Mengangkat Miskonsepsi Pertanyaan Umat Tentang Sugihan Jawa atau Sugihan Bali
ARTIKEL Hindunesia — Dalam hiruk-pikuk persiapan menyambut Hari Raya Galungan, ada satu fenomena sosial yang hampir selalu muncul di tengah masyarakat Hindu Bali. Pertanyaan yang sangat fasih dan sering terdengar adalah: “Keluarga kalian mengambil Sugihan Jawa atau Sugihan Bali?”
Pertanyaan ini seolah mengisyaratkan bahwa kedua hari suci tersebut adalah sebuah pilihan ganda, di mana umat harus memilih salah satu berdasarkan garis keturunan atau tradisi keluarga. Namun, mengapa konsep ini bisa berkembang sedemikian rupa di masyarakat? Dan bagaimana sebenarnya kita harus menyikapi dan melaksanakannya?
Akar Miskonsepsi: Dari Filosofi Menjadi Sosiologi
Kesalahpahaman masyarakat mengenai Sugihan Jawa dan Sugihan Bali berakar dari pergeseran pemaknaan sejarah dan sosiologis di masa lampau. Banyak masyarakat yang mengaitkan istilah “Jawa” dengan keturunan Majapahit (Arya/Wong Majapahit) yang bermigrasi ke Bali, dan istilah “Bali” dengan penduduk asli pulau dewata (Bali Mula atau Bali Aga).
Akibatnya, muncul pemahaman keliru yang diwariskan turun-temurun, seperti misalnya keluarga yang merasa memiliki garis keturunan dari Majapahit cenderung “mengambil” atau hanya merayakan Sugihan Jawa. Sementara Keluarga yang merasa sebagai keturunan Bali asli (Bali Aga/Mula) cenderung “mengambil” atau hanya merayakan Sugihan Bali.
Perkembangan pemahaman ini membuat ritual yang sejatinya bersifat filosofis universal, menyempit menjadi sekat-sekat identitas sosiologis (soroh atau klan). Miskonsepsi ini terus berulang karena pemahaman literatur suci belum sepenuhnya membumi di kalangan masyarakat awam, sehingga masyarakat lebih berpegang pada “gugon tuwon” (mitos/kebiasaan turun-temurun) tanpa mempertanyakan maknanya.
Bagaimana Seharusnya Menurut Lontar Sundarigama?
Jika kita kembali merujuk pada susastra suci, khususnya Lontar Sundarigama, pertanyaan “pilih yang mana?” sesungguhnya kurang tepat. Sugihan Jawa dan Sugihan Bali bukanlah sebuah pilihan, melainkan sebuah rangkaian yang utuh dan berurutan. Dimana: Sugihan Jawa (Jaba/Luar): Dilaksanakan pada hari Wraspati Wage Sungsang untuk menyucikan alam semesta atau lingkungan (Bhuana Agung). Sugihan Bali (Wali/Dalam): Dilaksanakan pada hari Sukra Kliwon Sungsang untuk menyucikan diri sendiri, pikiran, dan jiwa (Bhuana Alit).
Sebagai umat Hindu yang memahami tattwa (filosofi), pelaksanaan keduanya seharusnya dilakukan secara berkesinambungan. Tidaklah logis jika seseorang hanya menyucikan alam lingkungannya tetapi membiarkan dirinya kotor, atau sebaliknya, menyucikan dirinya namun membiarkan tempat suci dan lingkungannya kotor.

Mengembangkan Kesadaran Baru di Masyarakat
Menyikapi fenomena ini, umat Hindu masa kini perlu membangun kesadaran baru (paradigma spiritual). Tidak ada larangan jika sebuah keluarga memiliki tradisi memasak atau membuat banten yang lebih besar pada salah satu hari Sugihan karena warisan leluhur. Menghormati tradisi leluhur adalah hal yang baik.
Namun, secara esensi dan praktik spiritual, umat harus mengimplementasikan kedua konsep penyucian tersebut. Pada saat Sugihan Jawa, gotong royonglah membersihkan pura, merajan, dan lingkungan pekarangan. Kemudian, pada saat Sugihan Bali, lakukanlah penyucian diri melalui penglukatan, persembahyangan, dan menenangkan pikiran.
Dengan memahami konsep Jaba (luar) dan Wali (dalam), kita tidak lagi terjebak pada dikotomi etnis atau garis keturunan. Sugihan Jawa dan Sugihan Bali adalah wujud keharmonisan spiritual yang mengajarkan umat Hindu Nusantara untuk senantiasa menjaga keseimbangan antara alam semesta dan diri manusia menjelang hari kemenangan Dharma.
FAQ – Pertanyaan Yang Sering Ditanyakan
Pertanyaan ini muncul akibat perkembangan sosiologis di mana sebagian masyarakat mengidentikkan “Jawa” dengan keturunan Majapahit dan “Bali” dengan penduduk Bali asli (Bali Mula/Aga). Hal ini memunculkan tradisi di mana sebuah keluarga merasa hanya perlu merayakan salah satu Sugihan sesuai garis keturunannya.
Tidak benar. Secara filosofis dalam Lontar Sundarigama, kata “Jawa” berasal dari kata Jaba (luar/alam semesta) dan “Bali” dari kata Wali (dalam/diri sendiri). Keduanya berlaku untuk seluruh umat Hindu tanpa memandang garis keturunan atau soroh.
Secara filosofis, keduanya adalah satu kesatuan rangkaian penyucian menjelang Galungan. Menyucikan Bhuana Agung (Sugihan Jawa) harus diikuti dengan menyucikan Bhuana Alit (Sugihan Bali). Sebaiknya umat melaksanakan makna dari keduanya, yakni membersihkan lingkungan dan menyucikan diri.
Tradisi dan warisan leluhur tetap bisa dihormati, misalnya dalam hal pembuatan banten atau perayaan keluarga. Namun, esensi dari kedua hari suci tersebut (membersihkan lingkungan pada hari Kamis dan membersihkan diri pada hari Jumat) harus tetap diimplementasikan secara nyata oleh setiap individu.






















