Liputan Khusus: Gagaskan “Kurikulum Cinta”, Menag Nasaruddin Umar Buka Wawasan Keberagaman di Mahasabha XIII PHDI
Media Suara Hindunesia, Jakarta — Suasana sejuk dan penuh rasa persaudaraan mewarnai rangkaian acara Pembukaan Mahasabha XIII Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) di Jakarta. Kehadiran tokoh-tokoh penting negara, termasuk jajaran kementerian, anggota DPR/MPR, hingga pimpinan majelis lintas agama, menjadi wujud nyata harmonisasi kehidupan beragama di Indonesia.
Momen yang sangat menggugah dan menginspirasi seluruh hadirin tercipta saat Menteri Agama Republik Indonesia, Bapak Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A., diundang oleh pembawa acara untuk naik ke atas mimbar dan memberikan sambutan. Di hadapan Ketua MPR RI Bapak H. Ahmad Muzani, Ketua Umum PHDI Bapak Wisnu Bawa Tenaya, dan ratusan utusan umat Hindu dari seluruh penjuru Nusantara, beliau menyampaikan pesan kebangsaan yang sangat mendalam.
Mengembangkan “Kurikulum Cinta” di Tengah Masyarakat Plural
Dalam sambutan singkat namun sarat makna tersebut, Menteri Agama memberikan satu garis bawah (penekanan) yang sangat krusial bagi kehidupan berbangsa, yakni pentingnya mengembangkan “Kurikulum Cinta”.
Bagi beliau, pendekatan cinta kasih adalah kunci utama dalam merajut perbedaan. “Jika cinta sudah berbicara, maka semuanya akan ringan, semuanya akan terang, dan semuanya akan mudah,” tutur Bapak Nasaruddin Umar dengan nada penuh kebijaksanaan. Oleh karena itu, beliau mengajak seluruh elemen bangsa untuk terus memupuk rasa cinta yang sedalam-dalamnya di antara sesama manusia.

Dedikasi Memahami Umat: Mengkhatamkan Bhagavad Gita
Sebagai sosok pemimpin umat beragama yang inklusif, Menteri Agama mengungkapkan sebuah fakta yang mengundang decak kagum dari para peserta Mahasabha. Beliau secara terbuka menyampaikan dedikasinya dalam memahami literatur suci Hindu.
“Saya tahu persis, saya sampaikan tadi bicara bahwa saya sudah dua kali khatam baca Bhagavad Gita tadi sampai pagi,” ungkap beliau. Dari proses pembacaan kitab suci tersebut, beliau menemukan beberapa pasal yang menurutnya sangat penting untuk digarisbawahi dalam upaya mengembangkan masyarakat bangsa Indonesia yang sangat plural ini.
Kebanggaan Menjadi Bangsa Plural di Bawah “Bhinneka Tunggal Ika”
Menutup pesannya sebelum menyerahkan sesi arahan utama kepada Ketua MPR RI, Menteri Agama mengingatkan umat untuk senantiasa bersyukur dan berbangga hidup di bumi Nusantara.
Meskipun Indonesia diakui sebagai bangsa yang paling plural atau majemuk di kolong langit ini, bangsa ini tetap berdiri kokoh sebagai teladan dunia. “Kita Indonesia adalah sebuah negara yang patut untuk menjadi teladan di dalam meramu perbedaan itu menjadi satu kesatuan di bawah simbol yang sangat kita kenal, Bhinneka Tunggal Ika,” pungkas beliau.
Sambutan menyejukkan dari Menteri Agama ini seolah memberikan taksu tersendiri bagi jalannya Mahasabha XIII. Umat Hindu Nusantara menaruh harapan besar agar semangat “Kurikulum Cinta” ini dapat benar-benar terealisasi dalam setiap kebijakan pembinaan keumatan di masa depan.
Bangga, Bangkit, Bangun! JAYA HINDUNESIA!
FAQ – Pertanyaan Umum
Sambutan tersebut disampaikan secara langsung oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Bapak Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A.
Beliau menekankan dan menggarisbawahi pentingnya mengembangkan “Kurikulum Cinta”. Menurut beliau, jika cinta sudah berbicara, maka segala urusan akan menjadi lebih ringan, terang, dan mudah dalam merajut kemajemukan bangsa.
Menteri Agama mengungkapkan dedikasinya dengan menyatakan bahwa beliau telah dua kali khatam (selesai) membaca kitab suci Bhagavad Gita hingga pagi hari, guna menemukan nilai-nilai penting untuk mengembangkan masyarakat Indonesia yang plural.
Beliau menyatakan rasa syukur dan bangga bahwa meskipun Indonesia adalah bangsa yang paling plural di kolong langit, negara ini mampu menjadi teladan dunia dalam meramu perbedaan menjadi satu kesatuan di bawah semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
















