Dialog Kritis Hindunesia Zoom: Kekuatan Tradisi dan Konsep Ketuhanan Hindu Tamil di Nusantara
MEDAN, Media Suara Hindunesia — Puncak perhelatan virtual Hindunesia Zoom – Seri Hindu Nusantara bertajuk “Mengenal Hindu Tamil (Sumut)” tidak hanya diwarnai oleh pemaparan sejarah yang memukau, melainkan juga sesi diskusi interaktif yang sangat mendalam. Sesi tanya jawab yang dipandu oleh moderator Pinandita M. Manogren MBP ini berhasil menyingkap esensi teologis dan perjuangan sosiologis komunitas Hindu Tamil untuk bertahan di Nusantara.
Dari berbagai pertanyaan kritis yang dilontarkan oleh para peserta lintas daerah, mengerucut dua topik utama yang menjadi refleksi penting bagi seluruh umat se-Dharma: pandangan universal mengenai konsep Ketuhanan dan kekuatan tradisi sebagai benteng pertahanan identitas.
Konsep Ketuhanan Universal: “Ondre Kulam Oruvane Devan”
Diskusi menghangat ketika Ibu Sri Kusuma Wardani, salah satu tokoh umat dari Bali, melontarkan pertanyaan mendasar mengenai terminologi tempat ibadah serta sebutan “Tuhan Yang Maha Esa” di dalam ajaran Hindu Tamil.
Merespons pertanyaan esensial tersebut, Drs. N. Siuaji Raja memberikan penjelasan teologis yang sangat inklusif dan merangkul. Beliau menekankan bahwa ajaran leluhur Tamil selalu memandang keberagaman manusia dari kacamata persaudaraan universal yang melampaui sekat-sekat etnis maupun agama.
“Ondre kulam oruvane devan. Itu artinya kita adalah ras-ras manusia yang ada di muka bumi ini. Tuhan itu satu,” urai Drs. N. Siuaji Raja dengan tegas. “Di sini tidak ada konsep kau agama A, agama B, agama C. Di sini kita tidak membicarakan suku, agama dan ras. Yang jelas kita adalah rasnya manusia dan juga kita mempunyai Tuhan satu… Wasudewa Kutumbakam. Jadi kita semua bersaudara.”

Tradisi dan Budaya sebagai Benteng Eksistensi Umat
Selain persoalan teologis, peserta juga sangat antusias menggali strategi survival (bertahan hidup) komunitas Tamil di tengah pesatnya modernisasi. Bapak Ketut Wirama, utusan dari Kabupaten Luwu Utara, Provinsi Sulawesi Selatan, mengungkapkan ketertarikannya mengenai bagaimana masyarakat Tamil mampu mempertahankan adat dan budaya aslinya sejak dibawa dari India Selatan hingga tiba di Nusantara.
Menjawab pertanyaan ini, Drs. N. Siuaji Raja memberikan pengakuan jujur yang sangat menggugah nurani. Beliau menyadari bahwa dalam banyak aspek politis atau struktural, umat Hindu minoritas kerap terpinggirkan. Namun, ada satu kekuatan mutlak yang tidak bisa dirampas, yakni tradisi warisan leluhur.
“Di sinilah kami kalanya. Jadi kami di sini hanya menang dengan tradisi dan budaya,” ungkap Drs. Siuaji Raja dengan penuh emosi dan kebanggaan. “Masyarakat Tamil itu, kencangnya itu dengan tradisi dan budaya. Itulah yang mengikat Hindu kita ini tetap ada. Dari rumah sampai keluar tradisi dan budaya itulah yang kami diajari sama leluhur kami, sama orang tua kami. Inilah yang kami bawa sampai hari ini.”

Menutup Dialog dengan Spirit Solidaritas
Diskusi yang penuh dengan pencerahan ini memberikan kesadaran baru bahwa kekayaan ritual dan keteguhan tradisi adalah modal utama menjaga eksistensi Hindu Nusantara.
Sesi malam yang sarat makna tersebut kemudian ditutup dengan penuh rasa syukur oleh moderator. “Terima kasih Pak Suaji… Bapak Ketut Wirama… Ibu Sri,” pungkas Pinandita M. Manogren seraya mengapresiasi partisipasi aktif seluruh elemen umat yang hadir. Sesi diskusi ini menjadi bukti nyata bahwa dialog lintas budaya mampu memperkokoh ikatan batin keluarga besar Hindu di Indonesia.
Satu Keluarga, Satu Dharma, Banyak Warna – Bangga, Bangkit, Bangun! JAYA HINDUNESIA!

FAQ – Pertanyaan Umum
Diskusi interaktif ini berfokus pada dua topik mendalam, yakni pemahaman universal mengenai konsep Ketuhanan dalam Hindu Tamil, serta bagaimana tradisi dan budaya menjadi benteng utama dalam mempertahankan eksistensi identitas umat di Nusantara.
Beliau mengutip pepatah suci “Ondre kulam oruvane devan”, yang bermakna bahwa seluruh ras manusia di muka bumi ini adalah satu kesatuan persaudaraan (Wasudewa Kutumbakam) dan Tuhan itu adalah satu, tanpa membeda-bedakan sekat suku maupun agama.
Menjawab pertanyaan dari peserta asal Sulawesi Selatan, Drs. N. Siuaji Raja menegaskan bahwa kekuatan utama masyarakat Tamil terletak pada keteguhan mereka memegang teguh tradisi dan budaya yang diajarkan oleh leluhur sejak dari dalam rumah hingga ke lingkungan sosial.
Kesimpulan utamanya adalah kesadaran kolektif bahwa meskipun umat Hindu di berbagai daerah menghadapi dinamika minoritas, kecintaan pada warisan budaya dan keterbukaan dialog adalah kunci untuk merajut persaudaraan Hindu Nusantara yang kokoh dan harmonis.
















