Mengenang Ida Pedanda Gde Wayan Sidemen: Rohaniwan, Perwira Militer, dan Ketua Umum Pertama PHDI
Media Suara Hindunesia, Jakarta — Di tengah dinamika dan berlangsungnya Mahasabha XIII Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) di Jakarta—yang salah satu agendanya adalah memilih Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal—menjadi sebuah momen yang sangat reflektif untuk mengenang kembali fondasi awal kelembagaan umat Hindu di Indonesia. Perhatian kita tertuju pada sosok visioner yang menjadi Ketua Umum Pertama PHDI Pusat (yang saat itu masih bernama Parisada Dharma Hindu Bali): Ida Pedanda Gde Wayan Sidemen.
Sebagai figur sentral dalam proses integrasi dan institusionalisasi keagamaan Hindu, Ida Pedanda Gde Wayan Sidemen hadir bukan sekadar sebagai rohaniwan, tetapi juga perwira militer dan ketua pertama majelis keagamaan tertinggi umat Hindu di Nusantara.
Jejak Lahir, Birokrasi, dan Pergerakan
Lahir dengan nama walaka Ida Bagus Wayan Dipa pada tanggal 3 Mei 1918 di Pagesangan Timur, Cakranegara, Lombok Barat. Beliau lahir sebagai putra dari pasangan Pedanda Gde Nyoman Sebali dan Pedanda Istri Made Kekeran. Beliau kemudian diangkat sebagai anak (dharma putra) oleh Pedanda Gde Ketut Buruan, yang mengemban amanah sebagai Ketua Pengadilan Adat (Raad Kerta) Lombok.
Pendidikan formalnya ditempuh di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) hingga lulus pada tahun 1932. Sebelum menempuh jalan kependetaan suci, beliau telah memiliki pengalaman ekstensif dalam birokrasi sipil dan pergerakan pemuda. Beliau pernah bekerja sebagai juru tulis di Landraad Lombok (1933–1938) dan Raad Sasak (1938–1943), serta memimpin barisan pemuda Seinendan dan Bo’eisantai pada masa pendudukan Jepang.

Memadukan Dharma Agama dan Dharma Negara
Pada tanggal 25 Januari 1947, beliau menempuh upacara penyucian diri (mediksa) menjadi pendeta Hindu dengan gelar Ida Pedanda Gde Wayan Sidemen. Titik balik kepemimpinan beliau yang paling monumental terjadi ketika memasuki dinas militer. Mulai 1 Januari 1955, beliau bertugas memimpin Corps Pemeliharaan Rohani Angkatan Darat (CPRAD) Bagian Hindu Bali pada Resimen Infanteri 26/VII di Denpasar. Pengabdian ini mengantarkan beliau diangkat secara resmi sebagai Militer Tituler dengan pangkat Letnan Satu pada 1 Juni 1957.
Keberanian Ida Pedanda Gde Wayan Sidemen mengenakan seragam dinas militer hijau TNI AD saat menjalankan tugas dinas kependetaan merupakan terobosan pemikiran besar dalam tradisi Bali. Kendati langkah tersebut sempat memicu penolakan awal dari lingkungan puri dan kepanditaan tradisional di Denpasar, status militer tituler ini terbukti menjadi instrumen diplomasi yang sangat efektif untuk menghubungkan kepentingan umat Hindu dengan hierarki pemerintah pusat dan Markas Besar Angkatan Darat.
Kariernya kian cemerlang saat dipercaya menjabat sebagai Kepala Pembinaan Rohani (Kabinroh) Hindu Kodam XVI Udayana dan dipromosikan menjadi Kepala Pusat Rohani Hindu TNI AD di Jakarta.
Menakhodai Parisada dan Membangun Parahyangan Nusantara
Melalui konsolidasi organisasi pada akhir tahun 1958, para pemuka agama menyepakati penyelenggaraan musyawarah besar. Pada tanggal 21 hingga 23 Februari 1959, bertempat di Gedung Fakultas Sastra Universitas Airlangga (kini Universitas Udayana) Denpasar, dilangsungkan Pesamuan Agung Hindu Bali. Sidang bersejarah tersebut melahirkan Parisada Dharma Hindu Bali pada 23 Februari 1959, dan Ida Pedanda Gde Wayan Sidemen terpilih sebagai pimpinan eksekutif pertamanya.
Integrasi peran ganda sebagai Kabinroh Hindu TNI AD dan Ketua PHDI memampukan beliau mendorong pembangunan sarana ibadah di berbagai wilayah strategis Indonesia. Warisan Pura yang berdiri kokoh hingga kini antara lain Pura Jagatnatha Denpasar, Pura Oebananta Kupang, Pura Dalem Purnajati Tanjung Priok (Jakarta Utara), Pura Aditya Jaya Rawamangun (Jakarta Timur), dan Pura Mustika Darma Cijantung (Jakarta Timur).
Di ujung pengabdiannya yang tanpa pamrih sebagai pelayan umat, Ida Pedanda Gde Wayan Sidemen lebar (wafat) pada tahun 1979. Spirit kepemimpinan dan diplomasi beliau kiranya terus menjadi lentera penerang bagi para penerus yang tengah merumuskan arah umat di Mahasabha XIII saat ini.
FAQ – Pertanyaan Umum
Ida Pedanda Gde Wayan Sidemen (nama walaka: Ida Bagus Wayan Dipa) adalah rohaniwan Hindu, perwira militer tituler TNI AD, sekaligus sosok yang terpilih sebagai Ketua Umum Pertama PHDI Pusat (dahulu Parisada Dharma Hindu Bali) pada tahun 1959.
Beliau melakukan terobosan berani dengan mengenakan seragam dinas militer TNI AD saat menjalankan tugas dinas kependetaan. Status militer tituler (Letnan Satu) ini digunakannya sebagai instrumen diplomasi yang efektif untuk menghubungkan kepentingan umat Hindu dengan pemerintah pusat.
Dengan kapasitasnya sebagai Kabinroh Hindu TNI AD dan Ketua PHDI, beliau mendorong berdirinya beberapa pura strategis di Indonesia, seperti Pura Jagatnatha Denpasar, Pura Oebananta Kupang, Pura Dalem Purnajati Tanjung Priok, Pura Aditya Jaya Rawamangun, dan Pura Mustika Darma Cijantung.
















