Pilih Halaman

Mengenal Prof DR I Nyoman Yoga Segara, S.Ag., M.Hum : Jejak Intelektual, Pengabdian, dan Kepemimpinan dalam Membangun Peradaban Hindu Nusantara

Mengenal Prof DR I Nyoman Yoga Segara, S.Ag., M.Hum : Jejak Intelektual, Pengabdian, dan Kepemimpinan dalam Membangun Peradaban Hindu Nusantara

“Ilmu pengetahuan tidak hanya bertugas menjelaskan dunia, tetapi juga membantu manusia memahami makna kehidupannya.” Kalimat ini menggambarkan arah perjalanan intelektual Prof. Dr. I Nyoman Yoga Segara, S.Ag., M.Hum., seorang akademisi yang sepanjang kariernya berusaha menjadikan ilmu pengetahuan sebagai jembatan antara tradisi dan modernitas, antara agama dan kebudayaan, serta antara warisan leluhur dan tantangan masa depan.

Sebagai guru besar antropologi budaya, peneliti, penulis, dan pemikir keagamaan, Pak Yoga Segara demikian Beliau biasa di panggil, telah menjadi salah satu figur penting dalam perkembangan studi Hindu Indonesia kontemporer. Pemikirannya tidak hanya hidup di ruang-ruang kuliah dan jurnal ilmiah, tetapi juga hadir dalam diskursus publik mengenai identitas budaya, moderasi beragama, pelestarian tradisi, dan pembangunan karakter bangsa.

Anak Pesisir yang Menjadi Cendekiawan

Kisah kehidupan I Nyoman Yoga Segara merupakan contoh bagaimana lingkungan sosial dapat membentuk seorang pemikir besar.

Lahir dan dibesarkan di Desa Serangan, dekat Pura Sakenan, Denpasar, Bali. Pura Sakenan merupakan Stana Sang Hyang Sandhijaya (Tatmajuja)/Ida Hyang Biswarna (Dewa Baruna), tempat pemujaan Mpu Kuturan dan Dang Hyang Nirartha, yang ramai dikunjungi saat Hari Suci Kuningan. Beliau tumbuh dalam masyarakat yang menjadikan laut sebagai sumber kehidupan sekaligus ruang perjumpaan budaya. Serangan sejak dahulu dikenal sebagai wilayah yang mempertemukan berbagai komunitas, pedagang, pelaut, dan tradisi yang berbeda.

Dalam lingkungan seperti itulah Yoga Segara kecil belajar mengenai keberagaman. Ia menyaksikan bagaimana masyarakat menjaga identitas budaya tanpa menutup diri terhadap perubahan. Ia melihat bagaimana agama bukan hanya diajarkan melalui nasihat, tetapi diwariskan melalui praktik hidup sehari-hari.

Upacara keagamaan, kehidupan banjar, semangat gotong royong, penghormatan terhadap leluhur, serta hubungan harmonis antara manusia dan alam menjadi sekolah kehidupan pertama yang membentuk kesadaran sosialnya.

Kelak, pengalaman masa kecil tersebut menjadi sumber inspirasi yang terus hadir dalam berbagai penelitian dan karya akademiknya.

Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan

Bagi Yoga Segara, pendidikan bukan semata-mata sarana memperoleh gelar akademik. Pendidikan adalah proses pembebasan pikiran dan perluasan cakrawala.

Ketika memasuki Universitas Hindu Indonesia, ia tidak hanya mempelajari teks-teks suci dan ajaran keagamaan, tetapi juga mulai mempertanyakan berbagai fenomena sosial yang terjadi di masyarakat.

Ia tertarik memahami mengapa agama dapat melahirkan solidaritas sosial, bagaimana tradisi diwariskan antargenerasi, serta mengapa masyarakat mempertahankan simbol-simbol budaya tertentu meskipun hidup di tengah arus modernisasi.

Kecenderungan intelektual tersebut mendorongnya untuk terus melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Di Universitas Indonesia, ia memperdalam filsafat dan kemudian antropologi, dua disiplin yang memberikan perangkat konseptual untuk memahami manusia secara lebih mendalam.

Dalam filsafat, ia belajar berpikir kritis. Dalam antropologi, ia belajar memahami manusia melalui pengalaman hidup dan kebudayaannya.

Perpaduan kedua bidang tersebut membentuk karakter akademiknya yang khas: reflektif, analitis, dan sekaligus humanis.

Menjelajahi Indonesia Melalui Penelitian

Salah satu keunggulan Yoga Segara sebagai akademisi adalah kedekatannya dengan realitas lapangan.

Sebagai peneliti di lingkungan Kementerian Agama Republik Indonesia, ia tidak hanya bekerja di balik meja. Ia turun langsung ke berbagai daerah untuk memahami kehidupan masyarakat secara nyata.

Perjalanannya membawanya mengunjungi berbagai komunitas keagamaan dan kelompok adat di Nusantara. Dari Bali hingga Kalimantan, dari Jawa hingga Indonesia Timur, ia menyaksikan kekayaan tradisi yang luar biasa beragam.

Pengalaman lapangan ini memperkaya perspektif akademiknya. Ia menyadari bahwa Indonesia tidak dapat dipahami hanya melalui pendekatan hukum atau politik. Indonesia harus dipahami melalui kebudayaan masyarakatnya.

Dari penelitian-penelitian tersebut lahirlah berbagai karya yang menyoroti:

  • Hubungan agama dan identitas budaya,
  • Dinamika masyarakat adat,
  • Transformasi tradisi keagamaan,
  • Pluralisme dan kerukunan,
  • Pendidikan karakter berbasis budaya,
  • Moderasi beragama.

Penelitian baginya bukan sekadar aktivitas ilmiah, melainkan bentuk pengabdian kepada masyarakat dan bangsa.

Antropologi sebagai Cara Memahami Agama

Salah satu kontribusi intelektual terpenting Prof. Yoga Segara adalah memperkenalkan cara pandang antropologis dalam memahami agama.

Dalam pendekatan ini, agama tidak hanya dilihat sebagai sistem kepercayaan, tetapi juga sebagai praktik sosial yang hidup dalam masyarakat.

Beliau sering menekankan bahwa untuk memahami agama secara utuh, seseorang perlu melihat:

  • Ritual yang dijalankan masyarakat,
  • Simbol-simbol budaya,
  • Hubungan sosial antarumat,
  • Nilai-nilai yang diwariskan,
  • Cara masyarakat memaknai kehidupan.

Pendekatan ini memungkinkan agama dipahami secara lebih kontekstual dan manusiawi.

Melalui perspektif antropologi budaya, Prof. Yoga Segara menunjukkan bahwa keberagamaan masyarakat Indonesia memiliki karakter yang sangat kaya karena selalu berinteraksi dengan tradisi lokal.

Pemikir Hindu Nusantara

Dalam perkembangan studi Hindu Indonesia, nama Prof. Yoga Segara sangat erat dengan gagasan Hindu Nusantara.

Baginya, Hindu Indonesia bukanlah tiruan dari tradisi luar, melainkan hasil proses sejarah panjang yang melibatkan dialog kreatif antara ajaran Hindu dan kebudayaan Nusantara.

Beliau menjelaskan bahwa ketika Hindu berkembang di Indonesia, ajaran tersebut tidak menghapus budaya lokal. Sebaliknya, terjadi proses saling memperkaya yang menghasilkan tradisi unik seperti:

  • Sistem desa adat,
  • Subak,
  • Berbagai bentuk kesenian sakral,
  • Ritual berbasis kearifan lokal,
  • Tradisi penghormatan terhadap alam.

Melalui kajian Hindu Nusantara, Prof. Yoga Segara berupaya memperkuat rasa percaya diri umat Hindu Indonesia terhadap identitas budayanya sendiri.

Moderasi Beragama dan Kebangsaan

Sebagai intelektual publik, Prof. Yoga Segara juga dikenal aktif mengembangkan gagasan moderasi beragama.

Ia memandang bahwa Indonesia dibangun di atas fondasi keberagaman yang harus dirawat secara terus-menerus. Oleh karena itu, pendidikan agama tidak boleh berhenti pada aspek ritual dan doktrin semata, tetapi juga harus membangun sikap toleran, terbuka, dan menghormati perbedaan.

Dalam berbagai forum akademik dan kebijakan, ia menekankan bahwa:

  • Agama harus menjadi kekuatan pemersatu,
  • Keberagaman adalah kenyataan sosial yang harus diterima,
  • Dialog lebih penting daripada konflik,
  • Kebudayaan dapat menjadi jembatan antarumat beragama.

Pandangan ini menjadikannya salah satu tokoh yang berkontribusi dalam penguatan narasi kebangsaan yang inklusif.

Riwayat Pendidikan dan Pekerjaan

Prof. Dr. I Nyoman Yoga Segara, S.Ag., M. Hum adalah staf pengajar dan Guru Besar Antropologi di Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar. Ia menamatkan S1 Sastra dan Filsafat Agama Hindu, Universitas Hindu Indonesia, S2 Ilmu Filsafat, Universitas Indonesia, dan S3 Ilmu Antropologi, Universitas Indonesia. Pernah mengajar di Bina Nusantara (Binus) University Jakarta, Universitas Katolik (Unika) Atmajaya Jakarta, Universitas Mercu Buana Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Hindu Dharma Nusantara Jakarta. Sebelum menjadi dosen, ia adalah Widyaiswara di Pusdiklat Tenaga Administrasi dan Peneliti di Puslitbang Kehidupan Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI. Prof. Yoga Segara juga merupakan :

  • Peneliti non muslim pertama di balitbang kemenag
  • Instruktur Nasional Moderasi Beragama
  • Tim penulis pidato Menteri Agama RI
  • Direktur Eksekutif Center for Dharmic Studies (2024-Sekarang),
  • Dan masih banyak lagi. Beliau dapat dihubungi melalui yogasegara@uhnsugriwa.ac.id.

Guru Besar yang Membina Generasi

Pengukuhannya sebagai Guru Besar Antropologi Budaya pada tahun 2021 di Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa, bukan hanya pengakuan atas prestasi akademik, tetapi juga atas dedikasinya dalam membina generasi muda.

Sebagai dosen dan pembimbing, Yoga Segara dikenal mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis sekaligus menghargai tradisi. Beliau meyakini bahwa pendidikan tinggi harus melahirkan sarjana yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial.

Melalui proses pembimbingan, ia telah membantu lahirnya banyak peneliti, akademisi, dan praktisi yang melanjutkan kajian-kajian mengenai agama, budaya, dan masyarakat Indonesia.

Produktivitas dan Karya Ilmiah

Dalam perjalanan akademiknya, Yoga Segara menghasilkan berbagai karya ilmiah berupa:

  • Buku referensi,
  • Artikel jurnal nasional,
  • Artikel internasional,
  • Modul pendidikan,
  • Hasil penelitian kebijakan,
  • Makalah seminar nasional dan internasional.

Tema-tema yang menjadi perhatian utamanya mencakup:

  • Antropologi agama,
  • Budaya Bali,
  • Agama lokal Nusantara,
  • Hindu Nusantara,
  • Moderasi beragama,
  • Pendidikan keagamaan,
  • Identitas budaya,
  • Transformasi sosial.

Melalui karya-karya tersebut, ia tidak hanya memperkaya khazanah akademik, tetapi juga menyediakan landasan ilmiah bagi berbagai kebijakan dan program pendidikan.

Filosofi Kehidupan

Di balik prestasi akademiknya, terdapat filosofi hidup yang sederhana namun mendalam: ilmu harus bermanfaat bagi kehidupan.

Bagi Prof. Yoga Segara, seorang akademisi tidak cukup hanya menghasilkan teori. Beliau harus hadir di tengah masyarakat, memahami persoalan nyata, dan memberikan kontribusi bagi penyelesaian masalah sosial.

Karena itu, sepanjang kariernya ia selalu berusaha menjaga keseimbangan antara:

  • Penelitian dan pengabdian,
  • Tradisi dan inovasi,
  • Spiritualitas dan rasionalitas,
  • Identitas lokal dan wawasan global.

Warisan untuk Masa Depan

Prof. Dr. I Nyoman Yoga Segara merupakan representasi cendekiawan Indonesia yang memadukan kedalaman spiritual, keluasan wawasan budaya, dan ketajaman analisis ilmiah. Melalui karya, pemikiran, dan pengabdiannya, ia telah membantu membangun fondasi intelektual bagi perkembangan studi Hindu Indonesia modern.

Warisan terbesarnya bukan hanya kumpulan buku atau artikel ilmiah, melainkan cara pandang yang mengajarkan bahwa agama, budaya, dan ilmu pengetahuan tidak perlu dipertentangkan. Ketiganya dapat berjalan bersama untuk membangun masyarakat yang beradab, toleran, dan berakar kuat pada nilai-nilai kemanusiaan.

Dalam perjalanan sejarah pendidikan tinggi Hindu di Indonesia, nama Prof. Dr. I Nyoman Yoga Segara akan dikenang sebagai salah satu tokoh yang berhasil mengangkat kajian Hindu Nusantara ke tingkat akademik yang lebih luas, sekaligus memperkuat peran ilmu pengetahuan sebagai sarana memahami dan memuliakan kehidupan manusia. #Rahayu

Disusun : Kasmadi, Mahasiswa S2 Prodi Dharma Acarya, UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar. Referensi : Data dari Prof. Dr. I Nyoman Yoga Segara dan berbagai sumber.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »

Pin It on Pinterest

Share This