Pilih Halaman

Calonarang Menggugat: Benarkah Ia Jahat, atau Sejarah Tak Pernah Memberinya Kesempatan Membela Diri?

Calonarang Menggugat: Benarkah Ia Jahat, atau Sejarah Tak Pernah Memberinya Kesempatan Membela Diri?

JAKARTA — Selama berabad-abad, nama Calon Arang lekat dengan gambaran perempuan berilmu hitam yang dikaitkan dengan malapetaka dan kejahatan. Namun, bagaimana jika kisah yang selama ini dikenal masyarakat itu dilihat dari sudut pandang yang berbeda? Bagaimana jika sosok yang dicap sebagai penjahat ternyata menyimpan kisah tentang ketidakadilan, marginalisasi, dan perjuangan mempertahankan martabat?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menjadi napas karya tari teater kontemporer “Calonarang Menggugat”, sebuah karya yang menghadirkan reinterpretasi atas salah satu legenda penting dalam khazanah sastra dan pertunjukan Bali. Karya ini tidak sekadar menghidupkan kembali cerita Calon Arang melalui gerak dan dramatika panggung. Lebih dari itu, Calonarang Menggugat mengajak penonton meninjau ulang narasi yang selama ini menempatkan Calon Arang sebagai tokoh antagonis, dengan membuka kemungkinan pembacaan dari perspektif seorang perempuan yang berhadapan dengan ketidakadilan sosial dan konstruksi budaya patriarkal.

Ketika Perempuan Menggugat Narasi Sejarah

Dalam karya ini, Calon Arang tidak semata-mata ditampilkan sebagai sosok penyihir yang menyebarkan malapetaka. Ia dihadirkan sebagai individu yang berjuang mempertahankan martabatnya di tengah sistem sosial yang menolak keberadaannya. Melalui pendekatan drama tari, berbagai peristiwa penting dalam kisah Calon Arang diterjemahkan menjadi simbol-simbol gerak yang merepresentasikan pergulatan batin, perlawanan, kehilangan, amarah, hingga pencarian keadilan. Tubuh, gerak, musik, dan komposisi panggung menjadi medium untuk menyampaikan kegelisahan sekaligus perlawanan terhadap stigma yang telanjur melekat pada seorang perempuan.

Karya ini menawarkan perspektif bahwa sebuah kisah tidak selalu cukup dipahami melalui pertentangan sederhana antara kebaikan dan kejahatan. Di baliknya, dapat tersimpan persoalan yang lebih kompleks mengenai relasi kuasa, konflik sosial, marginalisasi, serta siapa yang memiliki kewenangan menentukan seseorang sebagai pahlawan atau penjahat.

Menggugat Cara Pandang, Bukan Sekadar Menceritakan Legenda

Salah satu gagasan utama Calonarang Menggugat adalah mempertanyakan bagaimana sejarah dan mitos dibentuk serta diwariskan kepada generasi berikutnya. Gugatan dalam karya ini bukan ditujukan kepada tokoh tertentu, melainkan kepada cara pandang yang membentuk sejarah dari sudut pandang pemenang. Dengan demikian, karya ini membuka ruang refleksi mengenai kemungkinan adanya suara-suara yang selama ini tersisih atau tidak memperoleh tempat dalam narasi dominan.

Pendekatan tersebut menjadikan Calonarang Menggugat relevan untuk dibaca bukan hanya sebagai pertunjukan seni, tetapi juga sebagai ruang dialog kebudayaan. Karya ini mengajak penonton untuk tidak berhenti pada penilaian terhadap tokoh, melainkan berani mempertanyakan konteks sosial dan relasi kekuasaan yang melatarbelakangi sebuah cerita.

Dalam proses kreatifnya, karya ini menggunakan pendekatan Panca Sthiti Ngawi Sani sebagai ruang kerja kreatif yang mempertemukan gagasan, tubuh, intuisi, eksplorasi, improvisasi, komposisi, dan evaluasi. Pendekatan tersebut tidak diterapkan sebagai prosedur yang kaku, melainkan sebagai proses artistik yang memungkinkan lahirnya pencarian dan pemaknaan baru.

Membuka Ruang Tafsir Baru bagi Budaya Nusantara

Melalui Calonarang Menggugat, legenda yang telah lama hidup dalam tradisi Bali ditempatkan dalam dialog dengan persoalan sosial yang lebih luas, terutama mengenai posisi perempuan, stigma, ketidakadilan, dan hak untuk mempertahankan martabat. Karya ini tidak bermaksud menghapus atau meniadakan tradisi yang telah diwariskan. Sebaliknya, ia menawarkan kesempatan untuk berdialog dengan tradisi melalui pendekatan kreatif dan pembacaan kritis, sehingga warisan budaya tetap menjadi ruang pemikiran yang hidup.

Pada akhirnya, pertanyaan yang ditinggalkan pertunjukan ini bukan semata-mata apakah Calon Arang benar-benar jahat. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: siapa yang berhak menentukan seseorang sebagai penjahat, dan apakah suara mereka yang dikalahkan pernah sungguh-sungguh didengar? Melalui pertanyaan tersebut, Calonarang Menggugat mengajak publik melihat kembali sebuah legenda dari sisi yang mungkin selama ini luput diperhatikan. Sebab, terkadang yang perlu digugat bukan hanya tokoh dalam sebuah cerita, melainkan cara kita memahami dan mewariskan cerita itu sendiri.

Tim Kreatif

Karya tari teater kontemporer Calonarang Menggugat digarap oleh tim kreatif dengan komposisi sebagai berikut:

  • Koreografer, penulis naskah, dan sutradara: Ida Bagus K. Sudiasa
  • Asisten koreografer: Chika Aprilia, S.Pd. dan Amanda Tri Aprilia
  • Pengarah artistik: Indah Harie Jolianti
  • Asisten sutradara: Alia Nabila Putri, S.Pd.
  • Penata musik: Dr. Anussirwan, M.Sn. dan Yosep Abdul Rahman
  • Tata cahaya panggung: Herry W. Nugroho
  • Sound engineering: Hamal
  • Stage manager: Swesty Damar Jati

Calonarang Menggugat menghadirkan seni pertunjukan sebagai ruang untuk merawat tradisi sekaligus menguji kembali cara pandang terhadapnya. Sebuah ajakan untuk mendengar suara yang selama ini tertutup oleh stigma, menimbang kembali makna keadilan, dan membuka kemungkinan baru dalam memahami warisan budaya Nusantara.

Banner Calonarang Menggugat

FAQ – Pertanyaan Umum

Apa pesan utama dari pertunjukan Calonarang Menggugat?

Karya ini mengajak penonton untuk meninjau ulang narasi yang menempatkan Calon Arang sebagai tokoh antagonis murni. Pertunjukan ini membuka perspektif bahwa Calon Arang adalah korban marginalisasi dan ketidakadilan yang berjuang mempertahankan martabatnya di tengah sistem patriarki.

Siapa sutradara dan koreografer di balik karya Calonarang Menggugat?

Karya tari teater kontemporer ini disutradarai, ditulis, dan dikoreografikan oleh Ida Bagus K. Sudiasa, didukung oleh tim kreatif profesional di bidang tata artistik dan musik.

Pendekatan kreatif apa yang digunakan dalam menyusun karya ini?

Proses kreatif Calonarang Menggugat menggunakan pendekatan Panca Sthiti Ngawi Sani, yaitu sebuah ruang kerja kreatif yang mempertemukan gagasan, tubuh, intuisi, eksplorasi, improvisasi, komposisi, dan evaluasi.

Tentang Penulis

Ida Bagus K Susena

Dr. (HC) Ida Bagus Ketut Susena, S.Kom (akrab disapa Gus Susena) adalah seorang tokoh sosial keagamaan asal Bali yang dikenal sebagai Pendiri sekaligus Ketua Umum Dewan Koordinasi Nasional (Dekornas) Pusat Koordinasi Hindu Indonesia (Puskor Hindunesia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gabung Menjadi Relawan Dharma
SEKRETARIAT DEWAN NASIONAL
Jl. Kertanegara Gg. Indrapura No.2
Ubung Kaja, Kecamatan Denpasar Utara,
Kota Denpasar, Bali
Indonesia 80116
Phone : +62 817 975 3936
E-mail : puskor.hindunesia@gmail.com
Website : https://hindunesia.id
Translate »