Penyampaian Visi Misi Dua Calon Kuat KPH di Mahasabha XIII PHDI: Tawarkan Rekonsiliasi dan Transformasi
JAKARTA, Media Suara Hindunesia — Perhelatan Mahasabha XIII Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat memasuki babak yang sangat menentukan. Sidang paripurna kini berfokus pada penyampaian visi dan misi dari dua kandidat kuat calon Ketua Pengurus Harian (KPH), yakni Letjen TNI (Purn) I Nyoman Cantiasa dan Dr. Anak Agung Gede Ngurah Ari Dwipayana. Kedua tokoh nasional ini memaparkan gagasan besarnya di hadapan para peserta sidang untuk membawa arah baru bagi kelembagaan umat Hindu di Indonesia.
I Nyoman Cantiasa: Mewujudkan “Rumah Besar Hindu Nusantara”
Tampil memberikan pemaparannya, Letjen TNI (Purn) I Nyoman Cantiasa menyampaikan rasa terima kasihnya atas kepercayaan yang mendorongnya maju sebagai calon. Beliau memaparkan bahwa visi utamanya adalah mewujudkan PHDI sebagai “Rumah Besar Hindu Nusantara”. Visi ini lahir dari keprihatinannya setelah turun langsung mengunjungi lima provinsi, yakni Bali, NTB, Sulawesi Tengah, Kalimantan Tengah, dan Lampung.

Dalam kunjungannya tersebut, beliau melihat secara langsung kondisi umat Hindu yang tersebar, tercerai-berai, dan kebingungan menghadapi konflik, serta minimnya dukungan dana untuk anak-anak di lembaga pendidikan (pasraman/asrama). Untuk menjawab tantangan tersebut, beliau menegaskan dua misi utama kepemimpinannya:
- Membangun Sumber Daya Manusia (SDM): Fokus pada penyiapan kualitas umat dan generasi penerus Hindu.
- Meningkatkan Kesejahteraan Umat: Pemimpin harus mampu memberikan kesejahteraan yang nyata bagi umat dari akar rumput. Beliau juga menekankan pentingnya rekonsiliasi dan konsolidasi yang menyejukkan demi merangkul seluruh elemen umat Hindu.
Ari Dwipayana: Momentum Tumpek Wayang dan Transformasi “Panca Kerta”
Di sisi lain, Dr. Anak Agung Gede Ngurah Ari Dwipayana mengawali pemaparannya dengan memaknai hari penyampaian visi misi yang bertepatan dengan Saniscara Kliwon Wayang (Tumpek Wayang). Menurutnya, ini adalah momentum spiritual yang sangat tepat untuk melakukan penyucian diri (ruwatan) sekaligus membersihkan dan menata ulang apa yang perlu diperbaiki di dalam kelembagaan.

Dalam pidatonya, Dr. Ari Dwipayana menegaskan prinsip utamanya bahwa kepentingan umat harus ditempatkan di atas segala-galanya, melampaui kepentingan pribadi, kelompok, maupun jabatan. Untuk menakhodai PHDI, beliau menawarkan gagasan strategis berupa manifesto transformasi yang disebut “Panca Kerta” (lima agenda). Di antara poin krusial dalam gagasan tersebut adalah komitmen untuk memulihkan marwah kelembagaan, menjaga keutuhan Tri Angga organisasi, serta menempatkan Sabha Pandita (Sulinggih) sebagai organ tertinggi di Parisada. Beliau menekankan bahwa PHDI ke depan harus dikelola dengan cara berpikir yang cerdas, bertindak yang tepat, dan melayani umat dengan baik.
“Gentleman Agreement” dan Sinergi Dwi Tunggal
Satu hal yang sangat menyejukkan dari persidangan ini adalah komitmen persaudaraan yang ditunjukkan oleh kedua kandidat. Dr. Ari Dwipayana mengungkapkan bahwa ia dan Letjen Cantiasa telah memiliki gentleman agreement (kesepakatan kesatria). Sebagai sesama “bintang tiga” (Letjen Cantiasa di militer dan Dr. Ari Dwipayana di ranah sipil/pemerintahan), keduanya sepakat untuk saling mendukung siapa pun yang nantinya terpilih, dan siap bekerja sama sebagai dwi tunggal dalam pengabdian yang tidak bisa dipisahkan.
Penyampaian visi dan misi dari kedua tokoh besar ini memberikan harapan baru bagi umat. Kini, keputusan berada di tangan forum Mahasabha XIII untuk menentukan nakhoda yang akan membawa transformasi dan persatuan nyata bagi Hindu Nusantara.
Bangga, Bangkit, Bangun! JAYA HINDUNESIA!
FAQ – Pertanyaan Umum
Letjen TNI (Purn) I Nyoman Cantiasa mengusung visi utama untuk mewujudkan PHDI sebagai “Rumah Besar Hindu Nusantara”, dengan misi memperkuat kualitas SDM umat dan meningkatkan kesejahteraan dari akar rumput.
Dr. Ari Dwipayana membawa manifesto transformasi yang disebut “Panca Kerta” (lima agenda), yang salah satunya berfokus pada pemulihan marwah lembaga dan menempatkan Sabha Pandita sebagai organ tertinggi.
Penyampaian visi misi tersebut bertepatan dengan hari Tumpek Wayang, yang dimaknai oleh Dr. Ari Dwipayana sebagai momentum spiritual untuk penyucian diri dan penataan ulang kelembagaan majelis umat.
Kedua calon menunjukkan sinergi yang luar biasa melalui gentleman agreement untuk saling mendukung siapa pun yang terpilih dan siap mengabdi bersama sebagai dwi tunggal demi kepentingan umat Hindu.
















