Merajut Harmoni di Kota Santri: Hindunesia Zoom Kupas Tradisi dan Spiritualitas Hindu Bongso Wetan Gresik
Media Suara Hindunesia – Semangat persaudaraan dan kebhinekaan dalam bingkai Hindu Nusantara kembali digaungkan ke seluruh penjuru tanah air[cite: 1, 4]. Pada Sabtu (12/9/2026), program webinar unggulan Pusat Koordinasi Hindu Indonesia, Hindunesia Zoom 2026 – Seri Hindu Nusantara, sukses diselenggarakan secara virtual. Mengusung tajuk istimewa “Mengenal Hindu Bongso Wetan (Hindu Madura): Tradisi, Spiritualitas, dan Kontribusi Hindu Madura untuk Indonesia”, forum ini menjadi ruang edukasi penting untuk membedah denyut nadi kehidupan umat Hindu di Kabupaten Gresik yang sarat akan toleransi dan kearifan lokal.
Acara berskala nasional yang didukung penuh oleh Binroh Hindu Telkom Group ini berlangsung penuh antusiasme mulai pukul 18.30 hingga 21.30 WITA, mempertemukan ratusan penganut Dharma dan relawan lintas daerah guna menyelami filosofi serta kontribusi nyata komunitas Hindu Madura di tanah Jawa Timur.
Sinergi Tokoh Penggerak: Dari Pengantar Strategis hingga Dialog Bernas
Pertemuan virtual ini diawali dengan sambutan pengantar bernas dari I Gusti Putu Raka Arthama selaku Ketua PHDI Provinsi Jawa Timur. Dalam arahannya, beliau menekankan arti strategis merawat simpul-simpul kearifan lokal Hindu Nusantara. Dialog keumatan ini diapresiasi sebagai jembatan persaudaraan yang memperkokoh semboyan: “Hindu Nusantara: Satu Keluarga, Satu Dharma untuk Indonesia Maju”.
Jalannya diskusi interaktif dipandu secara lugas dan tertata oleh Riko Widiyanto, S.Pd selaku moderator, setelah dibuka secara resmi oleh Kasmadi, S.Pd. sebagai pembawa acara. Hadir sebagai narasumber tunggal, Kusno (Ketua PHDI Kabupaten Gresik), yang membedah profil komprehensif, perjalanan pembinaan umat, dinamika sosial, hingga geliat seni budaya umat Hindu di dusun Bongso Wetan dan sekitarnya.

Sekilas Hindu Bongso Wetan: Warisan Siwa-Buddha dan Penghormatan Leluhur
Umat Hindu Madura atau Hindu Bongso Wetan merupakan bagian integral dari kekayaan peradaban Hindu Nusantara. Bertempat tinggal berdampingan dengan masyarakat Madura dan Jawa dengan semangat harmoni, toleransi, dan kearifan lokal, umat Hindu di Gresik teguh melestarikan tradisi Siwa-Buddha. Nilai-nilai ini terwujud dalam pelaksanaan ritual, kesenian karawitan, penggunaan bahasa ibu (bahasa Jawa dan Madura), serta kepatuhan pada nilai luhur seperti bhakti, kejujuran, kerja keras, dan penghormatan kepada para leluhur (para bhujur).
Kusno menggarisbawahi bahwa keberadaan umat di Kabupaten Gresik membuktikan kuatnya nilai toleransi di daerah yang selama ini dikenal luas sebagai “Kota Santri”. Sesuai semboyan “Gresik Kota Santri, Kota Hindu, Kota Toleransi”, umat Hindu senantiasa menjadi jembatan persaudaraan sejati.
Potret Demografi Umat dan Sebaran Pura di Gresik
Dalam paparannya, Kusno menjelaskan cakupan pembinaan umat di Kabupaten Gresik yang membentang dari wilayah yang berbatasan langsung dengan Kota Surabaya di timur, Kabupaten Lamongan di barat, Kabupaten Sidoarjo di selatan, hingga laut lepas Pulau Bawean di utara. Saat ini, tercatat sebanyak 1.471 jiwa umat Hindu yang tersebar di enam pura:
- Pura Kerta Bumi (Bongso Wetan, Kec. Menganti) – Pengurus: Satiman (576 jiwa)
- Pura Jagad Dumadi (Desa Laban, Kec. Menganti) – Pengurus: Dodik (520 jiwa)
- Pura Jagad Giri Natha (Desa Beton, Kec. Menganti) – Pengurus: Agus Subekti (178 jiwa)
- Pura Kerta Bhuwana (Bongso Kulon, Kec. Menganti) – Pengurus: Jemuin (100 jiwa)
- Pura Ganesa / Gresik Kota (Jl. Panglima Sudirman) – Pengurus: Made Kusuma (84 jiwa)
- Pura Penataran Luhur Medang Kamulan (Mondoluku) – Pengurus: Kadek Sumanila (7 jiwa)
Dari segi mata pencarian, masyarakat Hindu Gresik sangat beragam, berkarya sebagai petani, buruh tani, pekerja konstruksi/kuli bangunan, pedagang, pelaku UMKM, karyawan swasta, wirausahawan, hingga ASN, TNI, dan POLRI.
Pendidikan Pasraman dan Penguatan Karakter Generasi Muda
Fokus pembinaan umat di Gresik menaruh perhatian besar pada regenerasi melalui pendidikan nonformal pasraman. Sebanyak 246 siswa terdaftar aktif mengikuti kelas 1 hingga 9 yang tersebar di Laban (99 siswa), Pengalangan/Beton (41 dan 96 siswa), serta Gresik Kota (10 siswa).

Penguatan pendidikan ini ditopang oleh legalitas resmi Kemenag RI, seperti Pasraman Gayatri (Laban Kulon), Pasraman Satya Laksana (Desa Beton), Pasraman Satya Dharma (Bongso Wetan), serta Yayasan Saraswati. Seluruh pembelajaran budi pekerti, kidung, dan seni tari tradisional dibimbing secara ikhlas oleh para guru relawan. Selain itu, jejaring pendidikan formal dijalin melalui kolaborasi dengan kampus-kampus ternama seperti UNESA Surabaya, UNTAG 1945 Surabaya, STAH Mpu Kuturan Singaraja, STAH Jawa Dwipa, dan STAH Shantika Dharma Malang.
Legalitas Lembaga, Seni Budaya, dan Kiprah di Parlemen
Di samping PHDI Kabupaten Gresik, eksistensi kelembagaan didukung penuh oleh organisasi fungsional yang telah mengantongi tanda daftar resmi Bimas Hindu Kemenag RI, seperti Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Kabupaten Gresik pimpinan Ni Ketut Nurhoki, SH, DPK Peradah Indonesia Gresik yang diketuai Riko Widiyanto, serta DPC Prajaniti Kabupaten Gresik.
Dalam bidang pelestarian adat dan budaya, umat mengelola sanggar seni aktif seperti Sanggar Seni Reog Singo Murti, Karawitan Swastika Yuwana, Sanggar Tari & Karawitan Singo Taruno Joyo, dan Sanggar Dharma Laras. Ritual sakral seperti Upacara Suci Murwokolo di Pura Kerta Bumi, peringatan hari suci Nyepi dengan pawai ogoh-ogoh, hingga Dharma Santi rutin menjadi magnet kebersamaan lintas budaya dan lintas agama.
Kiprah kemasyarakatan umat Hindu Gresik kian diperhitungkan di kancah kepemimpinan publik daerah dengan hadirnya figur Wongso Negoro, S.E., S.H., M.Si. yang menduduki amanah sebagai Wakil Ketua DPRD Kabupaten Gresik. Sinergi kebangsaan ini terus dipelihara melalui kerja sama erat dengan FKUB, Bakesbangpol, Pembimas Hindu Jatim, serta segenap tokoh lintas iman dan lintas kepercayaan.
Webinar berdurasi tiga jam ini ditutup dengan kesimpulan reflektif: Hindu Bongso Wetan adalah cermin keagungan Hindu Nusantara yang mampu merekatkan tradisi leluhur dengan realitas kemajemukan bangsa. Melalui semangat Vasudhaiva Kutumbakam, umat Hindu di bumi santri Gresik terus membuktikan dedikasinya bagi kemajuan Indonesia.
FAQ – Pertanyaan Umum
Acara ini mengangkat tema “Mengenal Hindu Bongso Wetan (Hindu Madura): Tradisi, Spiritualitas, dan Kontribusi Hindu Madura untuk Indonesia”, yang membedah keunikan sejarah, tradisi Siwa-Buddha, dan kehidupan sosial umat Hindu di Kabupaten Gresik.
Diskusi menghadirkan Kusno (Ketua PHDI Kabupaten Gresik) sebagai narasumber utama, I Gusti Putu Raka Arthama (Ketua PHDI Prov. Jatim) sebagai pemberi kata pengantar, Riko Widiyanto, S.Pd selaku moderator, serta Kasmadi, S.Pd. sebagai pembawa acara.
Berdasarkan data PHDI Kabupaten Gresik, terdapat 1.471 jiwa umat Hindu yang tersebar di enam pura, dengan konsentrasi jemaah terbesar berada di Pura Kerta Bumi (Bongso Wetan, 576 jiwa) dan Pura Jagad Dumadi (Desa Laban, 520 jiwa).
Umat mengelola sanggar seni aktif seperti Reog Singo Murti, Karawitan Swastika Yuwana, serta Singo Taruno Joyo. Mereka juga rutin menyelenggarakan Upacara Suci Murwokolo, parade ogoh-ogoh saat perayaan Nyepi, dan pentas tari tradisional.














Siwa Budha..peninggalan ajaran yang masih relevan sampai saat ini. Karma pala .selalu menjadi cermin dalam bayangan diri..agar kita sadar bahwa..semua yang kita lakukan akan ada akibatnya..
Baik kita perbuat maka baik pula yang kita dapatkan.dan sebaliknya.
Jika kita waras maka tuntunan Dharma yang menjadi jalan kita untuk menuju hidup yang damai..
Pak Romo kusno ..semoga terus berbagi wawasan pada kami yang haus dengan petuah atau tuntunan hidup dalam dharma.