Liputan Khusus: Semarak Pembukaan Mahasabha XIII PHDI di Jakarta, Gaungkan Sinergi Negara dan Tuntutan Pemurnian Umat
Media Suara Hindunesia, Jakarta — Langkah penentu arah pembinaan umat Hindu Nusantara dalam lima tahun ke depan resmi ditabuh. Perhelatan agung Pembukaan Mahasabha XIII Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) sukses digelar dengan penuh kekhidmatan di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta.
Acara persidangan tertinggi umat Hindu ini membawa misi besar yang tercermin dalam temanya, yakni penguatan PHDI melalui sinergi Dharma Agama dan Dharma Negara menuju Indonesia Raya. Momen bersejarah ini dihadiri langsung oleh jajaran tokoh penting negara, di antaranya Ketua MPR RI Bapak H. Ahmad Muzani, Menteri Agama RI Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Enik Ermawati, serta deretan pimpinan majelis lintas agama.
Taksu Pembukaan: Persembahan Tari Tamansari
Sebagai angayu bagia dan wujud penghormatan kepada para tamu undangan, rangkaian acara diawali dengan suguhan seni budaya yang memukau. Para hadirin disambut oleh persembahan Tari Tamansari, sebuah tarian sakral yang dibawakan dengan gerak lembut, ritmis, dan penuh penghayatan oleh para penari perempuan diiringi Sekaa Gong Gita Mustika Budaya Cijantung. Tarian ini melambangkan ungkapan rasa syukur dan ketulusan bakti umat ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sekaligus simbolisasi persembahan sari bunga dalam menyambut para tamu.

Doa Suci dan Laporan Kepanitiaan
Suasana kemudian beralih menjadi hening dan khusyuk saat seluruh hadirin diajak untuk sujud bakti melantunkan doa. Doa pembukaan ini dipimpin langsung oleh Dharma Adyaksa PHDI Pusat, Ida Pedanda Nabe Gede Bang Buruan Manuaba, yang memohon kerahayuan jalannya Mahasabha.

Usai doa, acara dilanjutkan dengan penyampaian Laporan Ketua Panitia Mahasabha XIII oleh Letjen TNI I Nyoman Cantiasa, S.E., M.Tr.(Han). Beliau memaparkan kesiapan penuh panitia yang sebelumnya telah melakukan “belanja masalah” di akar rumput untuk memfasilitasi musyawarah ratusan utusan umat dari seluruh penjuru Nusantara.
Prosesi Simbolis Pemukulan Gong dan Pesan Kebangsaan
Puncak dari seremoni pembukaan ini ditandai dengan prosesi simbolis yang diiringi antusiasme luar biasa. Mahasabha XIII PHDI secara resmi dibuka melalui pemukulan gong oleh Ketua MPR RI, Bapak H. Ahmad Muzani.

Dalam prosesi tersebut, beliau didampingi di atas panggung oleh Menteri Agama RI, Dharma Adyaksa, Ketua Sabha Walaka, Ketua Umum Pengurus Harian PHDI Pusat Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya, serta Ketua Umum Panitia Mahasabha XIII – Letjen TNI I Nyoman Cantiasa. Dalam arahannya, Bapak Ahmad Muzani menegaskan bahwa “Dharma Agama dan Dharma Negara tidak bisa dipisahkan”, mengingatkan bahwa keimanan umat harus senantiasa berjalan selaras dengan kontribusi bagi penguatan NKRI.
Kehadiran Puskor Hindunesia: Kawal “Spirit 1959” dan Pemurnian Lembaga
Di tengah kemeriahan dan kekhidmatan peresmian tersebut, hadir pula mengawal jalannya persidangan, Ketua Umum Dekornas Puskor Hindunesia, Dr. (H.C.) Ida Bagus K. Susena, S.Kom. Meskipun hadir dengan status undangan peninjau, kehadiran beliau memikul mandat perjuangan riil yang tak main-main dari akar rumput.

Berbekal dokumen kajian kritis, Puskor Hindunesia menyuarakan 8 tuntutan mutlak bagi arah Mahasabha. Fokus utamanya adalah mendesak pengembalian PHDI pada “Spirit 1959”, yakni mengembalikan otoritas moral tertinggi murni ke tangan orang suci (Sabha Pandita), bebas dari cengkeraman politik praktis. Lebih dari itu, Puskor Hindunesia secara lantang menuntut sapu bersih lembaga di seluruh tingkatan dari pengaruh Kelompok Organisasi Transnasional Asing (KOTA), serta mendesak dibukanya ruang representasi yang berkeadilan bagi elemen Hindu Nusantara, termasuk Hindu Kaharingan, Hindu Tengger, Kejawen, dan Sunda Wiwitan.
Merajut Toleransi Lintas Agama di Atas Panggung
Di penghujung seremoni, momen persaudaraan kebangsaan diwujudkan melalui prosesi penyerahan cinderamata kehormatan. Cinderamata diserahkan kepada Ketua MPR RI dan Menteri Agama RI. Turut diundang naik ke atas panggung adalah para pimpinan majelis agama tingkat nasional, meliputi PGI, KWI, Permabudhi, Walubi, Matakin, MUI, PP Muhammadiyah, PBNU, Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI), dan Spiritual Indonesia.
Kini, gong telah ditabuh. Ratusan utusan bersiap memasuki ruang-ruang komisi persidangan untuk menentukan arah masa depan rumah besar umat Hindu Nusantara, diawasi lekat oleh sorot mata Relawan Dharma dari berbagai pelosok negeri.
Bangga, Bangkit, Bangun! JAYA HINDUNESIA!

FAQ – Pertanyaan Umum
Mahasabha XIII PHDI resmi dibuka melalui prosesi pemukulan gong oleh Ketua MPR RI, Bapak H. Ahmad Muzani, yang didampingi oleh Menteri Agama RI Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar dan jajaran pimpinan PHDI.
Mewakili suara akar rumput, Ketua Umum Puskor Hindunesia, Dr. (H.C.) Ida Bagus K. Susena, S.Kom hadir membawa mandat “Spirit 1959” yang menuntut pengembalian otoritas kepada Sabha Pandita, sapu bersih lembaga dari pengaruh kelompok transnasional (KOTA), dan perwujudan representasi Hindu Nusantara yang adil.
Acara dimeriahkan oleh persembahan Tari Tamansari, diiringi Sekaa Gong Gita Mustika Budaya Cijantung, yang melambangkan rasa syukur ke hadapan Sang Hyang Widhi Wasa serta ketulusan dalam menyambut tamu.
Cinderamata kehormatan diserahkan kepada perwakilan majelis nasional, antara lain PGI, KWI, Permabudhi, Walubi, Matakin, MUI, PP Muhammadiyah, PBNU, MLKI, dan Spiritual Indonesia.
















