Perkuat Solidaritas Lintas Iman: Puskor Hindunesia Hadiri Interfaith Disaster Resilience Forum 2026 di Bali
DENPASAR, Media Suara Hindunesia — Semangat kebersamaan antarumat beragama dalam menghadapi tantangan kebencanaan dan perubahan iklim menjadi perhatian utama dalam perhelatan Interfaith Disaster Resilience Forum 2026 yang berlangsung di BIM University, Denpasar, Bali, pada Sabtu (10/10/2026).
Kegiatan strategis yang mengusung tema agung “Konsolidasi untuk Kesiapsiagaan, Kolaborasi untuk Ketangguhan” tersebut diselenggarakan melalui sinergi antara Lembaga Resiliensi Bencana Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (LRB PWM) Bali bersama Perkumpulan Lentera Hijau Indonesia.
Pusat Koordinasi Hindu Indonesia (Puskor Hindunesia) turut mengambil bagian aktif dalam forum tersebut dengan mengutus Kasmadi, selaku perwakilan Rekornas Puskor Hindunesia, bersama Christina Pujiastuti. Kehadiran keduanya menjadi wujud nyata partisipasi organisasi dalam memperluas jejaring kerja sama lintas agama, terutama pada bidang kemanusiaan, kesiapsiagaan bencana, dan pelestarian lingkungan. Forum ini sukses menghadirkan berbagai unsur organisasi keagamaan, tokoh lintas iman, lembaga kebencanaan, serta pemangku kepentingan yang memiliki dedikasi terhadap pembangunan masyarakat yang tangguh dan berkelanjutan.

Rumah Ibadah Berpotensi Menjadi Penggerak Ketangguhan Masyarakat
Direktur Perkumpulan Lentera Hijau Indonesia, Syahrul Ramadhan, menempatkan kerja sama lintas iman sebagai salah satu pendekatan penting dalam memperkuat kemampuan masyarakat menghadapi ancaman bencana dan dampak perubahan iklim.
Dalam pandangannya, Syahrul menyoroti pentingnya membangun kesadaran kolektif bahwa persoalan kebencanaan dan kerusakan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan keterlibatan lintas sektoral. Menurutnya, komunitas keagamaan mempunyai kekuatan sosial yang dapat dikembangkan untuk memperluas pendidikan lingkungan, meningkatkan kesiapsiagaan, serta mendorong penggunaan energi ramah lingkungan.
Rumah ibadah—baik masjid, pura, gereja, vihara, maupun tempat ibadah lainnya—dinilai memiliki peluang besar untuk berperan sebagai pusat pembelajaran dan penggerak aksi sosial yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Melalui forum ini, diharapkan terbangun kesepahaman yang dapat ditindaklanjuti melalui program nyata, pemetaan kebutuhan komunitas, dan penguatan jejaring lintas agama.

Kasmadi: Kepedulian Lingkungan adalah Tanggung Jawab Spiritual
Sementara itu, perwakilan Rekornas Puskor Hindunesia, Kasmadi, memandang bahwa keterlibatan organisasi Hindu dalam forum kebencanaan lintas iman memiliki arti penting guna memperkuat nilai persaudaraan, kemanusiaan, dan tanggung jawab terhadap alam raya.
Kasmadi secara tegas mengaitkan upaya menjaga lingkungan dan membangun kesiapsiagaan bencana dengan ajaran luhur Hindu yang menempatkan keharmonisan kehidupan sebagai prinsip mendasar. Filosofi Tri Hita Karana, yang menekankan keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan (Parahyangan), sesama manusia (Pawongan), dan alam semesta (Palemahan), menjadi landasan nilai yang sangat relevan dalam membangun keselamatan masyarakat dan keberlanjutan ekosistem.
“Menjaga alam bukan semata-mata persoalan lingkungan, melainkan juga bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual yang perlu diwujudkan melalui tindakan bersama,” tegas Kasmadi.
Semangat tersebut sejalan dengan urgensi membangun kolaborasi antarorganisasi keagamaan tanpa memandang perbedaan keyakinan. Ketika terjadi bencana, nilai kemanusiaan dan solidaritas harus menjadi landasan utama dalam memberikan pertolongan serta memperkuat ketangguhan masyarakat.

Membangun Kesiapsiagaan melalui Kolaborasi Lintas Agama
Rangkaian Interfaith Disaster Resilience Forum 2026 memuat sejumlah agenda penguatan kapasitas masyarakat, mulai dari dialog aksi iklim dan kebencanaan inklusif, pembahasan pemanfaatan energi bersih berbasis rumah ibadah, hingga pemetaan kebutuhan komunitas keagamaan dan simulasi situasi darurat.
Salah satu gagasan utama yang dikembangkan adalah mendorong rumah ibadah menjadi bagian dari gerakan Pengurangan Risiko Bencana (PRB). Dalam konteks kehidupan masyarakat Hindu, pura dan kelembagaan komunitas keagamaan (seperti desa adat atau pasraman) memiliki potensi besar untuk turut mendukung edukasi ekologis dan penyebarluasan kesadaran menjaga keseimbangan alam.
Kehadiran Puskor Hindunesia dalam forum ini menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap penguatan kerja sama lintas iman sekaligus mempertegas kontribusi komunitas Hindu dalam ruang lingkup kemanusiaan. Semangat kolaborasi yang terbangun diharapkan mampu berkembang menjadi langkah nyata untuk mewujudkan masyarakat yang tangguh, peduli, dan harmonis demi generasi mendatang.
Bangga, Bangkit, Bangun! JAYA HINDUNESIA!
FAQ – Pertanyaan Umum
Forum lintas agama ini diselenggarakan untuk mengonsolidasikan kesiapsiagaan, kolaborasi, dan ketangguhan masyarakat antarumat beragama dalam menghadapi ancaman kebencanaan serta krisis perubahan iklim.
Puskor Hindunesia mengutus Kasmadi selaku perwakilan Rekornas bersama Christina Pujiastuti untuk memperkuat komitmen organisasi dalam bidang kemanusiaan dan lingkungan.
Puskor Hindunesia menekankan bahwa kepedulian terhadap alam merupakan tanggung jawab moral dan spiritual yang sejalan dengan filosofi Tri Hita Karana, yakni menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan Sang Pencipta, sesama manusia, dan alam semesta.
Forum ini mendorong agar seluruh rumah ibadah, termasuk pura, masjid, gereja, dan vihara, dioptimalkan tidak hanya sebagai tempat persembahyangan, tetapi juga sebagai pusat pembelajaran mitigasi bencana dan penggerak aksi sosial di tengah masyarakat.
















