Mengenal Puskor Hindunesia: Wadah Perjuangan dan Pemberdayaan Umat Hindu Nusantara
Media Suara Hindunesia — Keberadaan lembaga swadaya yang independen dan berdedikasi tinggi sangatlah krusial dalam menjaga persatuan umat Hindu di tengah keragaman adat, tradisi, dan budaya di Indonesia. Pusat Koordinasi Hindu Indonesia, atau yang dikenal luas sebagai Puskor Hindunesia, hadir menjadi payung koordinasi sekaligus garda terdepan perjuangan umat Hindu Nusantara.
Sejarah dan Identitas Pergerakan
Puskor Hindunesia pertama kali digagas dan diinisiasi oleh DR (HC) Ida Bagus K. Susena, S.Kom. Secara de facto, embrio pergerakan ini telah dimulai sejak 25 April 2003 melalui sebuah entitas perkumpulan Sekaa Demen – Komunitas Suka Duka. Perkumpulan berskala nasional yang berpusat di Denpasar, Bali ini kemudian resmi diakui berbadan hukum secara de yure pada 15 Februari 2015. Dasar pergerakan lembaga ini ditopang kokoh oleh tiga fondasi utama: Perjuangan Hindu, Sosial Kemanusiaan, dan Pemberdayaan.
Visi Besar dan Misi Pengabdian
Puskor Hindunesia mengemban visi mulia untuk mewujudkan Hindunesia yang Santih (damai), Kertha (berkeadilan), dan Jagadhita (sejahtera). Visi ini dieksekusi melalui gerakan perjuangan yang terukur, solidaritas sosial kemanusiaan, serta pemberdayaan sumber daya Hindu guna menjaga tegaknya implementasi Tri Hita Karana.
Untuk mencapai visi besar tersebut, Puskor Hindunesia merumuskan 9 misi strategis, yang di antaranya meliputi:
- Membangun jaringan Puskor dan Relawan Dharma aktif di seluruh Indonesia.
- Mengembangkan sistem informasi Jagadhita (Jaringan Global Dharma Nusantara).
- Memperjuangkan keadilan dan kesetaraan umat dalam bingkai NKRI.
- Mengembangkan Gerakan Ekonomi Dharma berbasis gotong royong.
- Membangun kesadaran kolektif penguatan militansi dan solidaritas.
6 (Enam) Pilar Hindunesia
Sebagai cetak biru pergerakannya, organisasi ini berpegang pada 6 (Enam) Pilar Hindunesia yang menyentuh seluruh denyut nadi kebutuhan umat:
- MANARMA (Manawa Dharma): Bergerak di bidang Sosial Kemanusiaan.
- WARMA (Waisya Dharma): Menginisiasi Gerakan Ekonomi Dharma untuk kemandirian umat.
- DERMA (Dermawan Dharma): Menghimpun dan mengelola Dana Punia secara transparan.
- BHIMA (Bala Hindu Dharma): Berfokus pada advokasi dan Bela Dharma.
- WANARMA (Yowana Dharma): Mengayomi Pemuda dan Regenerasi kepemimpinan Hindu.
- NITAMA (Wanita Dharma): Memaksimalkan program Pemberdayaan Wanita.
Relawan Dharma (Radhar) dan Slogan Perjuangan
Ujung tombak dari seluruh program Puskor Hindunesia adalah para Relawan Dharma (Radhar). Mereka memiliki fungsi strategis sebagai pelopor perjuangan, pelayan Dharma yang tulus ikhlas, penggerak pemberdayaan, pekerja sosial kemasyarakatan, serta penyebar kesadaran di akar rumput.
Dalam menjalankan tugasnya, para relawan dipersenjatai dengan Moto Aksi yang sangat responsif: “PEKA” terhadap permasalahan, “TANGGAP” merespons dengan cepat, dan memberikan “SOLUSI” yang empati dan tepat guna. Keseluruhan napas pengabdian ini dibingkai dalam satu Slogan Gerakan yang membakar semangat: “BANGGA, BANGKIT, BANGUN”.

FAQ – Pertanyaan Umum
Puskor Hindunesia didirikan secara de facto pada 25 April 2003 yang berawal dari komunitas Suka Duka, dan resmi berbadan hukum secara de yure pada 15 Februari 2015 atas inisiatif penggagasnya, DR (HC) Ida Bagus K. Susena, S.Kom.
Visi utamanya adalah terwujudnya Hindunesia yang damai (Santih), berkeadilan (Kertha), dan sejahtera (Jagadhita) melalui gerakan perjuangan, solidaritas sosial, dan pemberdayaan sumber daya Hindu untuk menegakkan implementasi Tri Hita Karana.
Enam pilar tersebut mencakup MANARMA (Sosial Kemanusiaan), WARMA (Gerakan Ekonomi Dharma), DERMA (Dana Punia), BHIMA (Bela Dharma), WANARMA (Pemuda & Regenerasi Dharma), serta NITAMA (Pemberdayaan Wanita).
Relawan Dharma berfungsi sebagai ujung tombak organisasi dengan peran sebagai pelopor perjuangan, pelayan Dharma di masyarakat, penggerak pemberdayaan ekonomi dan sosial, penyebar kesadaran, serta penghubung informasi umat.

















