Pilih Halaman

Profil Dr Ari Dwipayana: Intelektual Ubud Pengabdi Negara & Budaya

Profil Dr Ari Dwipayana: Intelektual Ubud Pengabdi Negara & Budaya

Anak Agung Gde Ngurah Ari Dwipayana, yang akrab disapa Gung Ari, adalah seorang akademisi, ilmuwan politik, penulis, pengabdi masyarakat, dan tokoh yang memiliki perjalanan panjang dalam kehidupan akademik, pemerintahan, organisasi, serta kebudayaan.

Lahir di Ubud, Bali, pada 24 Februari 1972, Ari tumbuh di tengah lingkungan budaya Bali yang kuat. Ubud bukan hanya menjadi tempat kelahirannya, tetapi juga menjadi ruang yang membentuk cara pandang dan kepekaannya terhadap kebudayaan, masyarakat, sejarah, dan perubahan zaman.

Dalam perjalanan hidupnya, ia kemudian menempuh pendidikan tinggi di Universitas Gadjah Mada hingga memperoleh gelar doktor dalam ilmu politik. Setelah itu, ia membangun karier sebagai akademisi, peneliti, penulis, dan penggerak pemberdayaan masyarakat.

Pengalamannya kemudian berkembang ke tingkat nasional ketika ia dipercaya menjalankan berbagai tugas di lingkungan pemerintahan Presiden Joko Widodo. Di saat yang sama, ia tetap mempertahankan hubungan yang kuat dengan Bali, khususnya Ubud, melalui berbagai kegiatan kebudayaan dan pengabdian masyarakat.

Akar Keluarga: Putra Seorang Pejuang Kemerdekaan

Kisah kehidupan Ari Dwipayana tidak dapat dilepaskan dari latar keluarganya. Ayahandanya adalah Anak Agung Gde Raka, yang dikenal pula dengan sapaan Gung Lingsir. Anak Agung Gde Raka merupakan salah seorang pejuang kemerdekaan dari Ubud. Ia lahir pada 2 November 1928 dan merupakan putra keempat dari 12 bersaudara, dari pasangan Ida Anak Agung Gde Oka Krebek, yang dikenal sebagai Jaksa Ubud, dan Jero Sarasija. 

Kehidupan sang ayah berlangsung dalam periode yang penuh gejolak. Pada masa mudanya, Anak Agung Gde Raka turut terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Pada 1945, ketika masih berusia muda, ia bersama para pemuda Ubud terlibat dalam perjuangan melalui wadah Pemuda Republik Indonesia (PRI). Ia juga mengikuti perjalanan panjang atau long march bersama pasukan Ciung Wanara di bawah pimpinan I Gusti Ngurah Rai, dari wilayah Tabanan menuju lereng Gunung Agung, dengan jarak yang disebut mencapai sekitar 200 kilometer. 

Latar belakang ayah sebagai pejuang kemerdekaan memberikan dimensi tersendiri dalam perjalanan keluarga Ari Dwipayana. Semangat pengabdian kepada bangsa, keberanian, dan kecintaan terhadap tanah kelahiran menjadi bagian dari warisan nilai keluarga.

Hal itu menjadi semakin bermakna ketika pada 2 Agustus 2024, Ari Dwipayana dan ayahandanya sama-sama menerima Tanda Penghargaan Bintang Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI). Anak Agung Gde Raka menerimanya sebagai pengakuan atas perjuangannya dalam mempertahankan kemerdekaan, sedangkan Ari menerima penghargaan atas kontribusinya dalam memberikan perhatian dan dukungan terhadap LVRI. 

Pada kesempatan tersebut, Ari menyampaikan bahwa penghargaan itu bukan hanya menjadi kehormatan bagi keluarganya, tetapi juga bagi Ubud sebagai desa pejuang dan Bali sebagai pulau perjuangan. 

Momen tersebut menjadi simbol menarik dalam perjalanan keluarga: seorang ayah dikenang karena perjuangannya mempertahankan kemerdekaan, sementara sang anak memperoleh pengakuan atas pengabdiannya dalam ruang kehidupan kebangsaan pada generasi yang berbeda.

Masa Kecil di Ubud

Ari Dwipayana lahir dan menghabiskan masa kecilnya di Ubud, Gianyar, Bali. Lingkungan Ubud memberikan pengalaman yang unik karena kawasan tersebut telah lama menjadi tempat perjumpaan antara masyarakat Bali dengan wisatawan, seniman, budayawan, serta peneliti dari berbagai negara.

Dalam sebuah kisah yang pernah disampaikannya, Ari menggambarkan masa kecil di Ubud sebagai sebuah pengalaman yang mempertemukannya dengan orang-orang dari berbagai latar belakang. Wisatawan dan peneliti dari berbagai negara datang ke Ubud dan berinteraksi dengan masyarakat setempat.

Lingkungan tersebut secara tidak langsung membentuk cakrawala berpikirnya. Ia tumbuh dengan dua pengalaman yang berjalan bersamaan: akar tradisi Bali yang kuat dan keterbukaan terhadap dunia luar.

Perpaduan inilah yang kemudian menjadi salah satu karakter dalam perjalanan intelektualnya. Ia tidak melihat kebudayaan sebagai sesuatu yang tertutup, tetapi sebagai sesuatu yang dapat berdialog dengan perubahan dan perkembangan dunia.

Anak Agung Gde Ngurah Ari Dwipayana berfoto bersama Presiden Joko Widodo dan Wapres
Anak Agung Gde Ngurah Ari Dwipayana berfoto bersama Presiden Joko Widodo dan Wapres

Pendidikan: Dari Ubud Menuju Universitas Gadjah Mada

Setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah, perjalanan intelektual Ari membawanya ke Yogyakarta untuk menempuh pendidikan tinggi di Universitas Gadjah Mada. Pilihan bidang ilmu pemerintahan dan politik menjadi fondasi penting dalam perjalanan hidupnya.

Sarjana Ilmu Pemerintahan 1995. 

Pada 1995, Ari menyelesaikan pendidikan Sarjana Ilmu Pemerintahan di FISIPOL Universitas Gadjah Mada. Profil resmi Departemen Politik dan Pemerintahan FISIPOL UGM mencatat bahwa ia menempuh pendidikan sarjana pada bidang Government Studies di UGM. 

Di bangku kuliah, ketertarikannya terhadap persoalan politik dan pemerintahan semakin berkembang.

Menariknya, kebiasaan menulis yang kemudian menjadi bagian penting dalam kehidupannya juga mulai tumbuh sejak masa mahasiswa. Ia pernah menceritakan bahwa berbagai tugas makalah dan esai semasa kuliah menjadi latihan awal dalam membangun kemampuan menulis. Tulisan-tulisannya kemudian mulai ia kirimkan ke media, termasuk mengalami pengalaman ditolak sebelum akhirnya semakin berkembang sebagai penulis.

Magister Ilmu Politik  2003

Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, Ari melanjutkan ke jenjang Magister Ilmu Politik di Universitas Gadjah Mada dan menyelesaikannya pada 2003. Pendidikan magister semakin memperkuat fondasi akademiknya dalam membaca berbagai persoalan politik dan sosial.

Pada periode yang sama, aktivitasnya di luar kampus juga berkembang. Pada 2003, ia mendirikan Yayasan Uluangkep, sebuah organisasi nonpemerintah yang bergerak dalam penelitian dan pemberdayaan desa adat Bali. 

Doktor Ilmu Politik  2013

Sepuluh tahun kemudian, pada 2013, Ari menyelesaikan pendidikan Doktor Ilmu Politik di FISIPOL UGM. Dengan demikian, perjalanan pendidikan formalnya dapat diringkas:

  • Tahun 1995 – Sarjana ilmu Pemerintahan FISIPOL Universitas Gadjah Made
  • Tahun 2003 – Sarjana Ilmu Politik Universitas Gadjah mada
  • Tahun 2013 – Doktor Ilmu Politik FISIPOL Universitas Gadjah Mada

Seluruh jenjang pendidikan formal tersebut kemudian menjadi fondasi bagi perjalanan panjangnya sebagai ilmuwan politik dan akademisi.

Menjadi Akademisi dan Ilmuwan Politik

Sejak 1997, Ari Dwipayana mengabdikan dirinya sebagai dosen di Departemen Politik dan Pemerintahan FISIPOL UGM. Dalam dunia akademik, ia dikenal memiliki perhatian pada sejumlah bidang, antara lain:

  • partai politik;
  • perilaku politik;
  • politik dan kebijakan agraria;
  • politik identitas dan multikulturalisme;
  • kebijakan publik;
  • politik lokal dan desentralisasi;
  • tata kelola pemerintahan. 

Bidang-bidang tersebut menunjukkan luasnya perhatian akademiknya. Ia tidak hanya melihat politik dari sisi institusi negara, tetapi juga dari perspektif masyarakat, identitas, kebijakan publik, hubungan pusat-daerah, dan tata kelola. Pengalaman sebagai akademisi juga menjadi fondasi penting ketika kemudian ia memasuki lingkungan pemerintahan.

Ilmu yang Dibawa ke Ruang Pengabdian

Ari Dwipayana merupakan contoh akademisi yang kemudian membawa pengetahuan ke berbagai ruang pengabdian. Ia tidak membatasi aktivitasnya pada kampus. Di luar dunia akademik, ia terlibat dalam penelitian, pemberdayaan masyarakat, organisasi sosial, dan kegiatan kebudayaan.

Pendirian Yayasan Uluangkep pada 2003 menjadi salah satu bentuk nyata dari perhatian tersebut. Yayasan itu bergerak pada penelitian dan pemberdayaan desa adat Bali. 

Perhatian terhadap desa adat menjadi penting karena desa adat merupakan salah satu fondasi kehidupan sosial dan kebudayaan Bali. Melalui pendekatan penelitian dan pemberdayaan, Ari memperlihatkan bahwa kehidupan masyarakat lokal perlu dipahami bukan hanya dari sisi tradisi, tetapi juga dari sisi perubahan sosial, politik, ekonomi, dan perkembangan zaman.

Memasuki Dunia Pemerintahan

Perjalanan Ari kemudian memasuki lingkungan pemerintahan nasional. Ia dipercaya menjadi Staf Khusus Menteri Sekretaris Negara, kemudian menjalankan peran sebagai Staf Khusus Presiden, dan selanjutnya menjadi Koordinator Staf Khusus Presiden Republik Indonesia. Sumber-sumber publik mencatat keterlibatannya dalam pemerintahan Presiden Joko Widodo pada periode 2014–2024. 

Pengalaman tersebut menjadi fase penting karena untuk pertama kalinya pengalaman akademik dan pengetahuannya tentang politik serta pemerintahan berhadapan langsung dengan dinamika pengambilan keputusan di tingkat nasional.

Sebagai seorang akademisi, ia terbiasa membaca persoalan secara analitis. Sebagai bagian dari lingkungan pemerintahan, ia dituntut menerjemahkan berbagai persoalan tersebut menjadi bahan pertimbangan, komunikasi, dan kebijakan. Perjalanan tersebut menjadikannya berada pada titik pertemuan antara ilmu pengetahuan dan praktik pemerintahan.

Menjadi Koordinator Staf Khusus Presiden

Pada 2019, Ari Dwipayana dipercaya sebagai Koordinator Staf Khusus Presiden. Dalam posisi tersebut, ia memiliki tanggung jawab yang berkaitan dengan koordinasi kerja staf khusus serta memberikan dukungan substantif bagi Presiden.

Pengalaman sebagai akademisi menjadi salah satu modal penting dalam menjalankan tugas tersebut. Dalam berbagai kesempatan, Ari juga dikenal memiliki peran dalam menyiapkan bahan komunikasi dan substansi bagi Presiden, termasuk bahan rapat dan pidato.

Dengan pengalaman tersebut, dunia akademik yang sebelumnya menjadi ruang utama pengabdiannya berkembang menjadi bagian dari pengalaman praktis dalam pemerintahan.

Tetap Menjaga Hubungan dengan Kampus

Meskipun memiliki pengalaman panjang di pemerintahan, dunia akademik tetap menjadi bagian penting dari identitas Ari Dwipayana. Ia tetap tercatat sebagai dosen UGM dan kembali aktif dalam lingkungan akademik setelah menyelesaikan masa tugasnya di pemerintahan. Profil resmi UGM mencatat riwayat pendidikannya dan bidang keahliannya sebagai bagian dari Departemen Politik dan Pemerintahan. 

Hal ini menunjukkan bahwa perjalanan ke pemerintahan tidak memutus hubungan dengan dunia keilmuan. Sebaliknya, pengalaman di pemerintahan justru memperkaya perspektifnya sebagai akademisi karena ia memiliki pengalaman langsung melihat bagaimana negara bekerja dan bagaimana kebijakan dibentuk serta dilaksanakan.

Pengabdian kepada Bali

Di tengah perjalanan nasionalnya, Ari tetap mempertahankan keterikatan kuat dengan Bali. Ia terlibat dalam berbagai kegiatan yang berhubungan dengan masyarakat, agama, sastra, sejarah, dan kebudayaan Bali. Salah satu ruang pengabdiannya adalah Yayasan Puri Kauhan Ubud, tempat ia dipercaya menjadi ketua.

Puri Kauhan Ubud sendiri merupakan bagian dari warisan sejarah dan kebudayaan Bali. Kawasan tersebut menyimpan berbagai manuskrip lontar dan catatan sejarah yang berkaitan dengan perjalanan Bali dan Indonesia. Di sinilah perhatian Ari terhadap kebudayaan menemukan ruang yang lebih konkret.

Sastra sebagai Jalan Merawat Kebudayaan

Sebagai Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud, Ari Dwipayana turut terlibat dalam pengembangan kegiatan sastra dan kebudayaan, termasuk Festival Sastra Saraswati Sewana.

Festival tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan sastra, kebudayaan, pemikiran, dan masyarakat. Perhatian terhadap sastra juga tercermin dalam berbagai karya yang ditulis dan diterbitkannya. Baginya, sastra bukan hanya karya estetis, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk merawat ingatan, identitas, nilai, dan pengalaman masyarakat.

Dalam konteks Bali, sastra memiliki hubungan yang kuat dengan tradisi dan kehidupan masyarakat. Karena itu, pengembangan sastra sekaligus dapat menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan kebudayaan.

Produktif sebagai Penulis

Ari Dwipayana juga dikenal sebagai penulis yang menghasilkan berbagai karya dalam bidang politik, masyarakat, kebudayaan, dan sastra.

Salah satu karya awalnya adalah “Kelas dan Kasta: Pergulatan Kelas Menengah Bali”. Karya tersebut memperlihatkan perhatiannya terhadap perubahan sosial di Bali dan dinamika kelas masyarakat. Ia kemudian menghasilkan karya-karya lain yang mengangkat politik, representasi, Bali, sastra, kepemimpinan, dan kebudayaan.

Di antara karya yang tercantum dalam rekam jejaknya antara lain:

  • Kelas dan Kasta: Pergulatan Kelas Menengah di Bali (2001)
  • Bangasawan dan Kuasa: Kembalinya Para Ningrat di Dua Kota (2004)
  • GLOBALISM: Pergulatan Politik Representasi atas Bali (2005)
  • Mai Mabasa Bali: Kartun Strip Terpilih (2021)
  • Sastra Saraswati Sewana: Pamarisuddha Gering Agung (2021)
  • Mulát Sarira untuk Bali Bangkit (2021)
  • Nyapuh Tirah Campuhan (2023)
  • To ya Uriping Bhuwana Usadhaning Sangaskara (2023)
  • Usadha Siddhi (2023)
  • Wariga Siddhi (2023)
  • Jaladihi Smetri (2023)
  • Niti Raja Sasana: Tongkat Sastra Kepemimpinan Negeri (2024)
  • Brahmasara Bhawana Mukti: Teknologi untuk Kemajuan Peradaban (2025)

Karya-karya tersebut menunjukkan perkembangan pemikirannya dari isu politik dan masyarakat menuju wilayah kebudayaan, sastra, kepemimpinan, dan peradaban.

Organisasi dan Kehidupan Sosial

Selain menjadi akademisi dan praktisi pemerintahan, Ari Dwipayana juga aktif dalam organisasi. Salah satu peran pentingnya adalah sebagai Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA) selama periode 2014–2024. Keterlibatan dalam KAGAMA memperlihatkan perhatiannya terhadap penguatan jaringan alumni dan kontribusi perguruan tinggi bagi masyarakat.

Ia juga pernah terlibat dalam aktivitas sosial dan pemberdayaan melalui berbagai yayasan. Dengan demikian, kehidupan profesionalnya tidak hanya berpusat pada satu institusi, tetapi bergerak melalui berbagai ruang pengabdian.

Penghargaan

Berbagai pengabdian tersebut kemudian memperoleh sejumlah penghargaan. Di antaranya:

Bintang Jasa Utama – 2023. Pada Agustus 2023, Ari Dwipayana menerima Bintang Jasa Utama dari Presiden Republik Indonesia.

  • Bintang Legiun Veteran Republik Indonesia – 2024. Pada 2024, ia menerima Bintang Legiun Veteran Republik Indonesia. Penghargaan ini memiliki makna khusus karena pada kesempatan yang sama ayahandanya, Anak Agung Gde Raka, juga memperoleh penghargaan LVRI atas perjuangannya sebagai veteran. Momen tersebut menjadi simbol kesinambungan pengabdian antara generasi ayah dan anak.
  • Parama Bhakti Budaya – 2024. Pada tahun yang sama, Ari Dwipayana juga menerima Parama Bhakti Budaya dari Gubernur Bali sebagai bentuk penghargaan atas kontribusinya dalam bidang kebudayaan.
  • Penghargaan 2026. Perjalanan pengabdiannya terus memperoleh pengakuan. Pada 2026, Ari Dwipayana menerima Prajaniti Dharmaraja Award 2026 dari Prajaniti Hindu Indonesia. Dalam kesempatan tersebut ia menegaskan pandangannya bahwa Dharma Agama dan Dharma Negara tidak seharusnya dipertentangkan, tetapi saling menopang. 
  • Pada tahun yang sama, ia juga menerima KMHDI Award 2026 sebagai Tokoh Hindu Inspiratif, atas dedikasi dan kontribusinya terhadap kemajuan umat Hindu dan pembangunan bangsa. 
  • Dharmaraja Prajaniti Award 2026.
  • Sugriwa Award dari UHN Sugriwa tahun 2026

Warisan Nilai dari Ayah kepada Anak

Jika perjalanan hidup Ari Dwipayana dilihat secara lebih mendalam, terdapat sebuah benang merah yang menarik. Ayahnya, Anak Agung Gde Raka, merupakan generasi yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia secara langsung.

Ari Dwipayana hidup dalam generasi yang berbeda. Perjuangannya berlangsung melalui pendidikan, ilmu pengetahuan, kebijakan, pemerintahan, kebudayaan, dan pengabdian masyarakat. Dua bentuk pengabdian tersebut berada dalam konteks zaman yang berbeda, tetapi memiliki semangat yang sama: memberikan sesuatu bagi bangsa dan masyarakat.

Karena itu, penghargaan LVRI yang diterima keduanya pada 2024 memiliki makna simbolis yang sangat kuat. Seorang ayah menerima penghormatan atas perjuangan fisiknya pada masa kemerdekaan. Sang anak menerima penghormatan atas kontribusinya dalam kehidupan kebangsaan pada era modern.

Ubud sebagai Akar, Indonesia sebagai Ruang Pengabdian

Perjalanan Ari Dwipayana pada akhirnya dapat dibaca sebagai perjalanan dari Ubud menuju ruang kebangsaan.

Ubud menjadi tempat ia lahir dan tumbuh. Bali memberikan akar budaya dan identitas. UGM memberikan tradisi keilmuan. Dunia akademik memberikan kemampuan berpikir. Pengalaman pemerintahan memberikan pemahaman tentang negara. Sementara aktivitas kebudayaan memberikan ruang untuk kembali menyentuh akar kehidupan masyarakat.

Karena itu, meskipun pernah berada di lingkungan pemerintahan pusat dengan tanggung jawab nasional, perhatian terhadap Bali tidak pernah benar-benar terputus. Ia tetap kembali pada Ubud, pada Puri Kauhan, pada sastra, pada desa adat, dan pada kebudayaan.

Penutup: Sebuah Perjalanan Pengabdian

Biografi Anak Agung Gde Ngurah Ari Dwipayana pada akhirnya bukan hanya tentang jabatan dan penghargaan.

Ini adalah cerita mengenai perjalanan seorang anak Ubud yang tumbuh dari lingkungan budaya Bali, memperoleh pendidikan tinggi di UGM, menjadi ilmuwan politik, kemudian masuk ke pusat pemerintahan nasional, tetapi tetap menjaga hubungan dengan akar budaya dan masyarakatnya.

Ia mewarisi dari keluarganya sebuah ingatan tentang perjuangan. Dari pendidikan, ia memperoleh pengetahuan. Dari akademik, ia memperoleh tradisi berpikir. Dari pemerintahan, ia memperoleh pengalaman kebangsaan. Dari kebudayaan, ia memperoleh akar dan identitas.

Keempat unsur tersebut bertemu dalam satu perjalanan pengabdian.

Anak Agung Gde Ngurah Ari Dwipayana bukan hanya seorang akademisi yang masuk ke pemerintahan, tetapi seorang intelektual yang berusaha membawa pengetahuan ke ruang pengabdian dan membawa pengalaman pengabdian kembali ke ruang pengetahuan.

Dari Ubud ia berangkat. Melalui Yogyakarta ia ditempa.Di Jakarta ia mengabdi.Dan melalui Bali ia terus menemukan akar kebudayaan dan makna pengabdiannya.

Pada akhirnya, perjalanan tersebut dapat dirangkum dalam semangat yang menjadi semboyan yang tercantum dalam profilnya: “Satu Dharma • Satu Hati • Satu Tujuan.”

Sebuah semangat yang menggambarkan kesinambungan antara pengabdian kepada masyarakat, kebudayaan, agama, dan negara.

Daftar Pustaka

CV/profil resmi Ari Dwipayana dan UGM.

Departemen Politik dan Pemerintahan FISIPOL Universitas Gadjah Mada. (n.d.). Dr. Anak Agung Gde Ngurah Ari Dwipayana, M.Si. Universitas Gadjah Mada. [Profil Ari Dwipayana – DPP FISIPOL UGM]. https://dpp.fisipol.ugm.ac.id/dosen/dosen-ari-dwipayana/?utm_source=chatgpt.com Diakses pada tanggal 4 Oktober 2026.

Departemen Politik dan Pemerintahan FISIPOL Universitas Gadjah Mada. (2023, 24 Maret). Kuliah Alumni dan Praktisi DPP FISIPOL UGM: Ari Dwipayana. Universitas Gadjah Mada. [Kuliah Alumni dan Praktisi DPP UGM](https://dpp.fisipol.ugm.ac.id/kuliah-alumni-dan-praktisi-strategi-komunikasi-politik-presiden-republik-indonesia/?utm_source=chatgpt.com). Diakses pada tanggal 4 Oktober 2026.

Departemen Politik dan Pemerintahan FISIPOL Universitas Gadjah Mada. (n.d.). Dosen – AAGN Ari Dwipayana. Universitas Gadjah Mada. [Daftar Dosen DPP UGM](https://dpp.fisipol.ugm.ac.id/dosen/?utm_source=chatgpt.com). Diakses pada tanggal 4 Oktober 2026.

Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada. (n.d.). Profil dan kiprah Ari Dwipayana. KAGAMA.

Universitas Gadjah Mada. (n.d.). Ari Dwipayana: Curriculum Vitae. UGM Academia. [Curriculum Vitae Ari Dwipayana](https://ugm.academia.edu/AriDwipayana/CurriculumVitae?utm_source=chatgpt.com). Diakses pada tanggal 4 Oktober 2026.

Universitas Gadjah Mada. (n.d.). Ari Dwipayana ajak calon wisudawan ramaikan KAGAMA. Universitas Gadjah Mada. [Berita UGM tentang Ari Dwipayana](https://ugm.ac.id/id/berita/19045-ari-dwipayana-ajak-calon-wisudawan-ramaikan-kagama/?utm_source=chatgpt.com). Diakses pada tanggal 4 Oktober 2026.

ANTARA News. (2024, 21 Agustus). Ari Dwipayana terima anugerah Parama Bhakti Budaya dari Pemprov Bali. ANTARA News. [Artikel ANTARA tentang Parama Bhakti Budaya](https://www.antaranews.com/berita/4275855/ari-dwipayana-terima-anugerah-parama-bhakti-budaya-dari-pemprov-bali?utm_source=chatgpt.com). Diakses pada tanggal 4 Oktober 2026.

ANTARA News. (2026, 2 April). Mahasiswa Hindu anugerahi Ari Dwipayana sebagai tokoh inspiratif. ANTARA News. [Artikel ANTARA tentang KMHDI Award 2026](https://www.antaranews.com/berita/5507381/mahasiswa-hindu-anugerahi-ari-dwipayana-sebagai-tokoh-inspiratif?utm_source=chatgpt.com). Diakses pada tanggal 4 Oktober 2026.

ANTARA News. (2026, 12 Juli). Ari Dwipayana terima Prajaniti Dharmaraja Award 2026. ANTARA News. [Artikel ANTARA tentang Prajaniti Dharmaraja Award 2026](https://www.antaranews.com/berita/5646033/ari-dwipayana-terima-penghargaan?utm_source=chatgpt.com). Diakses pada tanggal 4 Oktober 2026.

Legiun Veteran Republik Indonesia. (2025). Majalah Veteran, Vol. I No. 04. Jakarta: DPP LVRI. [Majalah Veteran LVRI – Edisi No. 04](https://veteranri.go.id/wp-content/uploads/2025/06/majalah_edisi_ke_4.1.pdf?utm_source=chatgpt.com). Diakses pada tanggal 4 Oktober 2026.

Puri Kauhan Ubud. (n.d.). Puri Kauhan Ubud. Yayasan Puri Kauhan Ubud. [Situs Puri Kauhan Ubud](https://purikauhanubud.org/?utm_source=chatgpt.com). Diakses pada tanggal 4 Oktober 2026.

Tentang Penulis

Romo Kasmadi

Romo Kasmadi adalah akademisi, peneliti sejarah kuno, dan praktisi spiritual Hindu Nusantara yang berdedikasi menggali teks lontar serta filosofi Hindu bagi generasi muda. Ia menempuh studi Magister Dharma Acarya di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dan aktif sebagai kontributor literasi serta relawan dharma di Puskor Hindunesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Selamat Mahasabha IV PSN dari Puskor Hindunesia
Gabung Menjadi Relawan Dharma
Mengenal Hindu Tamil Sumatera Utara
SEKRETARIAT DEWAN NASIONAL
Jl. Kertanegara Gg. Indrapura No.2
Ubung Kaja, Kecamatan Denpasar Utara,
Kota Denpasar, Bali
Indonesia 80116
Phone : +62 817 975 3936
E-mail : puskor.hindunesia@gmail.com
Website : https://hindunesia.id
Translate »