Menjaga Nadi Peradaban: Kelas Aksara Bali Kuno, Peneguhan Pilar Hindunesia dan Sinergi Pendidikan SMP-SMA
Media Suara Hindunesia – Di tengah pusaran arus modernisasi yang mengalir deras, upaya penyelamatan warisan peradaban dan literasi leluhur menjadi sebuah panggilan Dharma yang mutlak. Pusat Koordinasi Hindu Indonesia (Puskor Hindunesia) secara konsisten terus berada di garda terdepan untuk merawat pilar-pilar kebudayaan Hindu Nusantara agar tidak tergerus oleh budaya pop.
Wujud nyata dari komitmen tersebut terefleksikan melalui program edukatif “Kelas Belajar Aksara Bali Kuno” yang digagas bersama Yayasan Dvipantara Samskrtam. Kelas yang diampu langsung oleh pelestari budaya dan pakar sastra, Bapak I Made Suyasa ini, bukan sekadar ajang belajar fonologi, melainkan sebuah gerakan kultural untuk mentransfer ruh teologis dan memori jati diri Hindu Nusantara kepada generasi penerus.

Arahan Ketua Umum: Menjaga Sumber Daya Hindu & Implementasi Pilar
Mempelajari anatomi dan letak artikulasi aksara suci leluhur pada dasarnya adalah upaya menyerap kembali energi spiritual bangsa. Merespons hal tersebut, Ketua Umum Dekornas Puskor Hindunesia, Dr. (H.C.) Ida Bagus K. Susena, S.Kom., memberikan penekanan yang sangat strategis.
Beliau mengingatkan bahwa inisiatif literasi aksara ini adalah bentuk penyelamatan aset peradaban di tengah tantangan zaman. “…salah satu upaya Puskor Hindunesia dalam menjaga sumber daya Hindu, yakni bahasa dan aksara Nusantara dan Hindu yang semakin hari ditinggalkan oleh generasi muda karena pengaruh globalisasi,” tegas Ida Bagus K. Susena.
Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa gerakan ini merupakan pengejawantahan langsung dari 6 Pilar Pergerakan Puskor Hindunesia. “Langkah nyata belajar Aksara Bali Kuno ini sangat selaras dengan pilar WANARMA (Yowana Dharma), yang bertujuan menyiapkan generasi muda Hindunesia untuk melanjutkan tongkat estafet wadah pelayanan dan pengabdian keumatan kelak di kemudian hari,” tambahnya.
Pelestarian budaya ini juga menjadi fondasi pembentukan karakter umat. “Ini merupakan wujud dari pilar BHIMA (Bala Hindu Dharma). Melalui pemahaman sastra, kita membangun kesadaran, militansi, peningkatan sradha bhakti, serta gemblengan mental spiritual yang pro terhadap kearifan lokal. Generasi yang melek aksara leluhurnya akan tumbuh menjadi garda pembela Dharma yang berkarakter luhur dan tak mudah goyah oleh ideologi transnasional,” jelasnya.

Membidik Gen-Z: Signifikansi Sinergi Pendidikan dengan SMP dan SMA
Meskipun demikian, pergerakan literasi luhur ini tidak boleh berhenti hanya di ruang-ruang virtual komunitas atau sekadar sebagai wacana pendidikan nonformal. Puskor Hindunesia memandang perlunya langkah taktis yang lebih masif dan berjangka panjang. Kesuksesan metode kelas nonformal yang diampu oleh Yayasan Dvipantara Samskrtam harus didorong menjadi embrio kemitraan strategis dengan institusi pendidikan formal, khususnya di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA).
Membawa metode pengajaran Aksara Bali Kuno yang interaktif dan membumi ke dalam kurikulum ekstrakurikuler atau muatan lokal di jenjang SMP dan SMA adalah kunci utama membidik Generasi Z. Anak-anak usia remaja yang tengah mencari identitas akan memiliki benteng pertahanan yang solid jika sejak dini mereka dicelupkan pada rasa cinta terhadap aksara dan peninggalan leluhurnya.
Sinergi apik antara pengabdi Dharma, kelembagaan umat seperti Puskor Hindunesia, dan institusi sekolah menengah akan menciptakan ekosistem pewarisan budaya yang holistik. Dengan demikian, kita tidak akan pernah kehabisan putra-putri daerah yang bangga pada akar kebudayaannya.
Mari rapatkan barisan, dukung terus sinergi pendidikan lintas sektoral, dan jadilah pahlawan pelestari budaya leluhur Nusantara!
Bangga, Bangkit, Bangun! JAYA HINDUNESIA!
FAQ – Pertanyaan Umum
Tujuan utamanya adalah untuk mentransfer pengetahuan literasi leluhur dan menanamkan ruh spiritualitas Hindu Nusantara kepada generasi muda agar warisan peradaban tersebut tidak punah ditelan modernisasi.
Ketua Umum Puskor Hindunesia menegaskan bahwa program ini adalah salah satu upaya dalam menjaga sumber daya Hindu, yakni bahasa dan aksara Nusantara yang semakin hari ditinggalkan oleh generasi muda karena pengaruh globalisasi.
Program pelestarian budaya ini merupakan implementasi langsung dari pilar YOWARMA (Yowana Dharma) yang berfokus pada kaderisasi kepemudaan, serta pilar BHIMA (Bala Hindu Dharma) yang berfokus pada peningkatan sradha bhakti dan mental spiritual pro kearifan lokal.
Sinergi dengan SMP dan SMA sangat krusial untuk membidik Generasi Z yang tengah berada dalam fase pencarian jati diri. Melalui ekstrakurikuler atau muatan lokal di sekolah formal, pendidikan aksara kuno dapat lebih terstruktur dalam membentuk karakter kebangsaan generasi muda.













