Pilih Halaman

Mengenal Hindu Alukta: Kekayaan Spiritual Toraja di Bawah Payung Hindu Nusantara

Mengenal Hindu Alukta: Kekayaan Spiritual Toraja di Bawah Payung Hindu Nusantara

Suara Hindunesia – Keberagaman tradisi spiritual di bumi pertiwi kembali digaungkan dalam acara rutin Hindunesia Zoom edisi Agustus 2026. Mengusung tajuk utama “Mengenal Hindu Alukta (Toraja)”, diskusi virtual ini digagas oleh Puskor Hindunesia untuk mempererat tali persaudaraan antar umat Hindu dari berbagai wilayah, sekaligus membedah kekayaan warisan leluhur yang bernaung di bawah payung besar Hindu Nusantara.

Mengenal Hindu Alukta atau Hindu Tojara

Acara yang dipandu oleh Bapak Yosef, S.Sos.H selaku moderator ini berlangsung khidmat, diawali dengan doa bersama, menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan Mars Puskor Hindunesia. Ratusan peserta dari seluruh Indonesia antusias menyimak pemaparan mendalam dari para narasumber dan pemangku kebijakan umat.

Sekapur Sirih Pembimas Hindu Sulbar dan Komitmen Puskor Hindunesia

Mengawali sesi diskusi, Bapak I Nyoman Aryadi, S.Ag., Pembimas Hindu Kanwil Kemenag Provinsi Sulawesi Barat, menyampaikan Sekapur Sirih mengenai eksistensi umat Hindu Alukta, khususnya di wilayah pegunungan Mamasa, Sulawesi Barat. Pejabat yang telah mengabdi sejak Januari 2021 ini menyoroti bahwa Hindu Alukta (berakar dari Aluk To Dolo) adalah warisan spiritual nenek moyang yang tata nilainya sangat selaras dengan pilar Tri Hita Karana.

Namun, Bapak Aryadi juga memaparkan tantangan nyata di lapangan. “Dominasi tradisi lisan tanpa teks sastra tulisan baku, serta besarnya pembiayaan upacara ritual menjadi tantangan tersendiri bagi keberlanjutan regenerasi penganut Hindu Alukta,” ungkapnya. Untuk itu, Kemenag Sulbar terus mengupayakan peningkatan pendidikan keagamaan dan pendokumentasian nilai teologi Alukta.

Menyambung hal tersebut, Ketua Umum Puskor Hindunesia, Bapak Dr(HC). Ida Bagus K. Susena, S.Kom. dalam sambutannya menegaskan komitmen organisasi untuk merangkul dan mengayomi seluruh komponen umat. Beliau menggarisbawahi pentingnya melahirkan karya nyata, salah satunya rencana penyusunan buku “Bunga Rampai Hindu Nusantara”, agar kurikulum pendidikan Hindu tidak lagi terlepas dari kearifan lokal Nusantara.

Menyelisik Teologi dan Esensi Ritual Alukta

Sesi puncak diisi dengan pemaparan materi dari Bapak Drs. Allo Padang, Ketua PHDI Kabupaten Toraja. Beliau menjelaskan bahwa ajaran Alukta bersumber langsung dari ciptaan Sang Pencipta yang disebut Puang Matua. Konsep ketuhanan mereka bermanifestasi dalam tiga elemen besar (mirip dengan konsep Trimurti), yang mengatur keseimbangan alam atas, alam tengah, dan alam bawah.

Secara garis besar, praktik keagamaan Hindu Alukta terbagi menjadi dua kelompok upacara utama:

  1. Rambu Tuka’: Upacara yang berkaitan dengan sukacita, kehidupan, dan persembahan kepada Dewa (Dewa Yadnya). Contohnya adalah syukuran panen dan peresmian rumah adat (Tongkonan).
  2. Rambu Solo’: Upacara penghormatan terakhir kepada mereka yang telah berpulang (Pitra Yadnya). Ritual ini merupakan wujud bakti tertinggi anak kepada leluhur.

Menariknya, Bapak Allo Padang juga mengungkapkan benang merah yang sangat kuat dengan Hindu di Bali. Ritual Alukta senantiasa menggunakan sarana inti berupa Sirih, Pinang, dan Kapur sebagai sarana persembahan sakral penghubung dengan Sang Pencipta—sebuah elemen yang identik dengan konsep Porosan di Bali.

Menjaga Kesakralan dari Arus “Adat” Semata

Dalam sesi tanya jawab yang dinamis, sejumlah tokoh adat, akademisi (seperti Bapak Ferdinandus Nanduk), serta penganut Hindu dari komunitas lain seperti Hindu Kaharingan turut memberikan pandangan. Muncul kekhawatiran serius mengenai apropriasi budaya, di mana ritual suci seperti Rambu Solo sering kali diadopsi oleh pihak luar dan diklaim sekadar sebagai “Adat Toraja”, dengan menghilangkan esensi mantra dan doa keagamaannya.

Menutup acara, disepakati sebuah konsensus bahwa ritual bagi masyarakat purba Nusantara adalah “aksara” kehidupan yang harus dijaga. Pelestarian mantra dari para Tomina (Pemangku) tidak boleh berhenti pada tradisi lisan. Generasi muda harus mulai mengidentifikasi, menuliskan, dan mengkodifikasi ajaran ini agar kepercayaan leluhur tidak hanya bertahan sebagai memori, tetapi tegak berdiri secara legal dan spiritual sebagai agama Hindu yang berdaulat.

FAQ – Pertanyaan Umum

Apa itu agama Hindu Alukta?

Hindu Alukta adalah sistem kepercayaan leluhur masyarakat Toraja dan sekitarnya (berakar dari Aluk To Dolo) yang diakui sebagai bagian dari agama Hindu di Indonesia karena kesamaan nilai universalnya, seperti keyakinan kepada Tuhan (Puang Matua), keseimbangan alam (Tri Hita Karana), dan ritual leluhur.

Apa perbedaan upacara Rambu Tuka dan Rambu Solo dalam Hindu Toraja?

Rambu Tuka’ adalah upacara yang berkaitan dengan Dewa Yadnya, kehidupan, dan sukacita (seperti panen atau peresmian rumah adat Tongkonan). Sedangkan Rambu Solo’ adalah Pitra Yadnya, yaitu upacara penghormatan terakhir untuk orang yang telah meninggal dunia.

Apa tantangan utama umat Hindu Alukta saat ini?

Tantangan utamanya meliputi dominasi ajaran yang masih bersifat tradisi lisan (belum dibukukan), mahalnya biaya upacara ritual, serta adanya kecenderungan dari pihak luar yang mengadopsi ritual suci tersebut dan mengklaimnya sekadar sebagai acara ‘Adat’ tanpa makna keagamaannya.

Trackback/Pingback

  1. Drs. Allo Padang: Sosok Tokoh Hindu Toraja yang Konsisten Mengawal Spiritualitas Alukta - Suara Hindunesia - […] Hindunesia pada Agustus 2026, Drs. Allo Padang secara lugas dan mendalam mengupas tuntas eksistensi Hindu Alukta (berakar dari Aluk…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SEKRETARIAT DEWAN NASIONAL
Jl. Kertanegara Gg. Indrapura No.2
Ubung Kaja, Kecamatan Denpasar Utara,
Kota Denpasar, Bali
Indonesia 80116
Phone : +62 817 975 3936
E-mail : puskor.hindunesia@gmail.com
Website : https://hindunesia.id
Translate »