Menyelisik Jejak Dharma di Tanah Deli: Hindunesia Zoom Kupas Tuntas Sejarah dan Tradisi Hindu Tamil Sumatera Utara
MEDAN, Media Suara Hindunesia – Kekayaan spiritual dan keberagaman tradisi dalam bingkai Hindu Nusantara kembali digaungkan secara masif ke seluruh penjuru Tanah Air. Pada Sabtu (17/10/2026), Pusat Koordinasi Hindu Indonesia (Puskor Hindunesia) sukses menyelenggarakan webinar Hindunesia Zoom – Seri Hindu Nusantara dengan tajuk istimewa “Mengenal Hindu Tamil (Sumut): Jejak Dharma, Peran Sosial, dan Harmoni di Tanah Sumatera Utara“.
Webinar yang didukung penuh oleh Binroh Hindu Telkom Group ini sedianya diagendakan berlangsung selama tiga jam. Namun, tingginya antusiasme serta hangatnya dialektika dari para peserta lintas daerah membuat forum diskusi interaktif ini berlangsung panjang dan mendalam hingga mencapai 4 jam 30 menit. Ratusan peserta yang hadir tidak beranjak, larut dalam kupasan sejarah, budaya, hingga peninggalan komunitas Hindu Tamil di Bumi Pertiwi.
Sambutan Tokoh dan Penegasan Visi Hindu Nusantara
Dipandu dengan apik oleh Kasmadi, S.Pd. selaku Pembawa Acara, forum ini menghadirkan para pilar penggerak umat. Acara diawali dengan penyampaian Sekapur Sirih dari Bapak Surya, Ketua PHDI Sumatera Utara. Beliau menyoroti kebanggaan atas eksistensi warisan leluhur Tamil di Sumatera Utara serta pentingnya sinergi untuk merawat pusaka kerohanian dan kuil-kuil bersejarah.

Dalam arahannya, Ketua Umum Dekornas Puskor Hindunesia, Dr. (HC) Ida Bagus K. Susena, S.Kom, kembali menegaskan fondasi filosofis pergerakan. Beliau menyampaikan bahwa Hindu Nusantara bukanlah sebuah teologi baru, melainkan payung besar kebersamaan yang merangkul segala keragaman dan warna-warni tradisi di bawah nilai universal Sanatana Dharma.
Menggali Akar Sejarah dan Perjuangan Identitas
Memasuki sesi inti, kendali forum diserahkan kepada M. Manogren MBP (Bendahara FKUB Sumut) yang bertindak sebagai Moderator. Dengan lugas, beliau menjembatani pemaparan mendalam dari narasumber utama, Drs. N. Siuaji Raja.
Drs. N. Siuaji Raja membawa peserta melintasi lorong waktu, mengulas sejarah kedatangan masyarakat India Selatan (Tamil) ke Nusantara. Interaksi panjang yang bermula dari masa perdagangan maritim di Samudra Hindia ini mencapai puncaknya pada eksodus gelombang ketiga di abad ke-19. Di masa tersebut, masyarakat Tamil bermigrasi secara masif ke Sumatera Timur (Medan dan sekitarnya) untuk menggerakkan roda ekonomi perkebunan.
Di tengah dinamika sosial era kolonial, komunitas Hindu Tamil terbukti gigih mempertahankan identitas keagamaannya. Salah satu monumen sejarah yang masih berdiri kokoh adalah Kuil Shri Mariamman di Medan yang dibangun pada tahun 1884. Situs ini bukan sekadar pusat spiritualitas, melainkan wujud nyata jangkar pelestarian budaya, arsitektur, dan harmoni di Sumatera Utara.

Sebuah Pesan Pemersatu
Selama empat setengah jam berdiskusi, forum juga membedah bentuk akulturasi linguistik, penyebutan istilah kekerabatan yang telah beradaptasi dengan budaya lokal, hingga tantangan pelestarian bahasa Tamil di kalangan generasi muda era modern.
Terdapat satu pesan filosofis dari narasumber yang menjadi roh dari diskusi panjang malam itu: “Akar di Tamil, Tumbuh di Sumatera, Bersama untuk Indonesia.”. Slogan ini menegaskan dengan indah bahwa Hindu Tamil bukan entitas yang terpisah, melainkan elemen utuh yang merekatkan dan memperkaya mozaik keluarga besar Hindu Nusantara.
Satu Keluarga, Satu Dharma, Banyak Warna. – Bangga, Bangkit, Bangun! JAYA HINDUNESIA!
FAQ – Pertanyaan Umum
Acara ini mengangkat tema “Mengenal Hindu Tamil (Sumut): Jejak Dharma, Peran Sosial, dan Harmoni di Tanah Sumatera Utara”. Fokus pembahasannya meliputi sejarah migrasi Hindu Tamil ke Nusantara, bentuk akulturasi budaya, eksistensi kuil bersejarah, serta tantangan generasi mudanya saat ini.
Webinar ini diisi oleh Drs. N. Siuaji Raja sebagai narasumber utama, dipandu oleh M. Manogren MBP selaku moderator, serta Kasmadi, S.Pd. sebagai pembawa acara. Acara juga diawali dengan sambutan dari Bapak Surya (Ketua PHDI Sumut) dan Dr. (HC) Ida Bagus K. Susena (Ketum Puskor Hindunesia).
Meskipun diagendakan berlangsung dari pukul 18.30 hingga 21.30 WITA (3 jam), tingginya antusiasme serta tanya-jawab interaktif lintas daerah membuat acara ini berlangsung sangat komprehensif selama 4 jam 30 menit.
Salah satu peninggalan paling ikonis yang disoroti adalah Kuil Shri Mariamman di Medan yang didirikan pada tahun 1884. Kuil ini menjadi bukti nyata eksistensi serta perkembangan ajaran Hindu Tamil di wilayah Sumatera Utara.
















