Gagasan Strategis Puskor Hindunesia di Bappenas: Dari Jamuan Kehormatan Hingga Solusi Inovatif Palemahan Bali
JAKARTA, Media Suara Hindunesia — Kehormatan istimewa mewarnai agenda audiensi Pusat Koordinasi Hindu Indonesia (Puskor Hindunesia) di Kementerian PPN/Bappenas. Jajaran Dewan Pembina Puskor Hindunesia dan Ketua Umum Dekornas, Dr. (H.C.) Ida Bagus K Susena, S.Kom., secara khusus diundang untuk turut makan siang bersama Menteri PPN/Kepala Bappenas, Bapak Rachmat Pambudy.
Momen keakraban lintas kelembagaan ini turut dihadiri oleh jajaran petinggi kementerian, termasuk Sekretaris Umum Bappenas, yang menjadi pembuka jalan bagi diskusi strategis terkait tata kelola lingkungan dan inovasi energi alternatif. Dalam forum audiensi tersebut, Dr. (H.C.) Ida Bagus K Susena memaparkan gagasan komprehensif bahwa pengelolaan sampah harus dinilai sebagai satu sistem utuh, bukan sekadar pengadaan mesin. Beliau menekankan bahwa keberhasilan teknologi pengolahan sampah sangat bergantung pada keseluruhan rantai, mulai dari pengumpulan, biaya logistik, mutu produk, hingga kepastian pengguna akhir.

Evaluasi Logistik RDF dan Inovasi Batu Bara Sintetis
Ketum Dekornas membedah realitas ekonomi di lapangan, di mana biaya pengangkutan Refuse Derived Fuel (RDF) ke fasilitas pengguna menjadi komponen biaya yang sangat signifikan. Dengan kapasitas truk sekitar 8 ton per perjalanan, potensi perjalanan balik yang kosong akan semakin melonjakkan biaya logistik. Oleh karena itu, harga jual saja belum cukup untuk membuktikan kelayakan ekonomi tanpa mempertimbangkan kedekatan lokasi pengolahan dengan pengguna industri.
Mengambil rujukan dari pengalaman penerapan delapan unit mesin pengolah sampah di dua lokasi TPS di Kota Malang, Puskor Hindunesia mendorong pemerintah pusat untuk membuka ruang evaluasi teknologi lanjutan. Inovasi tersebut difokuskan pada produksi bahan bakar alternatif yang disebut batu bara sintetis. Puskor Hindunesia berharap teknologi ini dievaluasi secara objektif agar tidak hanya digunakan untuk co-firing, tetapi mampu menjadi substitusi bahan bakar yang lebih masif jika lolos uji mutu, nilai kalor, emisi, dan keamanan.
Untuk merealisasikan hal ini, diperlukan sinkronisasi kebijakan antara kebutuhan daerah dan pusat, termasuk kejelasan Norma, Standar, Prosedur, dan Kriteria (NSPK) dari kementerian teknis. Beliau juga menyinggung potensi kolaborasi melalui program LSDP yang melibatkan 9 kota dan 21 kabupaten terpilih, yang mekanismenya perlu terus dikawal.

Konteks Bali: Substitusi Energi dan Perlindungan Kawasan Suci
Menyentuh akar persoalan Palemahan di Bali, pemaparan tersebut mengangkat gagasan pengolahan sampah organik menjadi pelet bahan bakar alternatif. Langkah ini diproyeksikan mampu mengatasi 30-60 persen potensi sampah organik dari hulu sekaligus mengurangi ketergantungan masyarakat pada penggunaan kayu bakar.
Dr. (H.C.) Ida Bagus K Susena secara tegas mengingatkan bahwa penerapan teknologi apa pun di Bali wajib selaras dengan tata ruang dan perlindungan lingkungan. Harmonisasi dengan masyarakat sekitar serta penjagaan kesucian kawasan, termasuk perlindungan terhadap kawasan Pura Sakenan, menjadi syarat mutlak yang tidak bisa ditawar.
Langkah Kerja dan Proyek Percontohan
Menutup presentasinya di hadapan Menteri PPN Rachmat Pambudy dan jajaran Bappenas, Ketum Dekornas merumuskan peta jalan konkret untuk menindaklanjuti audiensi tersebut:
- Menyusun proposal teknis yang memuat profil teknologi, spesifikasi produk, dan kajian biaya per ton yang membandingkan skenario RDF secara transparan.
- Mengajukan permohonan evaluasi resmi kepada kementerian teknis untuk mendapatkan daftar persyaratan NSPK yang berlaku.
- Mengusulkan proyek percontohan di daerah yang didukung data sampah memadai serta calon pengguna akhir yang bersedia melakukan uji coba.
- Membangun konsorsium kolaborasi terpadu antara Puskor Hindunesia, pemerintah daerah, penyedia teknologi, laboratorium, dan industri pengguna.
Bangga, Bangkit, Bangun! JAYA HINDUNESIA!

FAQ – Pertanyaan Umum
Apa momen istimewa yang mengawali presentasi Puskor Hindunesia di Bappenas?
Dewan Pembina dan Ketua Umum Dekornas Puskor Hindunesia mendapat kehormatan undangan khusus untuk makan siang bersama Menteri PPN/Kepala Bappenas, Bapak Rachmat Pambudy, serta Sekretaris Umum Bappenas disela-sela agenda audiensi.
Apa kritik strategis Puskor Hindunesia terkait pengolahan sampah RDF?
Puskor Hindunesia menyoroti besarnya komponen biaya logistik pengangkutan RDF—terutama dengan truk berkapasitas 8 ton dan risiko perjalanan balik kosong—sehingga kelayakan ekonomi harus dihitung menyeluruh dari produksi hingga jarak ke pengguna akhir.
Apa inovasi teknologi yang didorong oleh Puskor Hindunesia dalam audiensi tersebut?
Puskor Hindunesia mendorong evaluasi objektif dan fasilitasi NSPK untuk teknologi yang mengolah sampah menjadi batu bara sintetis, agar dapat diuji sebagai substitusi bahan bakar yang aman secara lingkungan.
Bagaimana pendekatan khusus yang diusulkan untuk wilayah Bali?
Pengolahan sampah organik menjadi pelet bahan bakar alternatif diusulkan untuk mengurangi pemakaian kayu bakar, dengan syarat utama wajib memperhatikan tata ruang, kesejahteraan masyarakat sekitar, dan pelindungan kawasan suci seperti Pura Sakenan.















