Evaluasi Kepengurusan PHDI: Pesan Kritis Marsekal TNI (Purn.) Ida Bagus Putu Dunia untuk Kemajuan Majelis Hindu
KARANGASEM — Perkembangan dan kesehatan kelembagaan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat membutuhkan perhatian ekstra dan pembenahan yang berkesinambungan. Hal ini ditegaskan secara lugas oleh tokoh Hindu nasional sekaligus mantan Kepala Staf TNI Angkatan Udara, Marsekal TNI (Purn.) Ida Bagus Putu Dunia. Dalam perhelatan Simakrama bersama Pengurus PHDI Pusat yang dihadiri oleh berbagai tokoh Hindu Nusantara di Karangasem pada 24 Oktober 2026, beliau memberikan pandangan kritisnya.
Beliau menilai bahwa evaluasi secara berkala merupakan langkah krusial untuk menjaga muruah, disiplin, dan laju organisasi ke depan. Menurutnya, langkah korektif wajib diambil sedini mungkin apabila terdapat persoalan dalam kepengurusan yang berpotensi menghambat perkembangan pelayanan majelis terhadap umat.

Analogi Pemeriksaan Kesehatan Berkala
Ida Bagus Putu Dunia mengibaratkan kelangsungan organisasi keagamaan layaknya anatomi tubuh manusia yang terus bergerak dan membutuhkan pemeriksaan kesehatan (check-up) secara rutin. Pemeriksaan ini idealnya dilakukan secara disiplin, baik setiap tiga bulan maupun satu tahun sekali. Melalui deteksi dini yang akurat, berbagai gangguan dapat diketahui lebih awal sehingga penanganan yang tepat bisa segera dieksekusi sebelum menjadi penyakit kronis.
“Kembali kepada PHDI, sama seperti diri kita, setiap tiga bulan atau satu tahun sekali cek up. Jika ada penyakit, disembuhkan, baru minum vitamin, supaya selalu sehat,” kata Ida Bagus Putu Dunia. Beliau mengingatkan bahwa persoalan mendasar dan penyakit di dalam tubuh organisasi harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum majelis merancang berbagai program peningkatan skala besar.
Menyiangi “Gulma” dalam Tubuh Organisasi
Untuk mempertegas urgensi pembenahan ini, beliau menggunakan ilustrasi aktivitas perawatan pertanian yang sangat dekat dengan realitas kehidupan masyarakat Nusantara. Seorang petani, jelasnya, harus memastikan tanaman padinya tumbuh subur melalui perawatan dan pemupukan yang berkelanjutan. Namun, yang tak kalah penting dari memberi pupuk adalah keberanian serta ketelitian dalam membersihkan gulma atau rumput liar yang mengganggu ekosistem lahan.
“Seperti petani yang menanam padi, jika ada gulma, cabut gulmanya dan semua rumput yang mengganggu pertumbuhan padi. Terus dirawat dan dipupuk, sehingga padi tumbuh subur,” tuturnya.
Perumpamaan tersebut menggambarkan bahwa membiarkan elemen perusak tetap hidup berdampingan hanya akan membuat daya dan sumber daya organisasi terserap sia-sia oleh benalu. Dalam konteks PHDI Pusat, Ida Bagus Putu Dunia menegaskan bahwa proses evaluasi tidak boleh mandek sebatas penilaian formalitas di atas kertas. Apabila ditemukan oknum pengurus yang secara nyata dinilai menjadi penghambat bagi kemajuan organisasi, langkah tegas berupa pergantian kepengurusan mutlak dipertimbangkan tanpa ragu.
“Seperti PHDI, perlu dievaluasi. Jika pengurus PHDI Pusat ada yang seperti gulma, perlu diganti,” tegas purnawirawan bintang empat tersebut.
Pandangannya menyoroti pentingnya keberanian moral melakukan introspeksi demi menjaga keberlangsungan organisasi yang sehat dan produktif. Kepengurusan yang bersih, tanggap, dan mampu menjalankan tanggung jawab dinilai menjadi faktor penentu kemajuan PHDI di masa depan. Melalui analogi ini, PHDI diharapkan terus bertumbuh prima, menata kelembagaan dengan rapi, dan menjalankan peran optimalnya sebagai pengayom sejati dalam melayani umat Hindu di seluruh Nusantara.
FAQ – Pertanyaan Umum
Marsekal TNI (Purn.) Ida Bagus Putu Dunia menegaskan bahwa kepengurusan PHDI Pusat harus dievaluasi secara rutin dan disiplin. Jika ada persoalan atau pengurus yang menghambat kemajuan organisasi, langkah pembenahan dan pergantian harus berani dilakukan agar kelembagaan tetap sehat.
Organisasi diibaratkan seperti anatomi tubuh manusia yang membutuhkan pemeriksaan (check-up) rutin setiap tiga bulan atau setahun sekali. Jika ditemukan “penyakit”, hal tersebut harus segera disembuhkan sebelum diberikan “vitamin” atau program pengembangan keumatan lanjutan.
Analogi gulma merujuk pada elemen atau pengurus internal yang bertindak sebagai benalu dan mengganggu pertumbuhan organisasi. Beliau menegaskan bahwa organisasi harus berani mencabut pengurus yang menghambat, agar program pelayanan umat dapat tumbuh subur dan daya organisasi tidak terserap sia-sia.














