Wamen Agama Resmi Tutup Mahasabha XIII PHDI: Puji Transisi Demokratis dan Titipkan Tiga Pesan Kebangsaan
Media Suara Hindunesia, Jakarta — Rangkaian musyawarah tertinggi umat Hindu Nusantara akhirnya mencapai garis akhir yang gemilang. Mahasabha XIII Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) tahun 2026 secara resmi ditutup oleh Wakil Menteri Agama Republik Indonesia, Bapak Dr. K.H. Romo R Muhammad Syafii, S.H., M.Hum., dalam sebuah prosesi yang penuh kehangatan dan rasa kekeluargaan.
Di hadapan para pimpinan majelis yang baru terpilih maupun demisioner, anggota legislatif, serta ratusan utusan dari seluruh Indonesia, Wamen Agama memberikan arahan kebangsaan yang sangat bernas, diwarnai dengan pujian tulus dan candaan segar yang mencairkan suasana persidangan.
Pujian dan Candaan Hangat: Demokrasi Tanpa “Hiruk Pikuk”
Mengawali arahannya, Bapak Romo Muhammad Syafii langsung mengundang tawa hadirin dengan membandingkan usia dirinya dan usia PHDI. “Dari data yang saya baca ternyata PHDI ini setahun lebih muda dari saya. Lahir 23 Februari 1959, saya lahir 58,” guraunya, seraya menegaskan betapa vitalnya peran organisasi ini dalam menghimpun peribadatan dan sosial umat Hindu.
Lebih lanjut, Wamen Agama memberikan apresiasi yang luar biasa atas kedewasaan berdemokrasi umat Hindu selama empat hari Mahasabha. Beliau memuji proses suksesi yang berjalan sejuk tanpa kegaduhan. “Enggak ada hiruk pikuknya di media, baik cetak maupun elektronik,” pujinya.
Bahkan, beliau menyisipkan sentilan jenaka terkait dinamika politik praktis masa kini. “Dan saya yakin setelah ini enggak ada yang diwajibkan mengembalikan uang kampanye. Karena yang demikian itu pernah terjadi baru-baru ini,” guraunya yang langsung disambut senyum dan tepuk tangan para peserta. Beliau juga menyanjung mekanisme serah terima pimpinan sidang kepada pengurus baru yang dinilainya sangat demokratis.
Landasan Pengetahuan dalam Manawa Dharmasastra
Sebagai intelektual beragama, Wamen Agama menunjukkan kedalamannya dalam memahami filosofi Hindu dengan mengutip langsung literatur suci Manawa Dharmasastra (Manusmrti) Bab 12 Sloka 111: “Traiwidyo Haitu Kastarkamair, Ukto Dharma Patnakah, Trayascasraminah Purwe, Parisat Syad Dasawara.”
Beliau memfokuskan pemaparannya pada kedalaman makna sloka tersebut, yang menegaskan bahwa sebuah Parisada (majelis) yang sah harus dibangun atas fondasi pengetahuan, kemampuan menalar (logika), dan pemahaman mendalam terhadap ajaran Dharma. “Kehadiran orang-orang yang memiliki pengetahuan, kemampuan menalar dan pemahaman keagamaan menjadi penting dalam memberikan pertimbangan bagi kehidupan umat,” jelas beliau, berharap keputusan Mahasabha benar-benar mencerminkan kebijaksanaan tersebut.

Tiga Pesan Krusial untuk Umat Hindu Nusantara
Dalam momentum penutupan tersebut, Wamen Agama menitipkan tiga arahan strategis bagi kepengurusan PHDI masa bakti 2026-2031:
Pertama, Perkuat Persatuan dan Konsolidasi Umat: PHDI harus menjadi ruang bersama yang mengelola perbedaan pandangan melalui dialog dan musyawarah. Beliau mencontohkan kebesaran jiwa Presiden Prabowo Subianto yang merangkul semua pihak usai kontestasi, sebagai teladan rekonsiliasi yang harus ditiru oleh PHDI demi kekuatan bangsa.
Kedua, Hidupkan Nilai Ekoteologi: Beliau meminta agar ajaran Tri Hita Karana, Tat Twam Asi, dan Yadnya tidak berhenti sebagai wacana, melainkan diwujudkan dalam kepedulian nyata terhadap lingkungan hidup (ekoteologi) agar umat Hindu dapat menjadi contoh bagi umat beragama lainnya di Indonesia.
Ketiga, Perkuat Kemitraan dengan Pemerintah: Memasuki era kepemimpinan global yang berfokus pada kepentingan nasional (national interest), kolaborasi dan kooperasi adalah kunci. Beliau memuji sejarah panjang PHDI yang selalu berkolaborasi harmonis dengan pemerintah, dari masa ke masa, demi kesejahteraan rakyat sesuai amanat Pasal 33 UUD 1945.

“Semoga Dharma senantiasa menjadi penerang dalam setiap langkah pengabdian kita,” ucap Bapak Wamen Agama sebelum secara resmi mengetuk mikrophone dan menyatakan Mahasabha XIII PHDI ditutup.
Langkah ke depan kini berada di tangan pengurus baru. Seluruh umat berharap tiga pesan kebangsaan ini mampu direalisasikan demi kejayaan Hindu Nusantara.
Bangga, Bangkit, Bangun! JAYA HINDUNESIA!
FAQ – Pertanyaan Umum
Perhelatan Mahasabha XIII PHDI secara resmi ditutup oleh Wakil Menteri Agama Republik Indonesia, Bapak Dr. K.H. Romo R Muhammad Syafii, S.H., M.Hum..
Beliau sangat mengapresiasi proses demokrasi dan suksesi kepemimpinan PHDI yang berjalan sangat sejuk, demokratis, dan tanpa adanya hiruk pikuk kegaduhan di media massa cetak maupun elektronik.
Mengutip Manawa Dharmasastra Bab 12 Sloka 111, beliau menegaskan maknanya bahwa sebuah majelis (Parisada) harus dibangun atas dasar pengetahuan, kemampuan menalar (ahli logika), dan pemahaman yang lurus terhadap nilai-nilai Dharma dalam melayani umat.
Wamen Agama menitipkan tiga pesan utama: (1) Memperkuat persatuan dan konsolidasi umat melalui rekonsiliasi; (2) Menghidupkan nilai-nilai ekoteologi (Tri Hita Karana) dalam tindakan pelestarian lingkungan nyata; dan (3) Memperkuat kemitraan kolaboratif dengan pemerintah demi national interest (kepentingan nasional).

















Trackback/Pingback