Drs. Allo Padang: Sosok Tokoh Hindu Toraja yang Konsisten Mengawal Spiritualitas Alukta
Suara Hindunesia – Di balik kokohnya pelestarian ajaran leluhur di tanah Toraja, terdapat figur-figur penting yang tak kenal lelah mendedikasikan hidupnya untuk mengayomi umat. Salah satu tokoh sentral tersebut adalah Drs. Allo Padang, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Toraja.
Tampil sebagai narasumber utama dalam forum Hindunesia Zoom – Seri Hindu Nusantara yang diselenggarakan oleh Puskor Hindunesia pada Agustus 2026, Drs. Allo Padang secara lugas dan mendalam mengupas tuntas eksistensi Hindu Alukta (berakar dari Aluk To Dolo). Penjelasan beliau tak hanya membuka wawasan umat Hindu secara nasional, tetapi juga menegaskan kembali kedudukan Alukta sebagai bagian tak terpisahkan dari kepak sayap Hindu Nusantara.
Rekam Jejak dan Dedikasi Mengayomi Umat di Pegunungan Toraja
Sebagai Ketua PHDI Kabupaten Toraja, Drs. Allo Padang memegang peranan krusial dalam menjembatani penganut tradisi Alukta dengan lembaga keagamaan Hindu tingkat nasional. Beliau secara konsisten memperjuangkan agar identitas, hak-hak sipil, dan pelayanan keagamaan bagi penganut Hindu Alukta dapat terlayani dengan baik tanpa kehilangan akar kebudayaannya.
Dalam pemaparannya di forum Hindunesia Zoom, Drs. Allo Padang menegaskan bahwa Hindu Alukta bukanlah sekadar kepercayaan lokal atau produk kebudayaan bumi semata, melainkan sistem ajaran suci yang bersumber dari wahyu Sang Pencipta. “Menurut tatanan sastra leluhur kami, Aluk (agama) ini diturunkan langsung oleh Sang Pencipta yang kami sebut Puang Matua,” tutur Drs. Allo Padang di hadapan ratusan peserta virtual.
Membedah Teologi Alukta: Dari Puang Matua hingga Benang Merah dengan Bali
Dalam penjelasannya, Drs. Allo Padang merincikan konsep ketuhanan Hindu Alukta yang memiliki manifestasi tiga kekuatan utama—sebuah filosofi yang sangat paralel dengan konsep Trimurti dalam ajaran Weda universal. Puang Matua bermanifestasi menguasai alam atas (langit), Deata Pongkapadang menguasai alam tengah (bumi), dan manifestasi Deata lainnya mengayomi alam bawah.
Beliau juga memaparkan pembagian dua kelompok besar ritual Yadnya dalam Hindu Alukta:

- Rambu Tuka’: Upacara persembahan yang berkaitan dengan sukacita, kehidupan, dan pemujaan kepada Dewa (Dewa Yadnya).
- Rambu Solo’: Rangkaian upacara penghormatan terakhir kepada mereka yang telah meninggal dunia (Pitra Yadnya) sebagai wujud bakti tertinggi seorang anak.
Menariknya, Drs. Allo Padang menunjukkan bukti otentik adanya benang merah spiritual antara Hindu Toraja dan Hindu Bali. Beliau mengungkapkan bahwa dalam setiap upacara sakral Hindu Alukta, sarana utama yang wajib ada adalah Sirih, Pinang, dan Kapur. “Tiga sarana persembahan ini adalah penghubung sakral kami kepada Puang Matua, yang secara filosofis dan fungsional sama persis dengan konsep Porosan atau simbol Trimurti dalam tradisi Hindu di Bali,” jelas beliau.
Jalan Spiritual Sang Tomina: Panggilan Suci dan Pelayanan Tanpa Pamrih
Saat merespons pertanyaan dari peserta diskusi mengenai sistem kepemangkuan di Toraja, Drs. Allo Padang membagikan wawasan yang sangat menyentuh terkait eksistensi para Tomina (sebutan untuk Pemangku/Pemimpin Ritual dalam Hindu Alukta).
Beliau menjelaskan bahwa jabatan seorang Tomina tidak bisa ditunjuk begitu saja atau diwariskan secara otomatis. “Pengangkatan Tomina itu melalui proses alamiah yang sakral. Terkadang melalui panggilan spiritual gaib, atau mereka harus melewati proses ditako—sebuah ujian kesetiaan dan spiritualitas tak terlihat dari leluhur, sebelum akhirnya tanda-tanda kebesaran itu muncul dan ia dilantik,” ungkap Drs. Allo Padang.
Lebih jauh, beliau menceritakan dedikasi luar biasa para Tomina dalam melayani masyarakat. Menjawab dilema tentang Tomina yang kerap diminta memimpin doa penyembuhan bagi warga non-Hindu, Drs. Allo Padang menganalogikannya dengan tugas kemanusiaan seorang dokter. “Tomina bertindak layaknya seorang dokter yang menyembuhkan orang sakit tanpa memandang agama pasiennya. Dan yang paling luhur, mereka tidak pernah meminta bayaran uang (pamrih), melainkan hanya mengambil bagian dari sisa sesajen upacara,” jelasnya, memperlihatkan kuatnya implementasi ajaran Dharma dan Karma Yoga di tanah Toraja.
Mendorong Dokumentasi Lisan dan Pendidikan Inklusif
Menutup pemaparannya, Drs. Allo Padang menyampaikan harapannya agar ajaran Hindu Alukta dan mantra-mantra suci para Tomina yang selama ini didominasi oleh tradisi lisan dapat segera didokumentasikan dan dikodifikasi.
Beliau mendukung penuh gagasan Puskor Hindunesia untuk menyusun buku “Bunga Rampai Hindu Nusantara” serta mendorong adanya kurikulum pendidikan agama Hindu yang mengakomodasi kearifan lokal. “Agar sastra suci ini tidak hilang ditelan zaman, pendokumentasian dan edukasi kepada generasi muda adalah kunci utama,” pungkas Drs. Allo Padang.
FAQ – Pertanyaan Umum
Drs. Allo Padang adalah tokoh spiritual dan pemimpin umat Hindu yang menjabat sebagai Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Toraja. Beliau aktif mengawal kelestarian ajaran Hindu Alukta dan mempromosikan kebhinekaan Hindu Nusantara.
Menurut Drs. Allo Padang, Hindu Alukta dan Hindu Bali memiliki benang merah teologis yang erat. Salah satunya adalah penggunaan Sirih, Pinang, dan Kapur sebagai sarana persembahan utama kepada Puang Matua, yang secara filosofis setara dengan konsep Porosan (Trimurti) dalam tradisi Hindu Bali.
Berdasarkan penjelasan Drs. Allo Padang, seorang Tomina tidak ditunjuk langsung secara sembarangan, melainkan melalui proses alamiah berupa panggilan spiritual, cobaan, atau ujian kesetiaan tak terlihat (ditako) dari alam dan leluhur, sebelum akhirnya diresmikan.
Drs. Allo Padang mendorong agar ajaran dan mantra lisan Hindu Alukta yang diwariskan oleh para Tomina dapat segera dibukukan dan dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan agama Hindu berbasis kearifan lokal Nusantara agar mudah dipelajari generasi muda.













