Pilih Halaman

Sekaa Tari Kawitan Dharma Nusantara Ngayah di Pura Payogan Mpu Sidhimantra dan Segara Rupek

Sekaa Tari Kawitan Dharma Nusantara Ngayah di Pura Payogan Mpu Sidhimantra dan Segara Rupek

Suara Hindunesia (Buleleng, 20 Juni 2026) – Wujud nyata pengabdian dan pelestarian seni budaya suci kembali ditunjukkan oleh keluarga besar Pusat Koordinasi Hindu Indonesia (Puskor Hindunesia). Sekaa Tari Kawitan Dharma Nusantara, yang bernaung di bawah Puskor Hindunesia, sukses melaksanakan kegiatan ngayah menari di dua pura bersejarah di Kabupaten Buleleng, yakni Pura Payogan Mpu Sidhimantra dan Pura Penataran Segara Rupek, pada Sabtu (20/6/2026).

Rangkaian kegiatan suci ini dimulai sejak pagi hari yang cerah. Rombongan Sekaa Tari telah berkumpul dan mematangkan persiapan di pelataran Pura Jagatnatha Denpasar sejak pukul 06.30 WITA, sebelum akhirnya bertolak menuju lokasi ngayah di Buleleng tepat pada pukul 07.00 WITA. Rasa syukur, kekompakan, dan semangat melestarikan seni budaya Hindu senantiasa mengiringi perjalanan panjang mereka.

Dalam kegiatan ngayah kali ini, Sekaa Tari Kawitan Dharma Nusantara mempersembahkan empat tarian sakral sebagai bentuk sujud bhakti (seva) kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Pada persembahyangan di Pura Payogan Mpu Sidhimantra, rombongan mementaskan tiga tarian agung, yaitu Tari Pemendakan, Tari Rejang Siwa Puja, dan Tari Rejang Ratu Niang. Perjalanan spiritual kemudian berlanjut ke Pura Penataran Segara Rupek, di mana para penari dengan gemulai dan tulus ikhlas mempersembahkan Tari Rejang Saraswati Puja.

Kehadiran sekaa tari ini mendapat sambutan hangat dan apresiasi mendalam dari para tokoh adat setempat. Bendesa Desa Adat Sumberkelampok, Jro Mangku Putu Artana, menyampaikan rasa terima kasihnya. “Kegiatan ngayah melalui seni tari sakral seperti ini merupakan sarana luar biasa untuk memperkuat Sradha bhakti umat, sekaligus fondasi dalam menjaga kelestarian tradisi dan budaya Hindu di Bali,” ungkapnya.

Rasa syukur turut diutarakan oleh Jro Manggis, selaku Jro Mangku Pura Payogan Mpu Sidhimantra. Beliau berharap persembahan tarian sakral ini dapat menyatu dengan vibrasi kesucian pura, sehingga turut menjaga keharmonisan dan kelancaran setiap pelaksanaan upacara.

Dari jajaran pengurus Puskor Hindunesia, Ketua Wanita Dharma Dekornas Puskor Hindunesia, Dewa Ayu Putu Tuty Setiarsih, S.Ag., M.Ag., menegaskan esensi dari kegiatan ini. “Kegiatan ngayah tidak hanya sebatas wadah pelestarian budaya semata, melainkan menjadi sarana pembinaan spiritual yang sangat efektif bagi para anggota. Seni tari sakral adalah media persembahan bernilai luhur yang wajib kita wariskan kepada generasi penerus,” tegasnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Ketua Dekorda Denpasar Puskor Hindunesia, Kasmadi. Beliau menilai antusiasme para penari menjadi bukti nyata komitmen pergerakan Puskor Hindunesia dalam membentengi adat, tradisi, dan kebudayaan Nusantara dari gerusan zaman.

Mengakhiri rangkaian acara, Ketua Sekaa Tari Kawitan Dharma Nusantara, Dra. Ni Nyoman Meitri, meluapkan rasa bangganya atas dedikasi tanpa lelah yang ditunjukkan oleh seluruh anggota sekaa. “Ini adalah panggilan hati. Ngayah yang sesungguhnya dilakukan dengan tulus ikhlas sebagai wujud bhakti murni. Kami berharap semangat kebersamaan persaudaraan ini terus menyala dan memotivasi umat lainnya,” pungkasnya.

Melalui langkah gemulai dan iringan tabuh sakral, Sekaa Tari Kawitan Dharma Nusantara kembali membuktikan bahwa pergerakan Hindu yang tangguh juga dibangun melalui keindahan seni dan pengabdian yang tanpa batas. (DA-DPA)

FAQ – Pertanyaan Umum

Siapa yang melaksanakan kegiatan ngayah tari sakral di Buleleng baru-baru ini?

Siapa yang melaksanakan kegiatan ngayah tari sakral di Buleleng baru-baru ini?

Di mana saja kegiatan pementasan tari sakral tersebut dilakukan?

Tarian sakral dipersembahkan di dua lokasi bersejarah di Kabupaten Buleleng, yakni Pura Payogan Mpu Sidhimantra dan Pura Penataran Segara Rupek pada hari Sabtu, 20 Juni 2026.

Tarian apa saja yang dipersembahkan oleh Sekaa Tari Kawitan Dharma Nusantara?

Ada empat tarian sakral yang dipentaskan. Di Pura Payogan Mpu Sidhimantra dipersembahkan Tari Pemendakan, Tari Rejang Siwa Puja, dan Tari Rejang Ratu Niang. Sementara di Pura Penataran Segara Rupek dipersembahkan Tari Rejang Saraswati Puja.

Apa makna dan tujuan dari kegiatan ngayah ini?

Selain sebagai bentuk pelestarian seni dan kebudayaan luhur Bali, ngayah merupakan wujud Sradha bhakti (pengabdian tulus) kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, serta menjadi sarana pembinaan spiritual bagi para penarinya.

Bagaimana tanggapan tokoh adat setempat terhadap kegiatan ini?

Tokoh masyarakat setempat, seperti Jro Mangku Putu Artana (Bendesa Adat Sumberkelampok) dan Jro Manggis (Pemangku Pura Payogan Mpu Sidhimantra) menyambut sangat positif. Mereka mengapresiasi keikhlasan sekaa tari yang telah ikut menjaga kesucian dan vibrasi upacara melalui tarian-tarian persembahan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hindu Wiwitan merupakan salah satu warisan spiritual leluhur Nusantara yang berkembang di tengah masyarakat Sunda dengan nilai-nilai kearifan lokal, penghormatan kepada alam semesta, leluhur, dan ajaran Dharma yang hidup secara turun-temurun. https://bit.ly/4oxYBR5
Translate »

Pin It on Pinterest

Share This