Kuda Pinoleh

Diskusi memasuki ranah sejarah komparatif saat akun LSW menanyakan hubungan historis antara komunitas Hindu Bongso Wetan, figur Nyi Ageng Pinatih di Gresik, serta klan Arya Wang Bang Pinatih di Pulau Bali.

I Gusti Putu Raka Arthama menguraikan analisis kronologis:

  • Nyi Ageng Pinatih di Gresik (Abad ke-15): Dikenal luas dalam catatan sejarah sekitar tahun 1458 hingga 1477 sebagai Syahbandar Pelabuhan Gresik. Beliau merupakan putri/istri bangsawan dari Keraton Blambangan yang memiliki jasa besar di bidang niaga pelabuhan dan tercatat sebagai ibu asuh dari Raden Paku (Sunan Giri).
  • Klan Arya Pinatih di Bali (Akhir Abad ke-13): Memiliki lini masa yang jauh lebih tua, yakni bermula pada masa transisi Singasari menuju awal berdirinya Majapahit (sekitar tahun 1294) melalui trah Ki Arya Belog/Ki Arya Wang Bang Pinatih yang berpangkal dari Dang Hyang Bang Manik Angkeran dan Dang Hyang Siddhimantra.

Perbedaan kurun waktu sekitar dua abad ini mengindikasikan adanya kemungkinan relasi genealogis lanjutan dari trah bangsawan Jawa Timur ke Bali. Wawasan ini kian diperkaya oleh informasi historis dari Mangku Mudra, yang menyinggung keberadaan Pura Kembar Madura dan Banjar Madura di Sanur, Denpasar, Bali. Raka Arthama mengonfirmasi bahwa Pura Kembar dan Pura Dalem Tengah Segara di Sanur dibangun sebagai bentuk penghormatan sakral bagi Arya Kuda Pinoleh (Arya Madura), panglima ekspedisi Majapahit ke Bali pada masa pemerintahan Dalem Sri Semara Kepakisan, yang ritus persembahyangan (piodalan)-nya senantiasa diperingati setiap Sasih Kapat.

5. Arsitektur Hunian dan Standar Kepemimpinan Rohaniwan Upacara

Tata ruang pemukiman dan otoritas kepemimpinan ritual dibahas mendalam menyusul pertanyaan dari Ch. M. Pujiastuti (Denpasar) mengenai arsitektur hunian, serta pertanyaan I Nyoman Partha, S.Ag. perihal sosok rohaniwan yang memuput yadnya di Gresik.

Kusno menjelaskan bahwa secara fisik, arsitektur rumah warga Hindu di Dusun Bongso Wetan menyatu secara organik dengan arsitektur rumah pedesaan Jawa-Madura pada umumnya, tanpa kewajiban membangun pemerajan atau sanggah keluarga yang mencolok. Pendekatan ini sengaja dirawat agar interaksi antarumat tetap inklusif, sekaligus memfokuskan pusat aktivitas peribadatan dan sosialisasi di pura desa (Pura Kerta Bumi).

Terkait pelaksanaan upacara:

  • Upacara Skala Besar (Piodalan, Melasti, Upacara Suci Murwokolo): PHDI Gresik mewajibkan upacara dipuput oleh Pinandita atau Sulinggih demi menjamin keabsahan tata laku liturgi Weda.
  • Upacara Rutin (Saraswati, Siwaratri, Galungan, Kuningan): Cukup dipimpin oleh Pemangku setempat.

Dalam tatanan sarana ritual (upakara), umat Hindu Bongso Wetan menempatkan sesaji lokal Jawa seperti tumpeng sewelas, cok bakal, dan sandingan sejajar dengan persembahan banten, mencerminkan keharmonisan tradisi tanpa memunculkan dikotomi budaya.

6. Pendidikan Generasi Muda, Pasraman Harian, dan Kaderisasi

Isu masa depan generasi muda dan ketersediaan tenaga pendidik agama Hindu diangkat oleh akademisi Prof. Dr. I Dewa Nyoman Supariasa, MPS.

Kusno menegaskan komitmen PHDI Gresik dalam menempatkan pendidikan sebagai benteng utama sradha. Di sektor formal, Gresik telah memiliki Taman Kanak-Kanak (TK) Saraswati dan menempatkan guru agama Hindu berstatus aparatur sipil negara (ASN) maupun guru tetap di sekolah negeri, termasuk di SMP Negeri 1 Gresik. Umat juga menjalin kerja sama beasiswa pendidikan tinggi dengan UNESA, STAH Mpu Kuturan Singaraja, STAH Jawa Dwipa Klaten, dan STAH Shantika Dharma Malang.

Di sektor nonformal, pasraman di seluruh pura Gresik beroperasi intensif dari hari Senin hingga Jumat (pukul 15.00 hingga 18.00 WIB), yang dilanjutkan dengan tradisi persembahyangan bersama setiap senja. Kusno mengakui adanya keengganan generasi muda terhadap format Dharma Wacana yang teoritis dan monoton. Oleh karena itu, kurikulum pasraman diperkaya dengan pembinaan praktis public speaking, pelatihan pemandu acara (MC), serta pengasahan bakat seni melalui karawitan dan Sanggar Tari Remo.

7. Rekomendasi Strategis: Menggagas Desa Wisata Bongso Wetan dan Darmayatra Nusantara

Menjelang akhir sesi diskusi, mengemuka gagasan visioner dari Prof. Dr. Drs. I Ketut Subagiasta, M.Si., D.Phil. (Guru Besar asal Palangka Raya, Kalimantan Tengah). Beliau mengusulkan agar Dusun Bongso Wetan dikemas secara profesional menjadi Desa Wisata Tradisional/Religi Bongso Wetan, mengadopsi keberhasilan Desa Penglipuran di Bali.

Prof. Subagiasta menggarisbawahi bahwa keberadaan lima pura di lima desa di Gresik merupakan modal budaya yang langka. Beliau menyarankan pembentukan paket ziarah terpadu yang terintegrasi dengan jaringan situs suci Jawa Timur: Blambangan – Semeru (Lumajang) – Bromo (Tengger) – Trowulan (Mojokerto) – Bongso Wetan (Gresik). Untuk membangkitkan ekonomi kerakyatan, rumah-rumah warga dapat difungsikan sebagai penginapan (homestay), diiringi dengan standarisasi produk UMKM lokal seperti keripik dan penganan khas Bongso sebagai cinderamata wajib bagi para peziarah.

Gagasan ini disambut antusias oleh Ketua Umum Puskor Hindunesia, Dr. (H.C.) Ida Bagus K. Susena, S.Kom. Beliau menyatakan bahwa Puskor Hindunesia segera mengkonkretkan program Darmayatra Nusantara khusus kantong umat Gresik, sembari menggerakkan penerbitan buku Bunga Rampai Hindu Nusantara sebagai buku referensi dan bahan ajar nasional.

8. Refleksi Pembinaan Umat Minoritas se-Nusantara

Sesi penutup diperkaya oleh refleksi lintas daerah:

  • Prof. Dr. I Ketut Suardika, M.Si. (Kendari, Sulawesi Tenggara): Membagikan komparasi sosiologis perkembangan desa transmigran Hindu Jatibali di Sultra. Beliau mengingatkan bahwa dalam lanskap masyarakat mayoritas, identitas Hindu tidak harus ditonjolkan secara eksklusif atau mencolok secara fisik, melainkan melalui keteladanan budi pekerti, kepatuhan hukum, dan persatuan komunal di pura.
  • Ida Pandita Mpu Agredwija (Serang, Banten): Menyoroti persoalan struktural yang dihadapi kantong-kantong umat minoritas di luar Bali, mulai dari penolakan operasional krematorium, kendala pencatatan akta perkawinan yang berimbas pada akta kelahiran anak sekolah, hingga fenomena pura yang terbengkalai akibat pergeseran mata pencarian.
  • I Gusti Ngurah Ngurayasa (Pengurus PHDI Pusat): Menyampaikan apresiasi atas konsistensi forum Hindunesia Zoom dan menegaskan pentingnya kolaborasi PHDI bersama Puskor Hindunesia dalam merapikan basis data serta memetakan potensi demografi umat Hindu Nusantara.

Diskusi komprehensif ini membuktikan bahwa komunitas Hindu Bongso Wetan bukan sekadar entitas lokal, melainkan salah satu mutiara berharga dalam mozaik kebhinekaan Hindu Indonesia yang patut dijaga eksistensinya melalui kolaborasi nyata.

FAQ – Pertanyaan Umum

Apa topik utama yang dibahas dalam sesi diskusi Hindunesia Zoom edisi Mengenal Hindu Bongso Wetan?

Diskusi membedah karakteristik teologis dan toleransi Hindu Bongso Wetan (Gresik), sejarah penetapan agama pasca-1965, analisis arkeologis petirtaan punden, korelasi klan Pinatih Bali dan Arya Kuda Pinoleh Madura, kepemimpinan upacara ritual, serta usulan pengembangan Desa Wisata Tradisional Bongso Wetan.

Siapa narasumber dan tokoh utama yang membedah materi Hindu Bongso Wetan?

Diskusi dipandu oleh Riko Widiyanto, S.Pd. (Ketua Peradah Gresik) dengan narasumber utama Kusno (Ketua PHDI Gresik). Ulasan diperkuat oleh I Gusti Putu Raka Arthama (Ketua PHDI Jatim), Dr. (H.C.) Ida Bagus K. Susena, S.Kom. (Ketua Umum Puskor Hindunesia), Prof. Dr. Drs. I Ketut Subagiasta, M.Si., D.Phil., serta Prof. Dr. I Ketut Suardika, M.Si.

Bagaimana bentuk toleransi beragama yang dipraktikkan masyarakat Hindu Bongso Wetan di Gresik?

Bentuk toleransi diwujudkan melalui musyawarah adat saat perayaan Nyepi berdekatan dengan Ramadan/Tarawih (peniadaan pengeras suara takbir keliling di kawasan pemukiman Hindu), keterlibatan pemuda Muslim dalam pawai ogoh-ogoh, dan tradisi saling mengantarkan makanan sesaji (prasadam) ke tetangga lintas agama.

Apa hubungan historis antara klan Pinatih di Bali dengan tokoh Nyi Ageng Pinatih di Gresik?

Berdasarkan pemaparan sejarah, Nyi Ageng Pinatih di Gresik dikenal sebagai syahbandar pelabuhan pada abad ke-15 (1458–1477) yang berasal dari Blambangan. Sementara itu, klan Arya Wang Bang Pinatih di Bali berakar dari era awal Majapahit abad ke-13 (1294). Meski terpisah dua abad, keduanya memiliki benang merah peradaban bangsawan Jawa Timur, yang juga bertaut dengan sejarah pemujaan Arya Kuda Pinoleh (Arya Madura) di Pura Kembar Sanur, Bali.

Apa rekomendasi strategis bagi pengembangan komunitas Hindu Bongso Wetan ke depan?

Forum merekomendasikan pembentukan rute paket ziarah Darmayatra Nusantara, pengembangan konsep Desa Wisata Tradisional Bongso Wetan berbasis homestay dan UMKM kuliner warga, serta kodifikasi literasi sejarah dalam buku Bunga Rampai Hindu Nusantara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SEKRETARIAT DEWAN NASIONAL
Jl. Kertanegara Gg. Indrapura No.2
Ubung Kaja, Kecamatan Denpasar Utara,
Kota Denpasar, Bali
Indonesia 80116
Phone : +62 817 975 3936
E-mail : puskor.hindunesia@gmail.com
Website : https://hindunesia.id
Translate »